BAD WIFE

BAD WIFE
FIRASAT MAMA



"Mama capek ya, besok udah ada pengasuh bayi. Mama jadi ga capek, bantuin Hanum."


"Han, mama malah seneng. Ini tuh jadi inget kamu dan Lisa masih bayi. Heuumph, andai papa masih ada. Pasti sama bahagianya kaya mama saat ini."


"Terus mama kenapa tadi pagi pas sarapan nangis. Kangen kak Lisa ya mah?"


"Han, kabar Lisa benar baik baik aja kan? mama ga enak hati, perasaan mama ga karuan mimpiin lisa. Kakakmu apalagi, ga baik baik aja ya?"


"Emang mama mimpi apa? boleh Hanum tahu?" tanyanya sambil menimang salah satu bayinya.


"Mama mimpi baju kakakmu di buang Han, katanya kalau kata nenek moyang dulu. Pertanda ga baik, apa mama kunjungi Lisa aja ya?"


Assalamualaikum!! sapa Rico.


"Eh, mas Rico udah pulang?" tanya Hanum.


"Ga usah bangkit sayang! biar mas hampiri kamu aja. Mah, maaf tadi Rico ga sengaja dengar. Rico antar ke rumah Lisa ya. Sekalian mau temui Fawaz juga."


"Tapi Hanum gimana? kamu mending stay istri kamu Ric!"


"Ya udah, mama di dampingi Erwin ya. Berapa hari mama disana, biar Erwin stay tungguin mama kemanapun!"


"Baiklah, kalau ga keberatan. Mama berkemas dulu ya Han, nak Rico. Makasih ya, titip Hanum sama cucu oma ini! mama belum tau berapa hari."


"Pasti mah. Rico bakal jagain Hanum dan dua cucu mama ini. Kalau ada apa apa mama kabarin Rico ya!" Rico menyalam tangan mama mertua, dan memberikan salah satu kartu debitnya.


"Ga usah, mama masih punya Rico."


"Simpan mah! harta Rico milik Hanum, dan milik mama juga dan cucu mama. Rico ga mau terjadi sesuatu pada mama, istri Rico dan anak anak juga!"


Bahagianya mama Rita melihat menantu dan anaknya bahagia. Tapi entah kenapa ia merasa jauh dari Lisa, ada sesuatu yang tak beres, tak enak hati memikirkan Lisa terus menerus.


***


Spill Kembali Dengan Lisa.


Sederhana saja! Jauhi yang menjauhimu, dekati yang mendekatimu. Dan cintai yang mencintaimu! gebrak pak Ray saat akhir meeting berlangsung. Membuat hati Lisa kembali membulak hati, apakah Ray menyindir untuknya.


"Lisa. Sinta setelah selesai brifing. Kalian berdua ke ruangan saya!"


"Ba- baik pak." Lisa dan Sinta menatap hormat bersamaan.


Lisa terdiam bingung. Entah kenapa pak Ray memanggil dirinya. Tak lama ia melirik Sinta yang menatap penuh curiga.


"Dah yah Lis. Gue mau ke pantry dulu. Mau buat coffe, sekalian mau copy copy berkas. Heeee .. heee .." senyum menjauh penuh curiga.


"Ta. Kamu ga buat aneh aneh kan?" teriaknya.


Tapi Sinta kembali seperti biasanya. Menghiraukan dan berlaga senyum dusta.


"Ga usah banyak alasan Sin! ayo ke ruangan pak Ray!" cegah Lisa menahan.


"Sinta. Lisa kalian tau apa yang membuat saya memanggil kalian berdua?"


"Tidak bos. Kami benar benar tidak tau." ucap Sinta.


Sementara Sinta menyenggol sikut lengan Lisa dan berbisik.


"Kalau tau, kita ga mungkin ada di sini kan Lis. Ga usah serius." tatap senyum Sinta. Lisa menggertagkan gigi untuk mendengarkan pak Ray.


Eeeehuuuuem .. sudahlah. Kalian jangan gugup seperti itu. Kalian berdua adalah karyawan saya yang istimewa.


"Eeehuuuuemh! begini. Kalian sangat berpotensi, itu sebenarnya saya ingin membagi kalian berdua ke berbeda tempat. Apa kalian siap!"


"Bbbp.. Pyyyyuuuh ... Pyuuuh. " Sinta gugup menatap Lisa takut.


"Kenapa Sinta. Kamu keberatan?"


"Bukan begitu Bos. Saya bisa apa, tapi selama ini saya sangat suka dan selalu bersama dengan Lisa. Tidak ada partner terbest seperti kami. Jadi jika kami berpisah itu sama saja. Kehilangan separuh jiwa kami." jelas Sinta.


"Oh, so sweet." bisik Lisa.


Lisa begitu terharu akan perkataan Sinta. Tapi ia sedikit menahan tawa karena sebenarnya ia telah tau. Jika saat ini bos mereka ingin memintanya pergi kesatu tempat dengan satu tujuan yang sama. Hanya saja misi mereka berbeda untuk menemui seseorang.


"Hahahhaaa .. Sinta .. Sinta. Kamu sangat care ya. Lihat seperti ini, kalian bawa dan pelajari. Tiga hari lagi kalian berangkat dan bersiaplah. Saya tunggu kabar besok pagi ya!" ucap pak Ray.


Setelah atasan mereka keluar. Lisa mengambil satu map dan tertawa lepas. Hal itu membuat Sinta menganga lebar, menatap sahabatnya kini. Lalu mengambil berkas dan membacanya, mengekor pada langkah Lisa yang lebih dulu, meninggalkan ke ruangannya masing masing.


"Kamu jahat Lisa. Kenapa aku ga dikasih tau, kamu udah dapat kabar sebelumnya kan? Mana aku belum persiapan lagi. Terima email tapi aku ga di kasih tau, awas ya lis, Kamu bakal aku balas!"


"Heee .. heee, kamu kok dendam sih. Aku tau kamu pasti mau shoping kan. Secara tour kita ini satu visi tapi beda misi kan."


"Ya udah. Aku maafin, tapi kamu antar aku dulu ya. Sore ini kita ngemall oke!" pinta Sinta.


Lisa mengangguk senyum. Tapi saat memeluk Sinta, tiba saja ponsel Lisa bunyi dan tersirat nama Fawaz. Sinta melirik sedikit tau isi pesan yang terpampang dilayar tombol kunci pasword.


"Uppsss.. sory Ta. Aku angkat ini dulu ya!" Lisa memegang ponsel.


"Deuuuh .. Eheuuuum .. apa kan gue bilang. Tadi lo kegigit bibir ternyata benerkan. Doi rindu mau bertemu." goda Sinta.


"Sssssttt .. !" pinta Lisa menutup bibir dengan jarinya.


Lisa aku tunggu di cafe star. Jam enam sore. Tunggu aku, ada yang aku ingin bicarakan!!


"Ada apa ya mas Fawaz mau bertemu. Tapi sore ini aku mau anter Sinta juga. Aduuuh gimana ya ini... " Lisa memijit kening.


"Udaah Lisa. Temuin aja! Bukannya kita satu tujuan. Bukannya satu arah, kita ke mall nya sebrang Star aja!" ucap Sinta membuat Lisa kaget, tau jika temannya itu menguping.


Lisa mengangguk. Lalu membalas pesan Fawaz dengan bahagia. Hal itu pun membuat rasa penasaran Sinta, seperfect apa suami dari sahabatnya itu.


Lisa senyum bahagia, akhirnya mas Fawaz mau menemuinya sore ini. Ia mengelus perutnya dan berkata dengan penuh tatapan haru. Hingga Sinta terpesona menatap Lisa teman lintingannya itu.


"Sayang, sabar ya! kita bakal temuin papa kamu. Papa mau kita ketemu, nak. Kira kira ada apa ya, apa papa mau buat kejutan?" senyum Lisa mengelus perutnya.


"Duh ilah, sulit banget ya Lis. Antara dokter dan profesi kamu ini, sebenernya bikin ngeri para cowo loh. Minder aku rasa." gerutunya.


"Minder kenapa, apa yang salah sama profesi aku Sin?"


"Kamu itu terlalu mandiri Lisa, semoga aja dokter eh, suami kamu yang ganteng sebagai dokter. Selalu siaga, dan buat kamu bahagia ya." senyum harap dari sahabat.


"Ah! iya amiin." Lisa melupakan perasaan sakit hatinya saat ini.


Yang Lisa inginkan adalah bahagia seumur hidup, tanpa memastikan ocehan tentang suaminya di luar sana. Atau Lisa tidak sanggup mendengar, jika ia dikhianati lagi.


Tbc.


Mampir lagi ke novel kece, litersi temen Author. Sambil nunggu kelanjutan Hanum dan Lisa.