
Rico, lihat pengumuman ini! Bukankah ini fotomu? Pengusaha besar itu mencarimu ke segala penjuru negeri, bahkan berani memberi imbalan bagi siapa saja yang menemukanmu sebesar seratus juta rupiah. Rasanya aku yakin Hanum akan pingsan jika ia tahu.
"Lepas topengmu! siapa kamu sebenarnya?"
"Rico, aku siapa tidak harus berdebat. Karena aku adalah orang bayaran. Seorang pengusaha sepertimu yang sukses. Aku hanya mendapat bayaran, dan kau tahu aku menyukai istrimu. Jika kau dinyatakan meninggal. Apakah Hanum akan tetap setia. Hahahaha?"
"Stop omong kosong! istriku tidak akan percaya sekalipun kau membuat berita konyol kematianku."
Kedua mata Rico kesal membulat dan berdecak marah, saat pria itu membaca pengumuman di halaman depan koran tersebut. Dua polisi dan Erwin pasti akan sulit mencari titik lokasi Rico saat ini yang terjebak, benar benar ulah mafia.
"Kau lakukan apa?" teriak Rico dalam jeruji besi. Saat tangannya menempel, sengatan listrik mengalir.
"Sandiwara, kita lihat seberapa bisa kamu keluar dari ruangan ini?" tawa pecah seorang pria bertopeng, yang menertawakan Rico saat itu.
"Aku pasti akan menghukummu!"
"Silahkan saja. Hahahaha."
***
TERAS RUMAH
Hanum dengan cemas, ia melirik ke arah koran yang dipegang sang mama. Dari tadi koran itu teronggok di atas meja tak luput dari perhatian. Hanum yang sibuk dengan bayi bayinya.
"Mana lihat mah?" Hanum meletakan bayi mungilnya yang sudah terlelap berjejer di tempat tidur bersama dengan saudaranya yang lain.
Hanum membelalakan matanya melihat foto yang terpampang, di dalam pengumuman itu. Foto pria yang tengah tertidur dengan tertutup selimut itu benar benar dirinya.
"Rico Abraham, seorang pengusaha muda, CEO New Marco?" Hanum membaca tulisan di pengumuman itu.
"Ini pasti salah, mas Rico tidak mungkin meninggal. Berita ini pasti palsu."
"Hanum, ada apa?" Nazim malah terlihat cemas melihat Hanum yang ketakutan.
"Tolong aku, Nazim." Hanum meraih tangan temannya itu.
"Mas Rico yang asli pasti akan memberi kabar, dia pasti baik baik saja. Yang di koran ini adalah penipu, agar aku datang terpancing.
Mas Rico pasti selamat dan baik baik aja. Ia pasti sengaja agar aku ke lokasi." ujar Hanum.
Tak lama Erwin dan dua polisi datang, ia menjelaskan pada Hanum keberadaan Rico yang hilang. Dan aksi berita itu sengaja untuk memancing.
"Erwin, katakan pada market Marco jika mas Rico masih hidup, terutama papa Mark! dia tidak boleh tahu berita ini. Berita ini palsu!" cemas Hanum, menyembunyikan koran kala papa Mark datang dengan berjalan memakai tongkat.
"Besan, kita bicara di dalam saja!" ujar mama Rita pada Mark.
"Baiklah, kalian semua masuk!" lirih papa Mark.
***
Kediaman Daren.
"Tidak diragukan lagi Tuan, saya kenal siapa Hanum dan gadis seperti apa dia, dia adalah adik Lisa. Lisa tidak pernah berhubungan dengan pria lain selain Tuan. Kalau tidak percaya boleh melakukan tes DNA pada anak bernama Azri dia hasil anak tuan dengan Lisa BE, bukan dokter itu."
Darren mengalihkan pandangannya pada Vano. Pria gagah itu mengangguk.
"Saya sudah melakukan tes DNA sebelumnya dan bisa dipastikan bahwa bayi ini adalah anak kandung Tuan." Vano menyerahkan selembar kertas berisi keterangan yang mengukuhkan kalau Azri adalah benar anak kandungnya dengan Lisa.
"Apa kau benar mengenal Hanum, bagaimana saya bisa menemuinya tanpa pria di jeruji besi itu ikut campur?" Darren masih kurang begitu yakin.
Vano mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto foto dirinya dengan Lisa yang terlihat begitu akrab. Lelaki ini memang tidak mudah dikelabui. Pantas jika Lisa tidak begitu yakin untuk tinggal bersamanya. Sehingga ia menikah dengan seorang dokter bernama Fawaz.
"Lalu di mana Lisa sekarang?" Darren menatap tajam ke arah Vano yang malah terdiam.
"Sakit telah menewaskan Nona Lisa. Dia meninggal setelah beberapa hari melahirkan Tuan Muda. Bisa dipastikan Azri memang anak tuan dan Lisa, setelah menikah bersama dokter gila itu, Lisa merana dan ia pergi ke club, dan anak itu bisa dipastikan anak tuan, karena dokter Fawaz itu mandul!"
Darren membaca huruf demi huruf yang menyatakan kematian Lisa, gadis yang sudah menyita perhatiannya selama ini.
"Lisa meninggal?" Darren masih tidak percaya dengan berita yang ia terima.
"Tidak mungkin, Lisa tidak mungkin meninggal." Darren menggeleng dengan tubuh yang tiba-tiba oleng.
"Tuan!" Dengan sigap Vano menahan tubuh Tuannya yang hampir terjatuh.
Tak lama, ia meminta anak buahnya melepaskan pria bernama Rico, setelah ia berhasil menemui wanita bernama Hanum, dan meminta anaknya Lisa.
"Bodoh kalian! yang kalian tangkap itu bukan dokter gila, kalian semua tidak becus bekerja hah!" teriak Daren dengan penat ketika siuman.
"Maaf tuan! tapi anak buah sudah melepaskan pria bernama Rico. Tapi berita itu tersebar pria itu meninggal! saya rasa, pria bernama Rico mempunyai musuh."
"Apa kau bilang Vano? apa kau tuli hah! jika sampai terjadi sesuatu, kita orang pertama yang terlibat karena salah tangkap! kau bantu pria itu sampai ketemu dengan selamat! bagaimana juga kita salah sasaran! kau bodoh, aku menolongnya karena balas budi dia merawat darah dagingku!" ujar Daren.
Tbc.