BAD WIFE

BAD WIFE
MENCARI SOLUSI



Saat ini Rico dan Fawaz sedang mencari donatur, serta segala pengacara agar bangunan market Marco tetap berdiri tanpa di gusur.


Sementara Hanum dan Lisa, ia sedang menerima wawancara ekslusif pada sebuah iklan. Hanum niatnya mengantar Lisa, tapi ia sengaja ikut, janji temu dengan Nazim. Sehingga di dalam mobil, Hanum menoel punggung Lisa.


"Kak."


"Heuumph, kenapa Han?"


"Lihat itu!" pinta Hanum.


Lisa terkesiap menatap Pria berkacamata hitam, tingginya melebihi Fawaz. Dia pun mengetuk kaca mobil mereka, sehingga Lisa membukanya.


"Ya, ada apa?"


"Sorry, aku tak sengaja menabrak mobil mu, Rem mobilku bermasalah dan hampir saja melukai kalian, bisakah anda keluar Nona?"


"Kak, pasti dia modus." bisiknya.


Hanum dan Lisa pun antusias keluar, ia berdiri berdampingan. Pria itupun mengulurkan tangannya. "Atas permintaan maaf saya, kenalkan saya Ersan."


"Ya, tidak apa. Jika memang tidak sengaja saya akan melupakan. Lupakan saja, kami ada urusan penting harus segera pergi!" cetus Lisa kembali masuk ke dalam mobil.


Hanum dan Lisa mengabaikan perkenalan Pria itu. Tak lama pria di sampingnya menahan pintu yang Hanum ingin buka.


"Tunggu nona, saya Ikhsan. Nona kalian berdua tidak bisa pergi, kami harus bertanggungjawab atas semua hal ini. Lagi pula mobil ini mewah. Kami akan membantu dan mengurus ke bengkel!"


"Ersan, Ikhsan. Nama hampir kembar. Maaf aku tidak bisa mengambil keputusan, tapi satu hal mobil mewah ini. Milik Lisa." cetus Hanum, yang notabane itu adalah milik Fawaz.


Lisa melirik Hanum, ia membentur tangan pada Hanum.


"Kenapa sampai bawa nama ku sih, Hanum kamu tuh ya. Kalau beneran ke bengkel trus tau nama asli pemiliknya gimana?"


"Ga usah bisik bisik kak! kan jelas milik Fawaz milik kakak juga."


Kalian berdua, jadi namanya adalah. Nona Hanum dan nona Lisa. Ersan pun langsung menatap pada dua wanita masing masing di hadapannya. Ia menawarkan bantuan untuk taksi. Karena tak ingin diantar.


Hingga Hanum memutar mata, ia tak ingin berdebat panjang. Tujuannya kini adalah, secepatnya pergi dari dua Pria asing. Bahkan ia menolak untuk di bayarkan biaya bengkel, baginya mobil Lisa itu masih bisa di asuransikan dan ia masih cukup untuk membayarnya.


"Permisi, maaf ya. Kami buru buru. Tidak perlu ganti rugi, anggap saja kami amal." cetus Hanum, ia mengajak Lisa agar segera menyetir.


BEBERAPA JAM KEMUDIAN.


"Wuaah, benar benar apes dan sedikit cuci mata, memang benar real ya tadi. Andai belum bersuami, pasti udah jabat tangannya?" lirih Lisa.


"Kak, kamu bilang apa tadi. Cuci mata sama dua pria tadi ya?" tanya Hanum.


"Heuumph, tampan, perfect, cool. Tapi sayang. kita sudah bersuami."


Hanum memutar mata, ia menyadarkan diri dan berkata,"Baiklah ayo kita langsung ketempat studio kak, jalan kaki sedikit kalau kakak masih mau cuci mata juga silahkan!" gemas Hanum.


"Jahat banget sih kamu Han, emang ga boleh apa sebentar aja cuci mata."


Hanum tersenyum, baru kali ini melihat kakaknya jelalatan lagi, bahkan ia terpesona dengan pria tadi. Untung saja ia pernah ada di posisi labil, saat ia belum menikah. Jadi ia selalu tidak aneh. Tapi mungkin kakaknya itu selalu mementingkan karier. Atau tragedi pacar gilanya yang nakal, sebelum Lisa menikah dengan Fawaz. Percintaan beberapa pekan lalu, membuat jiwa Lisa goyah. Bahkan, Fawaz terlalu cuek dan dingin pada Lisa.


"Kak, apa masih lama studionya. Benar ini, sebab aku harus bertemu Nazim. Kalau kita salah tempat. Hanum pasti kasian sama Nazim, menunggu lama?"


"Hahaha, heuuumph." Lisa tertawa dan diam kembali.


"Kak, kok ketawa sih?"


"Gak apa apa, Han." balas Lisa, ia menahan tawa akan sikap lucu adikya itu. Lalu menunjuk sebuah gedung hitam, dengan banyak gajebo di gigir gerbang.


"Tuh lihat, studio di sebelah kiri kamu. Terus kamu liat ga, kalau di ujung sana itu kayaknya Nazim deh!" senyum Lisa menunjukan pada Hanum.


"Eh, iya. Bener nih, ya udah turun yuk kak."


***


BANDARA.


Rico yang telah tiba dibandara soetta. Ia langsung menuju kantor dan menemui Fawaz di rumah sakit. Karna kerjasama mereka, sehingga akan selalu bertemu. Tak lama ia mendapat notif dari seseorang. Ia menyuruh seorang pekerja untuk mengawasi dan melindungi Hanum sang istri dari jauh.


"Apa, foto apa ini?" lirih Rico. Ia mengepal emosi menatapnya. Lalu ia sembunyikan ponsel itu di balik jaketnya.


Tak lama Fawaz datang, lalu ia menatap Rico yang sedang menatap sebuah foto, yang mungkin di kirim dari seseorang.


"Kenapa, ada apa dengan Hanum. Kenapa itu ada Lisa juga?" tanya Fawaz, membuat mata Rico tersadar.


Tbc.