
"Alfa! kau kan yang buat semua kekacauan ini! cepet ngaku pria pecundang!" teriak Lisa mendorong tubuh Alfa hingga membentur meja.
"Hentikan! lo bukan cuma bakal dituduh pencemaran nama baik. Tapi penganiayaan!" cetus Alfa meraih tangan Lisa, dengan amarah menghempaskan.
"Aakh!" teriak Lisa, yang di hentikan polisi wanita.
"Maaf nona, tolong jaga sikap!"
Termasuk Alfa juga di hentikan oleh seorang polisi, agar suasana tidak semakin rumit.
"Begini bu! data saudari Hanum dinyatakan hilang. Tapi ada kemungkinan, jika dinyatakan selamat, kondisinya akan jauh lima puluh persen dengan luka bakar. Mengingat, kecelakaan yang di akibatkan pemuda mabuk telah kami proses hukum." jelas salah satu polisi.
Serta polisi di sebelahnya masih mengetik untuk melayangkan pertanyaan pertanyaan, Lisa yang tak tahan, meminta polisi untuk mengusut kala sang mama semakin kencang histeris menangis.
Lalu Lisa bertanya, mengapa Jhoni dan Alfa datang secara bersamaan. Alfa pun duduk di sebelah Lisa, sementara sang mama hanya terdiam dengan mengucapkan tasbih untuk bisa mengontrol kondisinya yang lemah.
"Gue kesini mau gugat adik lo! tapi sayang dia udah kena karma." bisik Alfa.
"Diem gak! Ga berhak bicara kaya gitu, melihat pria gila disamping sangat pantas Hanum adik ku memutuskan pisah sama pria pecundang, yang beraninya diketek papa yang berkuasa." lirih Lisa menatap tajam.
Alfa yang merasa tersindir, ia ingin sekali melayangkan satu tangannya. Agar Lisa diam, akan tetapi polisi menghentikan.
Tug! Tug! "Mohon perhatian, biar saya jelaskan dan tetap tenang jangan ribut!" ungkap polisi yang terlihat kepusingan.
"Begini, pak Alfa memang saya hubungi karna ia sebagai dalang seorang pengendara roda dua untuk membuntuti Hanum, taksi juga bicara jika ia telah di buntuti. Tapi pria pengendara motor itu bicara ia di suruh oleh saudara Alfa!"
"Apa, jadi ..?"
"Ga benar pak! saya hanya suruh kejar Hanum, terkait rumah yang di robohkan. Bangunannya saja dua kali lipat, jika saya tak jadi jual maka rugi segalanya." jelas Alfa membela, lalu menatap Lisa.
"Rumah, renovasi?" Lisa melihat sertifikat milik rumahnya yang ia tempati, ada pada tangan Alfa. Lisa merampas dan melihat jelas itu adalah milik papanya.
"Kenapa ini bisa di kamu Alfa?" naik satu oktaf Lisa menatap Alfa di sampingnya.
"Stop, kalian berdua berhenti! Pak Rofu. Mohon bawa pria ini ke ruang sebelah ya!" pinta polisi yang sedang memberi kabar pada Lisa, tapi suasana tidak kondusif karna Lisa dan Alfa masih saling bermusuhan dengan emosi.
"Tanya sama jasad adik lo nanti! gue bakal beri perhitungan sama dia kalau ketemu, termasuk lo juga!" bisik Alfa menatap Lisa. Ia berdiri dan mengekor pak Rofu ke ruang sebelah.
Tak lama Jhoni datang setelah menerima panggilan, ia ikut menatap Lisa, tapi pergi mengikuti langkah anaknya.
'Dasar anak dan bapak sama sama gila kekuasaan. Kalian yang akan aku temukan mengenaskan, bukan jasad adikku!' gumam Lisa dalam batinnya mengepal ingin sekali meninju Alfa.
Polisi segera menceritakan kronologi dari A hingga Z. Lisa lemas, terlebih sang mama benar benar syok. Ide Hanum dengan bualan project dan berlibur adalah demi dirinya dan Lisa tak mengetahui soal rumahnya yang dirampas lagi oleh keluarga Jhonson dalam waktu kilat.
Lisa menatap sang mama dan saling menguatkan. Tak lama Fawaz dan tante Felicia datang setelah ijin dinas di rumah sakit. Ia datang karna khawatir keadaan, terutama Fawaz yang ingin tau soal Hanum.
"Kalian semua gak apa apa? tante Rita baik baik saja? biar Fawaz dampingi Lisa ya tante! tante ikut mama ke mobil!"
"Ga apa nak Fawaz, tante hanya syok. Tante kepikiran bagaimana dengan Hanum." isak tangisan Rita saat ini.
"Jeng, kita berdoa ya! semua pasti baik baik saja!" Felicia menenangkan Rita.
Fawaz yang ikut sakit, ia meminta sang mama pulang lebih dulu. Sementara ia setelah mengantar sampai parkiran, Fawaz kembali masuk ke ruang polisi menemani Lisa yang masih mencari kejelasan dan hal yang ingin Lisa ungkap, jika pria bernama Alfa pasti terlibat.
"Lis, ikut aku. Kita ke rumah sakit temui saksi supir taksi. Agar kita tau kronologinya, lagi pula cctv yang diberikan kejadian sudah jelas murni kecelakaan!"
Fawaz yang paham, ia segera memberi tau polisi. Lalu meminta bantuan agar ia bisa meminta rekaman cctv dengan tidak dipersulit. Tapi setelah Lisa dan Fawaz keluar, ia berpapasan dengan Alfa.
Fawaz yang melihat Alfa menatap Lisa sangat tajam, ia segera pasang badan dan menarik kerah Alfa.
"Berani menyentuh orang tersayang gue! perusahaan Jhonson akan tamat. Apalagi kalau Hanum benar benar ulah lo!"
"Lepasin! gue ga ada hubungan celakain Hanum si tompel yang udah langsing itu. Ga minat, lo cuma minat sama cewe bekas aja bangga. Minggir! jangan ancam terus soal perusahaan Jhonson!" tebas tangan Alfa pada tangan Fawaz.
"Fawaz udah, ga ada gunanya bicara sama pria sableng yang sebentar lagi jatuh miskin!"
Mendengar hal itu Fawaz mengekor, sementara Alfa masih mode kesal menatap Lisa yang pergi begitu saja, terlebih ucapannya.
"Alfa ayo kita pergi! jangan lawan Fawaz!" ungkap Jhoni ikut menarik putranya.
Lisa hanya menarik nafas, setelah itu spontan tangan Fawaz menarik tangannya dan segera masuk kedalam mobil untuk segera pergi.
"Lis, ayo masuk!" lirih Fawaz.
"Apaaa! Ah, iya." gugup Lisa di sadarkan.
Tapi sia sia, saat berada di kedai. Lisa dan Fawaz benar benar melihat cctv tidak ada tanda tanda aneh. Fawaz terlihat suram, kala ia merasa bersalah tak bisa menjaga Hanum.
"Kalau itu ulah Alfa! Aku pasti akan balas semuanya."
"Jangan gegabah, kamu itu dokter jangan terlibat lebih jauh! tapi polisi kasih dua surat. Aku ga tau itu apa isinya, itu yang ada di dalam tas Hanum di temukan." lirih Lisa.
Fawaz segera mengambil surat itu, yang terlihat nama untuk Lisa dan Fawaz.
\*\*\*
KELUARGA MARK
"Kau yakin dia masih hidup?" tanyanya.
"Benar Pak! dia masih bisa di selamatkan, beruntung den Rico tidak cedera. Den Rico segera menolong wanita ini, karna merasa bersalah." jelas Erwin.
"Kamu cari informasi wanita ini, keluarganya pasti akan minta ganti rugi. Perusahaan indomarco tidak boleh sampai punya skandal, hanya karna mobil Rico blong! jeep mewah blong, memalukan." cetus pak Mark.
Erwin yang setia bekerja, ia segera pergi menjalankan perintah. Tak lama Rico keluar dari kamar dengan tangan yang di perban sebelah kanan.
"Kenapa bisa terjadi Rico?"
"Pah! pasti ada yang merencanakannya. Percayalah, aku juga membawanya agar tidak ada lagi masalah baru." jelas Rico.
Pria rambut putih dengan satu tongkat itu tau, jika putranya pasti sedang balap liar. Ia sengaja menjalankan kecepatan tinggi, karna lari dari perjodohan antara dua keluarga.
"Cari tau identitas wanita itu, lalu beri kompensasi. Agar market kita tidak ada dalam berita Rico!"
Rico yang menghela nafas, ia sedikit gugup kala suster keluar dari kamar tamu.
**To Be Continue**!!