BAD WIFE

BAD WIFE
ALBUM LISA



Hanum saat ini ditinggal Rico pergi, kali ini bukan sedikit. Tapi satu pekan, Hanum akan menatap suaminya melalui ponsel saja. Karena Rico dan Erwin akan kembali ke hongkong, demi melebarkan market Marco.


"Sayang mas pergi dulu! mas titip anak anak menggemaskan, sama kamu ya! ingat terus jaga pola makan, jangan capek capek! hubungi mas jika ada sesuatu yang kamu butuhkan, dan inginkan!"


"Iy mas, mas Rico hati hati ya! Hanum dan anak anak pasti akan rindu sama mas."


"Tentu, mas juga pastinya sayang." kecup Rico pada kening Hanum, dan pamit dengan mobil RC.


Hanum hanya bisa mengatur nafas, kali ini ia akan sepi tanpa mas Rico, sehingga saat sore Hanum sepi, ia kembali mengingat kotak peninggalan Lisa.


"Ah, disini rupanya kotak punya ka Lisa. Kelak Azri dewasa, dia akan tahu seberapa tenarnya sang mama." ucap Hanum, memuji kak Lisa.


Lalu Hanum fokus pada buku tebal yang tersusun rapih, tiga tumpukan. Entah kenapa Hanum merasa ingin membuka dan terlihat tulisan Lisa, ya itu adalah tulisan Lisa pertama kali bertemu, setelah menikah dan hari hari bahagia mungkin ia abadikan dalam sebuah buku.


"Diary? sepi, sebaiknya Hanum baca sebentar." lirih Hanum, membukanya perlahan.


**Dear Diary.


Lisa, tanggal 9 Juni 1987**.


Gaun indah berwarna putih yang aku kenakan, menjuntai indah. Berbalut kerudung dengan dihiasi sebuah mahkota yang memukau. Wajah terpoles riasan riasan yang membuatku semakin berbinar. Penantian berbuah kepastian. Melukis sebuah harapan bersama masa depan. Siapa yang tak mendambakan moment seperti ini? ya aku adalah Lisa, yang akan memulai bahagia dengan seorang pria bernama Fawaz.


Mengakhiri dan memulai? Bismillah. Tinggal menghitung jam, aku akan segera mengakhiri penantian ini. Selama jarak dan waktu memisahkan, tak menyurutkanku untuk terus membenahi diri dan hati. Atas izin-Nya, aku sekarang berada di titik ini. Di mana sebelum memijaki puncak ini banyak sekali luka dan perjuangan yang harus dirasakan.


Semua ujian yang telah dihadapi menumbuhkan sebuah keyakinan begitu kuat. Badai angin berhasil menguji kokohnya ruang hati yang kubangun. Tak berpenghuni, selain Sang Pemilik Hati. Terujinya hati membuktikan bahwa seseorang yang tinggal di dalamnya, insyaAllah akan terjaga.


Pertemuan itu tak membuat aku mengakhiri semuanya. Justru, ini langkah awal untuk memulai hidup bersama, setelah kami saling menanti dan menjaga hati dan menguatkan kami memang ditakdirkan bersama.


Ya, aku adalah seorang wanita akhir zaman berbalut dengan kemunafikan. Betapa munafiknya aku, seolah-olah menasihati orang lain tanpa aku melakukannya. Sosok yang selama ini di anggap baik, tapi ketahuilah aku hanya sang pendosa. Dengan segala kebaikan Allah SWT, yang menutupi tumpukan aibku. Aku mendapatkan pria setampan Fawaz.


Aku hanya wanita akhir zaman yang mendambakan sosok imam, seperti Ali bin Abi Thalib yang hatinya hanya terukir satu nama wanita yang dicintainya, mampu menyembunyikan perasaannya dalam diam dan selalu menceritakan sosok wanita itu dengan Pemiliknya dalam doanya, Umar bin Khattab pemimpin yang gagah berani namun ia selalu bersikap lemah lembut dan selalu melindungi orang yang dicintainya, dan seorang imam dengan kesempurnaan iman dan akhlaknya tak lain Nabi Muhammad SAW., yang selalu beribadah kepada Allah SWT., dan akhlaknya begitu mulia.


Saat itu, aku berpikir. Apakah di akhir zaman ini masih ada yang memiliki sifat seperti beliau-beliau? Aku rasa hanya wanita shalihah yang dapat meluluhkan hatinya. Aku hanya wanita yang membuka aurat dengan kesenangan dunia yang menginginkan imam yang baik untuk masa depanku, meski aku terlihat glamour. Percayalah aku masih menjaga kehormatanku, meski kehidupanku bebas.


Aku merasa malu akan segala keinginanku yang berharap sekali permintaan itu dikabulkan oleh-Nya. Tapi, sering kali aku tak sabar atas semua jawaban dari doa-doaku pada Allah Swt, tanpa mengenal sosok diri ini sebenarnya.


Lupa akan dosa yang kupikul, selalu lalai. Bahkan, menunda nunda dalam menjalankan ibadah, tapi aku selalu bertanya tanya. Mengapa Allah Swt, belum memenuhi permintaan itu dan menginginkan permohonanku untuk segera dikabulkan.


"Betapa egoisnya aku."


Dalam waktu penantian itu, aku berusaha untuk menjadi lebih baik. Memantaskan diri untuk menyambut calon imam yang baik pula. Dia, yang selalu menjaga hati dan pandangannya. Karena aku sangat yakin wanita yang baik untuk laki laki yang baik dan laki laki yang baik untuk wanita yang baik, semua itu terdapat dalam firman-nya.


Ya, aku Lisa Saraswati sama seperti wanita halnya saat beranjak remaja. Aku yakin setiap orang memiliki masa lalu. Sebelum aku bertemu dengan seorang laki laki soleh yang sebentar lagi akan mempersuntingku. Di masa lalu, aku seorang perempuan layaknya Zulaikha yang mencoba mengejar cinta Yusuf.


Tidak berbeda dengannya yang mengagumi seorang laki laki, di pikiran selalu tergambar sosoknya dan dalam hati tersurat namanya, hingga aku lupa ada yang harus lebih aku cintai dan inilah awal ceritaku:


Hanum, kembali menangis. Begitu menyayat hatinya, kak Lisa bisa menulis impiannya sedetail ini, Hanum terpaksa menutup buku yang Lisa tulis dengan tanda tangan dan hasil tulisan aslinya, karena suatu hal.


Kala bayi Ghani, Ghina terdengar menangis. Hal itu membuat Hanum, membawa bukunya ke kamar. Dan akan ia baca kembali setelah bayi mereka tidur di malam hari, mungkin menghilangkan jenuh kala mas Rico tidak pulang sepekan ini.


"Aku letakan disini saja, sebentar akan aku baca lagi." lirih Hanum, yang menuju kamar bayi kembarnya.


Tbc.