
Hanum sudah kembali pulang. Rambutnya masih terjaga dengan lurus, saat membuka helm. Hingga Rico pamit dengan senyuman lesung pipi yang membuat semua iri, bahkan kaum Hawa sekalipun.
'Aah, so sweet. Kenapa lesungnya tidak pindah ke aku.' batin.
"Aku pamit dulu! besok aku hubungi kamu Han! kalau aku ada dadakan meeting. Kamu lebih dulu ke rumah sakit ga apa kan?"
"Ya! makasih, atas bantuan untuk Dewi."
"Sudah jadi tugasku! untuk semua karyawan yang kesulitan, akan ada jaminan dari kantor." jelas Rico.
"Baik sekali, perusahaan kamu pasti bakal banyak seluruh cabang akan ramai. Kalau tau bosnya saja dermawan, aku bakal kasih info ke Dewi. Kalau indomarco akan menyejahterakan karyawannya. Seperti musibah dalam keluarga bukan? anda pantas sukses."
"Tunggu! tidak semua Han, ada beberapa di cover dari bpjs. Tapi seperti Dewi itu pilihan."
"Kok gitu?"
"Gini ya! Hanum yang manis, kasus seperti Dewi itu adiknya kecelakaan. Jika saat kontrak kerja ikut asuransi, maka 40 % dari kantor akan mengeluarkan untuk kebutuhan pokoknya di luar biaya rumah sakit tercover. Jadi itu sudah tugas Erwin, kamu jangan ikut ikutan ya! takut salah penyampaian." senyum Rico, sedikit menggaruk alis.
"Ok! baik aku paham pak Rico."
"Jangan baku, aku ga suka kamu panggil pak."
Hal itu membuat bibir Hanum menggigit sedikit, entah kenapa saat acara makan nasi goreng pinggir jalan di atas motor. Membuat Hanum terbayang bayang, ia senyum kala tatapan Rico padanya membuat salah tingkah.
"Ric, kamu pulang ya. Udah jam dua malam nih, kamu bawa anak orang semalam ini."
"Ya! maaf ya. Salam sama mama kamu juga Lisa. Next ga lagi, kalau saat ini jam sembilan aku minta maaf sama mama kamu."
Hanum kembali kagum, ia melambai kala Rico telah memakai lagi helm dan pamit. Hanum kembali membuka dan menutup gerbang rapat. Lalu dengan santainya, ia masuk melupakan jaket kulit yang masih ia kenakan.
"Ya ampun. Jaketnya, tunggu kok ruangan kamar ka Lisa tiba tiba nyala, enggak. Aku harus umpetin ini jaket pak Rico. Jangan sampai ka Lisa lemes, apalagi bikin gosip kaya lambe gosip yang sukanya gosthing kehidupan orang." panik Hanum.
Ia melipat dan menyembunyikan di bawah kucuran kolam ikan. Di samping pot yang terlihat cantik, tertutup bunga anggrek. Hanum menepuk tangan, lalu merapihkan pakaian saat ia akan masuk ke dalam rumah.
"Dih, anak perempuan pulang pagi. Habis lembur apa ...?" melirik tajam.
"Maaf kak! aku udah bau apek ini, banyak kuman. Dari rumah sakit ketiduran, udah ya kak. Bye! makasih udah bukain pintu, sebelum aku ketuk. Kita sehati loh." senyum Hanum, ia berjalan miring masih mode menatap Lisa yang manyun.
"Gajelas! pasti kamu ngedate kan. Aku bilang mama kamu Han."
"Enggak kak. Beneran deh, besok aku beliin coklat satu kg ya. Biar kaka senyum terus."
Bruuugh!
"Ga mau coklat, nanti behel kaka rusak! kamu beliin seperangkat alat shalat aja." teriak Lisa, ia menutup pintu kamar.
Hanum, terdiam ia merasa bersalah. Masih mode menimang perkataan sang kaka. Benar dia mau mukena baru, insaf dia mau nutup aurat. Hanum yang bingung, ia lebih memilih istirahat karna rasa kantuk yang luar biasa.
Esok Hari.
Sarapan kala itu tidak terlihat berbeda, Lisa seperti biasa tanpa rasa marah atau rautan yang tidak jelas.
"Han, kamu semalam pulang jam berapa?"
"Benar begitu Lisa, adik kamu ga aneh aneh lagi kan?"
"Ga tau, Lisa tidur pules soalnya. Tanya sama anaknya aja mah." cetusnya.
Hanum merasa bersalah, kali ini terlihat Lisa benar benar marah padanya. Sehingga ingin menanyakan arti seperangkat alat shalat ia urungkan karna di depan mama. Sarapan bersama seperti biasa, Hanum dan Lisa pamit dengan menyalami tangan mama, juga mengecup pipi mama bersamaan. Lalu meninggalkan sang mama bersama mbok Surti.
Tapi sampai di luar, Lisa lebih dulu pergi tanpa menunggu Hanum. "Kaka kalau jaga jarak gini, bikin Hanum merasa bersalah deh." pikir Hanum, saat taksi kedua tiba.
Jam kerja seperti biasa, Hanum yang bekerja kali ini tidak fokus. Tidak biasanya Lisa cuek padanya. Sehingga Dewi dan Vita pun saat makan siang bertanya pada Hanum di kantin.
"Han, ada yang kamu pikirin ya?"
"Soal kakak gue, dia nyuekin gue. Kita emang sering kaya tom and jerry. Tapi solid kita itu ga kaya biasanya, kakak gue ngehindar soalnya. Ini ga kaya biasanya, gue bingung."
"Tunggu! soal apa dulu sih, ceritain dong Han."
Hanum terdiam, ia tidak berani menjawab. Lalu alarm segera berbunyi. Tanda jam kerja telah kembali, Hanum memegang bahu Dewi dan Vita untuk bersemangat lagi bekerja.
Sementara di ruangan Rico.
"Kamu sudah cari tau, kenapa wajahnya suram?"
"Begini! apa semalam pulang dengan wajah baik, atau wajah tidak semangat?" tanya balik Erwin, yang masih melihat Rico memperhatikan gerik Hanum bekerja lewat cctv, yang di sambungkan ke laptopnya.
"Tidak, dia bahagia sekali. Senyum malu."
Erwin seolah bingung dengan aksi bos, ia ikut berfikir dan bicara pada Rico. "Bagaimana panggil Hanum sekarang? bos tanyakan langsung dengan tanya secara empat mata. Saya akan suruh Selly bagian center memanggilnya!"
"Ah! benar, baiklah panggil dia sekarang juga." merapihkan jas dan dasi duduk tegak sekali. Bahkan bertemu klien saja tidak seperti itu.
Erwin mengangguk, sungguh dasar bos gila yang sedang jatuh cinta. Tapi dia juga yang di pusingkan, seolah menjadi dokter cinta yang setiap saat pasein mengeluh, dengan kesah yang bermacam macam.
"Kerjaan jadi double, gaji harus double juga kayaknya nih." lirih Erwin sambil menempelkan ponsel ketelinganya.
"Cepat! lima menit, jika kau gerutu. Maka aku tidak akan bayar gajimu tiga kali lipat!" ketus Rico yang berani memunggunginya.
"Heee! sabar bos, masih tersambung." unjuk Erwin ke ponselnya, saat menoleh ke tatapan Rico.
Perhatian! saudari Hanum, di persilahkan ke lantai tujuh! ruang Star.
Hanum yang mendengar, terlebih semua karyawan menatapnya aneh. Tak terkecuali Vita dan Dewi yang senyum menyenggol.
"Ciyee! ada apa lagi nih. Cepet sana, keburu ngamuk tuh bos kalau telat!" cercah Dewi.
"Iya, ada apa lagi ya ini? Aku keatas dulu ya!" Dewi dan Vita menunjuk ok pada jarinya.
Sementara Hanum keluar dari gudang, tepat gedung sebelah berdebar kali ini. Ia berusaha naik lift dan melihat seseorang yang tiba saja lift itu terbuka.
~ Bersambung ~