
Beberapa perjalanan, Irene tempuh. Ia berusaha mencari gedung resepsi Hanum. Ia berniat meminta bantuan pada keluarga Rico. Jika dirinya masih saja ditemukan oleh pria bernama Peter dan memohon agar dirinya tinggal, meski hanya bekerja sebagai pembantu. Irene tahu hanya keluarga Mark, yang bisa membantunya lagi.
"Pria sialan sepertimu, benar benar membuatku gila. Bahkan kontrakan kecil ini saja. Kau masih berusaha mencariku." gumam Irene, kala dirinya terkunci di bawa oleh Peter.
"Makannya, kubilang apa. Makan itu cinta. Lima tahun menjalin hubungan dengan Alfa, tapi bodoh sekali kau mengatas namakan semua aset dengan namamu, akhirnya sudah di rubah lagi kan?"
"Itu urusanku, kenapa kau selalu saja membuntutiku! lepasin aku Peter!" pinta Irene
"Katanya biar kau tak main pria dan tak selingkuh. Ehhh, dia juga yang membuangmu padaku. Cinta boleh lah, tapi jangan bodoh." Peter mulai menceramahinya lagi.
Sejak kehidupan Irene terpuruk, entah sudah berapa ratus kali kalimat yang sama itu diucapkan Peter. Peter berusaha Irene sadar, kala dirinya masih menjalin dengan Alfa, ia bermain kura kura dengan Elmo.
"Dari mana kau tau, please! hentikan semua ini. Aku ingin kembali menata hidup. Tapi tidak denganmu!"
"Kau jangan dekati keluarga Mark, ataupun Jhonson lagi Irene. Jika kau tidak mau mati di sini juga."
"Bukankah wanita yang akan di nikahi Rico, adalah Hanum. Wanita yang hampir dijodohkan olehmu dulu. Besok mereka akan menikah, bagaimana jika kita hadir untuk memastikan. Dia wanita yang kamu cari?" alibi Irene.
"Tutup mulutmu! aku harus membeli pelajaran padamu, aku harap jangan ganggu keluarga Mark atau pun Jhonson. Tidak peduli masa laluku dan masa lalumu. Ingat adikmu di hidupi oleh Elmo, Elmo sudah tidak berkerja pada keluarga Jhonson. Kau wanita yang hanya memikirkan dirimu saja."
Irene terdiam, perkataan Peter memang tidak salah. Tapi dirinya ingin menata hidup baik. Dan keluarga Mark, bantuan pria bernama Rico mampu membuat Peter untuk pergi dari hidupnya. Jujur saja kebaikan Elmo tetap saja hanya Alfa di hatinya.
"Kenapa diam, kau ingin meminta bantuan dengan siapa? Rico, atau menemui Alfa. Ingat, itu tidak akan berpengaruh jika aku katakan pada mereka. Kamu pernah menjahati Hanum, kamu yang membuat kecelakaan pada Hanum. Kamu berkomplot dengan Adelia kan?" tawa Peter.
"Kau tidak punya bukti Peter." elak Irene, meniup poninya. Dan menatap jendela mobil.
Berbeda hal dengan Rico.
"Sekali lagi sidang dan putusannya keluar. Pengacara yang mengurusnya, aku tak perlu datang." Rico mengatakan pada Erwin, sambil memasukkan kembali surat dari jaksa.
Rico yang memakai kaos hitam polos itu melepas bajunya, memperlihatkan otot ototnya yang kekar dan terbentuk. Jendela balkon terbuka sehingga tampak terlihat bagi Alfa dari arah seberang, dengan benda mirip kamera yang mengintai. Alfa ingin memastikan jika Hanum benar benar bahagia.
Erwin sering bilang kalau Rico itu badannya bagus, tapi wajahnya tak mendukung baby face. Ia juga tahu Alfa, Rico dan Fawaz satu sekolah dengan berbeda jurusan. Namun terpecah di usia mereka yang menginjak sekolah abu abu. Erwin lebih tau, karena dirinya bekerja dengan Tuan Mark sudah puluhan tahun.
Alfa juga tahu diri. Ia tak tampan, malah cenderung kurang. Mungkin itu yang membuat Irene selingkuh dan berpaling pada Elmo yang mantan model sebelum menjadi asistennya. Namun saat ini, ia sangat menyesal ketika wanita yang dikirimkan oleh sang mama, ia sia siakan. Dan saat ini dengan teleskop nya, ia melihat jelas Hanum dan Rico yang terlihat sedang menyiapkan sebuah acara bahagia.
"Pergilah, Elmo. Jangan mengomeliku. Aku akan mandi lalu pergi mencari pinjaman sekaligus pekerjaan apapun yang ditawarkan padaku." Alfa mendorong Elmo yang baru mendapatkan pekerjaan seminggu itu dengan kesal.
"Baiklah! Alfa, aku hanya bisa membantumu sampai sini."
"Ya, aku tau. Kau mengurus adik kecil itu. Aku terharu, kau menyukai Irene bekas banyak pria. Dan saat ini, kau menolongku dan memberikan aku uang. Ambil saja uangmu! aku hanya butuh tempat tinggal, aku bisa pulang diam diam menemui mama." jelas Alfa.
Baru saja Elmo akan keluar dari sana, seorang Ibu ibu berbaju hitam dengan manik manik cerah dan bersanggul tinggi itu menghadangnya.
Elmo membulatkan matanya karena terkejut. Ibu ibu bermakeup tebal itu adalah pemilik gedung yang ia sewa saat ini. Elmo keluar dari kediamannya, karena Alfa meminta bantuan tempat tinggal.
Dulu saat Alfa masih sukses, sikapnya manis sekali. Sekarang setelah ia jatuh miskin, sikapnya berbalik jadi gila semena mena.
Alfa keluar ke pintu dan menampakkan diri. Ia pakai kembali kemejanya. Untuk melihat keributan di luar.
"Ada apa ya Bu Anik?" tanyanya heran.
Dilihatnya di belakang Bu Anik ada seorang laki laki bersetelan rapi dengan tangan sebelah dimasukkan ke dalam saku kemejanya. Seperti tampilan orang kaya.
"Kamu ngapain masih di sini? Kata kamu nggak mau memperpanjang kontrak karena nggak punya uang. Sana pergi. Ruko ini sudah saya sewakan kepada orang lain. Mulai hari ini kamu keluar!" Bu Anik berkata dengan lantang pada Elmo, jujur saja Alfa saat ini menumpang pada kontrakan Elmo.
Alfa menatap Elmo dengan bingung. Alfa juga bingung. Alisnya terangkat naik sambil berpikir.
"Loh, bukannya jatuh temponya akhir bulan? Ini masih tanggal 20. Saya masih punya waktu 10 hari lagi," kata Elmo menjelaskan.
"Nggak bisa. Pokoknya bawa barang barang kamu keluar dari tempat ini sekarang!" Bu Anik. bersikeras.
"Berapa uang kontrakan ini perbulan?" ketus Alfa.
"Empat juta lima ratus perbulan." cetus bu Anik.
"Besok pagi! saya penat, kasih waktu sampai besok! saya akan bayar enam kali lipat."
"Hooh, siapa kamu. Saya butuh uangnya sekarang!"
"Pagi atau tidak saya bayar enam kali lipat."
"Ok! aku tunggu, besok pagi. Janji ya Enam kali lipat." bu Anik menatap tajam.
"Ya! enam kali lipat untuk enam bulan. Saya lunaskan!" cetuk Alfa dan menutup pintu.
Enam kali lipat untuk enam bulan? bu Anik berfikir keras dan mengrenyitkan pada tatapan Elmo.
Sementara Elmo menahan keringat dingin, pendengarannya salah dengar. Bukankah Alfa tak punya uang sepeser pun. Lalu dengan beraninya. Elmo bicara baik baik pada pemilik kontrakan dengan elegan.
"Bu, saya memang lupa bicara. Pria di dalam akan menempati pengganti saya. Berikan pria di dalam waktu sampai esok."
"Hah! awas saja jika sering terlambat ya!" ancam bu Anik dengan kesal.
Elmo dengan sengaja, ia lalu menghubungi Erwin. Jika ia sudah melakukan pekerjaan semestinya. Tugasnya sudah selesai, dan memastikan jika Alfa tidak akan mengacau di pernikahan esok.
"Saat ini Alfa, menghuni lostmen. Tepat pada jendela dan kamar Rico." ucap Elmo.
"Baiklah! pastikan agar dia tidak datang, dan melakukan sesuatu!" titah Erwin.
Erwin menutup panggilan, lalu ia memberitahukan pada Rico yang masih duduk di kursi santai dengan mengenakan singlet hitam, sedang membaca buku.
Tbc.