
"Kau bawa aku kemana? perhatikan sikapmu Alfa! suamiku pasti mencariku?"
"Suamimu adalah papaku! papaku sudah terlalu renta, jika mengurus wanita macam dirimu. Itu tugasku! kau sengaja mendekati papaku karena dia sudah bau tanah, mana bisa memberikanmu perhitungan! ingat, masalah kita adalah, kau beraninya masuk kedalam keluarga Jhonson! sudah berapa banyak kau ambil milik mamaku? belum lagi, kau bisa berlibur keliling dunia, memakai perhiasan dan baju milik mamaku!"
"Aku tidak asal, semua sudah ijin dari suamiku Jhoni. Alfa turunkan aku sekarang juga!"
Alfa hanya tertawa, setidaknya setiap polisi sudah dalam genggamannya. Ia bisa membungkam beberapa polisi, yang jelas ia melakukan pada Adelia saat ini bukan karena kejahatan semata, melainkan balas dendam agar hidupnya tentram.
Teriakan Adelia tidak akan terdengar, kala mobilnya adalah lapisan mewah kedap suara, mobil anti peluru dan tak terlihat jika dari luar, apalagi saat ia berhenti mengisi bensin. Berkali kali Adelia ingin lepas, tapi tetap saja tak bisa. Alfa sudah melakukan segala keamanan, agar misi untuk membereskan Adelia sempurna.
"Alfa, kau melakukan ini demi membela Hanum kan?"
"Tutup mulutmu! urusanmu dengan mereka, aku tidak peduli. Sudah ku katakan, masalah kau dan aku itu apa haaah?!" cengkram Alfa, menarik rambut belakang Adelia dengan keras, terlihat Adelia ketakutan dan menangis.
"Aku tahu, Leo itu bukan anakmu kan? jadi jangan berpura pura lagi, anakmu sudah mati, kau buang ke dasar sungai! dan kau pungut anak dari panti. Semua karena kau ingin mendapat perhatian, sebelum paman Mark mengadopsimu kan. Hahahha, Adelia begitu liciknya kamu. Jadi jika aku memotong urat nadimu, aku tidak perlu kasihan pada anak berusia tujuh tahun malang itu." ujar Alfa.
"K-kau tahu dari mana?" syok Adelia. Ketika Alfa memperlihatkan video lawasnya.
Alfa pun melajukan mobilnya, hingga ia tepat pada sebuah rumah tak terawat, dengan pagar besi runcing yang sangat terlihat ekstrem. Begitu terlihat kabel dan kawat menyentuh listrik, dan ada tombol yang mungkin jika Adelia melarikan diri akan tersengat listrik.
"Aauw, kasar sekali sih kamu Alfa. Aku mohon lepaskan aku!"
“Kenapa kamu selalu sok jual mahal dan gak mau puasin, Hah Adelia? Apa saya kurang tua seperti pria-pria yang biasanya selalu kamu layani?”
“Apa saya harus setua Papa saya dulu baru kamu mau puasin saya, Adelia?”
Wanita yang disebut dengan nama Adelia itu seketika mendelik tajam kepada sosok Alfa, yang kini menunjukan raut merendahkannya setelah mengucapkan kata kata barusan.
“Saya tahu kamu bukan wanita baik-baik, Adelia. Jadi kalau kamu gak izinin saya untuk ketemu partner ranjang saya, sebaiknya sekarang juga kamu puasin saya, seperti kamu puasin Papa saya!”
"Jangan bodoh! aku ingin kita sepakat, ijinkan saya kembali pulang!"
Alfa melangkah mendekati Adelia, membuat wanita itu spontan melangkah mundur untuk menghindar namun baru dua langkah, Adelia tak bisa lagi menghindar karena adanya meja di balik tubuhnya.
“Jangan macam-macam, Alfa, atau saya bakal—”
“Bakal apa? Aduin sama papa. Hahhaha, kau pikir aku sudi memakai tubuhmu, setidaknya aku pernah kotor. Dan aku tidak akan memakai tubuh kotor wanita sepertimu!"
Proook!! Proook!! tepukan tangan Alfa, seolah kode.
Adelia terlihat panik, kala beberapa orang besar sekitar delapan orang. Memakai celana bahan hitam tanpa busana menghampirinya, terlihat Alfa duduk tertawa dan menatapnya.
"Kalian puaskan wanita licik, malam ini bersamanya, sekaligus ingat, jangan biarkan wanita ini lepas! setelah itu, kalian kurung dia dibawah tanah! sampai dia bicara yang sesungguhnya!"
Delapan pria itu sangat senang, kala mangsa wanita kali ini begitu putih dan tatapan Adelia berteriak histeris, kala seluruh tangannya dipegang satu persatu orang, terlebih kakinya juga di ikat dan membuat Adelia berontak sia sia. Seluruh pakaiannya telah dilucuti, dan dengan sadisnya mulut Adelia disumpal dengan pedal pria, belum lagi telah tertancap sadis dengan satu pria lain, delapan sekaligus bergantian. Terlihat tiga orang memakai Adelia dibelakangnya, didepannya dan mulutnya. Sementara yang lain hanya memegang dan menunggu giliran.
Tangisan Adelia seolah pecah, tak bersuara. Ia sadar kesalahannya, tapi baru kali ini merasakan kesakitan seolah hidupnya akan mati saat ini.
Alfa mengambil ponsel, dan menatap foto sang mama.
"Mama, aku rindu padamu! aku sudah membereskan wanita licik yang sudah membuatmu sengsara. Maaf karena Alfa saat itu stress dan tak ada di samping mama!" ujar Alfa menatap foto mama Maria.
Alfa berdiri tanpa memperdulikan dibelakanganya, suara tepukan orang yang terlihat bersemangat memakan satu wanita yang dilakukan beramai ramai. Hal itu juga membuat Alfa lakukan itu bukan karena Hanum dan Rico. Melainkan sakit hatinya seorang Adelia bisa membuat ibunya menderita, bahkan ia terang terangan berpura pura menjadi perawat mama. Tapi menggoda sang papa.
***
KEDIAMAN RICO.
Saat ini, Hanum terlihat bahagia. Ia memakai celemek dan belajar membuat sup sapo tahu dengan udang terbaik. Hal itu juga membuat Rico menatapnya, sembari menggendong Ghani dan Leo disampingnya duduk.
"Lihatlah jagoan papa! bunda akan membuat masakan istimewa."
"Yeeay! bunda terbaik, bunda semangat ya." ujar Leo menyemangati.
"Makasih pangeran hati bunda, kalian paling terbaik dan terbest di hati bunda." ujar Hanum, ketika mengaduk kuah dan memberikan bumbu.
"Mas, aku pertamakalinya buat. Cicipin ya!"
"Leo mau bunda."
"Ok, bunda ambilkan satu sendok berbeda ya. Kecuali Ghani, maaf nak! kamu belum bisa makan sup ini."
Weeeeleee! Ghani menyodorkan lidah, seolah ia ingin mencicipinya. Hal itu juga membuat Rico, Leo dan Hanum tertawa lucu.
"Sluurp! gimana mas?"
"Sayang, oh tidaak. Apakah kamu tidak menyukai mas. Kamu berniat menikah lagi? ini asin sekali." ujar Rico.
"Heeeoomh! bunda benar kata papa, ini asin.. Weeek." ucap Leo.
"Asin, tapi mas dan Leo terus menyicipinya berkali kali, tidak beres."
Hanum menyicipi dan membuat tawa pecah Rico serta Leo yang bersekongkol membohongi.
"Kalian, bohongi bunda ... Heeeemph!" menghampiri dan mengegelitik Leo.
Hahahha! maaf bunda! ide paman papa tadi, iya kan papa! ampun bunda, Leo hanya menurut pada tetua dirumah ini.
Hanum mengejar aksi Leo yang berlari lari, terlihat ia bersembunyi pada mama Rita yang sedang menggendong Ghina, dan Azri disebelahnya oleh papa Mark di kursi roda.
"Sayang, jangan lari larian!" ucap mama Rita di ruang televisi.
"Nek, Opa! bunda marah. Karena aku bersekongkol bilang kalau supnya asin. Padahal best nomor satu."
Hahahha! tawa saat itu sangat bahagia, Rico dan Hanum melihat ekpresi bocah ini menggemaskan. Terlihat pula mereka saling bercerita banyak, Rico juga meminta maaf. Karena ia telah jahil pada istrinya itu, apalagi memanipulasi sang anak untuk satu frekuensi jahil.
"Mas, kalau sehat. Terus aja jahil sama Hanum."
"Haha, maaf sayang! melihat kamu seperti ini, mas suka. Sekarang kamu buka celemeknya, kamu gendong baby Ghani. Mas kali ini buat makanan penutup lezat untuk kamu dan semuanya. Kali ini, malam ini chef Rico akan memanjakan lidah penghuni semua di rumah ini."
Sontag Hanum meleleh, dan menurut. Tatapan mata lain, seolah ikut bahagia melihat pasangan Hanum dan Rico.
Tbc