
Rico melepaskan diri, ia berhasil mengambil pipa plastik berukuran keran air, ketika semua tertidur. Besi jeruji itu terpotong, dan benar saja ia bisa keluar dari rumah kayu. Rico memperhatikan banyak ruangan dan menghafalnya agar ia bisa segera melapor ke polisi.
Akan tetapi sampai di depan ia melihat sebuah mobil jeep dan membuka pintu, serta banyak pria berjas menghampiri.
Rico berlari, namun salah satu mobil lainnya, menghadangnya lagi.
"Pak Rico, masuklah! kami niat membantu anda!" ujar seseorang, meraih tangan agar Rico masuk ke dalam mobil, yang masih berjalan pelan.
Rico masuk, dan terdiam ketika pria itu menoleh dan membuka kaca mata hitamnya.
"Apa kabar Rico?" lirih pria itu.
Rico terdiam, menaikan salah satu alisnya.
"Siapa kau? kenapa membantuku, atau kau ...?"
***
Sementara Hanum, ia dan Nazim segera melapor ke polisi dan meminta keterangan. Tidak henti hentinya ia yang sedih, terutama papa Mark syok karena Rico belum kembali.
Hanum dan Nazim segera berhenti di supermarket, untuk membeli pampers dan susu, karena saat ia keluar mencari Rico di tempat yang biasa mas Rico kunjungi, ia lupa membawa perlengkapan kebutuhan anak anaknya, meski anak anaknya berada di dalam mobil saja.
"Mbak, tolong bungkus sisa kue yang di meja itu ya, dan tambahkan juga kue yang ini dan 4 pcs kue yang itu." Hanum menunjuk muffin coklat kesukaan Leon, dan juga aneka roti untuk dibawa pulang.
Seorang pelayan toko dengan sigap mengemas sisa roti yang tidak habis dimakan oleh ketiga anaknya yang balita yang jumlahnya masih lumayan banyak, hingga sayang jika ditinggal begitu saja.
Hanum mengeluarkan sejumlah uang dari dalam dompetnya, untuk membayar bil tagihan kuenya itu.
Anak-anak sedang ke toilet dan diantar oleh Nazim dan baby sister untuk mengganti popok. Hanum memutuskan untuk menunggu di luar toko kue sebelum menuju mobilnya di tempat parkir. Masih mode menghubungi nomor mas Rico yang tak kunjung tersambung.
"Hanum?!"
Sebuah suara mengejutkan Hanum, yang sedang berdiri mematung. Kedua matanya membulat saat mengetahui pemilik suara yang memanggilnya tadi.
"Apa, aku tidak mengenalmu." lirih Hanum, yang masih beberapa kali mencoba menghubungi Rico tapi tidak tersambung.
Pria yang ternyata adalah Darren sesaat terpaku menatap Hanum, adiknya Lisa. Yang kabarnya Lisa sudah mati.
"Siapa kamu?" Hanum menautkan alisnya, karena tidak mengenal Darren.
"Kamu tidak mengenalku?" Darren terkejut.
Dari kejauhan Hanum melihat ke empat anaknya, Leo bersama Nazim, dan ketiga balitanya bersama masing masing pengasuh telah kembali dari toilet.
Hanum pun berinisiatif untuk pergi menjauh dari tempatnya berdiri, agar Darren tidak melihat anak anaknya. Dia khawatir dengan keselamatan mereka berempat jika pria asing ini melakukan hal aneh, saat mereka tiba.
Setengah berlari, Hanum menjauh dari Darren. Tapi pria itu tidak tinggal diam. Dia berusaha mengejar Hanum yang berlari ke samping gedung tersebut.
"Berhenti! Mau ke mana kau?" teriak Darren yang berlari di belakang Hanum.
"Aku tidak mengenalmu, kenapa kau terus mengikutiku?" Hanum mulai kalut. Darren terus berlari mengejarnya.
Brugh!
Sebuah hantaman keras di tengkuk Hanum, membuat wanita itu tak sadarkan diri seketika. Darren langsung membopong wanita itu dan membawanya ke dalam mobil.
Darren mendudukan Hanum di jok depan di sampingnya. Lalu dengan kecepatan tinggi Darren menjalankan mobilnya, menuju ke suatu tempat. Sesekali pandangannya berpaling pada Hanum.
"Tante. Kemana Bunda pergi, kenapa menghilang?" ujar Leo.
Nazim yang terkejut, ia segera menghubungi ponsel Hanum. Tapi nahas tidak aktif, Nazim yang cemas, seolah bertambah ketika tiga anak anak Hanum yang masih balita menangis keras.
"Ssssst!! sayang, tunggu! pasti Bunda ke toilet, kita tunggu di dalam mobil ya! Sus, ikut saya ya! Leo, ayo nak, ikuti tante. Kita tunggu Bunda di tempat aman." ujar Nazim, yang ikut khawatir.
Tbc.