
Hanum berhenti di sebuah cafe Royale milik keluarga Fawaz, sepanjang perjalanan ia tak tau arah. Hingga dimana membuka pintu untuk masuk dan menenangkan diri.
"Hanum, kamu disini?"
"Ehm! Fawaz kau mengulurkan tanganmu untukku?"
Anggukan kepala Fawaz, dan tangannya yang memang terulur untuk Hanum sejenak. Memberikan rasa hangat pada hati Hanum saat ini.
Tak pahamlah Hanum kenapa bisa seperti itu. Tapi perlakuan Fawaz ini adalah perlakuan terbaik yang pernah didapatkan Hanum dari seorang laki laki, selain mendiang papanya.
Tidak seperti Alfa, yang terkadang menyesatkan memanggilnya seperti binatang buas. Tapi terkadang juga sikapnya yang sangat lembut seperti ini, ketika ada maunya dan kembali menyakiti.
Bahkan Fawaz tidak malu malu untuk merangkul Hanum dan memperlakukannya manis seperti sekarang.
"Han, kebetulan aku harus menyambut teman baikku pulang! tunggu disini sebentar ya!"
"Ya!"
Hanum memperhatikan Fawaz yang berbicara panjang. Lalu ke arah pintu luar dan kembali ketatapan Hanum kembali.
"Kau sedang ada masalah? bukankah harusnya kamu tidur jam segini?"
"Aku sedang memberontak. Aku tidak tau keputusanku ini benar atau tidak. Yang jelas aku cari angin segar untuk melembutkan hatiku menjadi jernih."
"Oh begitu, Han. Kamu bisa cerita apapun itu padaku!"
"Kau bisa bahasa Swedia?" tanya Hanum ketika mereka sudah berjalan menuju lift. Hanum sengaja memotong pertanyaan Fawaz karna tak mau membahasnya lagi.
"Sedikit!" jawab Fawaz.
"Kau sangat pintar sepertinya, mana ada sedikit tadi."
"Fawaz, kau tidak mungkin hanya bisa sedikit karena aku melihat kau sangat fasih sekali bicara."
"Aku tinggal dan melanjutkan pendidikan di swedia. Ku dengar itu kediaman mamamu kan?" senyum Fawaz. Dan Hanum hanya mengangguk senyum membenarkan.
Ucapan Hanum itu memang benar, orang yang diajak bicara Fawaz pun tadi sempat tersenyum dan sepertinya mereka bukan hanya membicarakan masalah kamar hotel dan minuman termahal serta proyek penting.
"Tidak penting bahasa apa yang aku bisa!"
Celetuk Fawaz sekenanya. Fawaz memang bukan hanya menguasai satu bahasa asing, dia bisa bicara dalam lima bahasa asing. Salah satunya adalah bahasa Swedia, italy. Tapi ya seperti itulah Fawaz, dia tidak pernah mau mengekspos dirinya dan sekarang dia membuat Hanum penasaran tentang kepintarannya.
Hanum kembali tertarik pada sikap Fawaz atau karena Alfa tidak membuka dirinya seutuhnya. Bahkan mengutarakan jika ia adalah istrinya. Seolah Hanum adalah istri buruk bagi Alfa yang tidak pantas di akui atau di publikasi.
"Aku hanya mau sendiri aja Faw. Aku ga kepengen menginap. Aku hanya butuh sandaran!" lirih hanum.
Lalu Fawaz berlalu ke atap lantai lima. Membawa Hanum agar rileks mengutarakan isi hatinya yang sedang sedih. Hanum tak menolak, ia tau pria seperti apa Fawaz. Ia sama seperti sosok sang papa yang selalu membuat ia tersenyum.
"Kamu gak apa kalau kita ngobrol di atas?"
"Ga apa! aku ngerti kok Fawaz."
"Selamat berbulan madu untuk Anda dan pasangan Anda, Tuan!" ucap bellboy setelah Fawaz memberikan uang tip. Fawaz hanya mengangguk sebagai respon, sebelum dia menutup pintunya tanpa banyak bicara lagi.
"Ga usah di ambil hati ucapan bellboy tadi ya. Han!"
"Ya gak apa kok, aku duduk disini aja. Mungkin bellboy itu mengira kita pasutri.
Tawa Fawaz dan Hanum pecah. Melihat Hanum tersenyum, itu sudah cukup untuk Fawaz. Hingga dimana Fawaz menatap jam dan pamit pada Hanum.
"Pemandangan di sini bagus banget! Terus juga barang barang di sini semuanya barang barang antik sepertinya. Aku suka banget!" ujar Hanum histeris tapi Fawaz tidak memprotes kesenangan Hanum saat ini.
"Han, kamu bisa tinggal di tempatku sampai kapanpun! ini kuncinya. Aku ga ada kunci serepan, tapi aku harus tugas malam ini. Belum lagi aku harus ke swedia untuk merawat pasein istri presdir besok pagi. Maafkan aku meninggalkanmu di saat sedih ya Han!" sedih Fawaz.
"Apa karna itu kamu sering berpindah tempat Fawaz?" lirih Hanum menyembunyikan kesedihan.
"Duduklah dulu! Sebentar lagi makananmu datang! Kau ingin makan tidak?" Fawaz hanya mengingatkan Hanum tentang suatu hal.
'Oh iya kau benar, aku lapar sekali Fawaz. Andai saja waktu tidak terlambat. Aku pasti akan bahagia, bahagia menemukan sosok pria seperti papa.' batin Hanum.
Hanum teringat sesuatu yang sangat penting dan dia pun sudah mengelus perutnya. Kemarin dirinya memang sudah makan tapi semenjak datangnya Alfa. Hanum merasa tak bisa mengontrol diri, kata kata manis dan pahit seolah terus saja membuat Hanum tersiksa batinnya.
Tapi setelah Hanum keatas apartement milik Fawaz, yang dibawahnya adalah usaha cafe milik Fawaz. Hanum seolah menjadi nyonya atau tuannya.
"Han! anggap kamu adalah bosnya disini. Aku percayakan kamu disini! orangku akan menghormatimu seperti memanggil aku bos!"
"Ah! itu berlebihan Fawaz. Aku mengerti kamu pengusaha dan dokter. Pantas saja kamu jarang dirumah."
"Maafkan aku, karna ini cita citaku. Semoga kamu bisa segera memutuskannya Han. Agar jarak antara kita tidak seperti saat ini. Aku merasa canggung ketika kamu milik orang lain."
Perkataan Fawaz membuat Hanum terkejut, hingga dimana ia senyum. Dan Fawaz berlalu menutup pintu. Hanum seolah bimbang, ia harus lagi lagi memikirkan Alfa. Belum lagi menjaga perasaan seorang ibu.
"Uuueek!" Hanum sedikit lemas, ia segera mencari toilet dan memuntahkan segalanya.
To Be Continue!!