
"Apa yang mau kamu ungkapkan Hanum?" lirih Alfa menarik tangan Hanum.
"Memberitau jika aku hanya istri ktp seorang putra Jhonson. Dan menarik artis movie bispak ini, adalah wanita setianya yang akan menjadi nyonya Alfa,"
"Jangan macam macam kamu Hanum! Irene pulanglah dulu bersama Elmo. Aku akan mengunjungimu!"
Dari hasil itu Hanum tersenyum, Irene sedikit kesal. Karna pada akhirnya di acara penting ini. Hanum menang dan menyumbingkan senyuman dengan mata yang sangat puas melihat Irene di usir oleh Alfa.
Berbeda hal dengan Lisa, ia mendekati sang adik dan memintanya untuk menghentikan perdebatan. "Han, kamu bermain seperti ini bukan karna jatuh cinta kan?" bisik Lisa.
Tapi Hanum terdiam, kala menatap tak sadar tatapan Fawaz sangat kecewa. Mungkin harapan Fawaz adalah agar Hanum terus terang pada publik. Siapa dirinya di hadapan Alfa status aslinya. Dan siapa wanita bernama Irene itu.
"Fawaz. A- aku." terdiam Hanum kala Fawaz pergi meninggalkan Hanum dan masih melihat Alfa menoleh menatapnya.
Lisa juga ikut kecewa karna sang adik, tidak mempublikasikannya. Padahal kesempatan emas bagi Hanum, karna Lisa tak ingin adiknya terus disakiti.
Hanum sedikit lemas, ketika Lisa lebih memilih pulang. Begitu juga Fawaz yang sudah tak terlihat di acara itu. Sementara Nazim ikut melambai tangan seolah agar Hanum senyum.
Gathring dance telah selesai. Namun Alfa Jhonson, Mr. Colbie dan Mr Lucky masih mengalun. Alfa yang punya banyak koneksi memamerkan Hanum kemana mana. Dua pria itu adalah klien papanya dalam terciptanya prodak Pc Jhonson.
Sejak umur belasan tahun ketika teman teman Alfa melecehkan. Fawaz mengambil kesimpulan jika dirinya menarik secara fisik. Yeah seperti sekarang, orang orang yang menjabat tangannya menatap penuh pemujaan dirinya.
Termasuk David Pemilik Corp yang merupakan teman satu circle Alfa saat ini. Selama 3 tahun mengenal Alfa, membuat Hanum jadi tahu siapa siapa saja teman satu tongkrongan Alfa dan bagaimana sifatnya. Pantas saja Fawaz bicara, jika ia lebih menyukai menjadi dokter ketimbang usaha miliknya.
'Tunggu, apa maksud dari perkataan Fawaz perusahaan miliknya?' terdiam Hanum, ia menoleh kesekitar mencari keberadaan Fawaz.
Dan untuk yang satu ini, tak salah rasanya Hanum memberi definisi, playboy heteroseksual yang sifatnya 11 -12 dengan Alfa.
"Hai, Alfa, jumpa lagi!" sapa David lalu menatap wanita disamping Alfa, sangat cantik.
"Ini rupanya Nyonya Alfa? ku kira dengan ..?" lirih David memainkan lidahnya.
"Ya, dia istri pilihan papa. Menjadi istri tidak berarti mengatur hobiku bukan. Hahaaa?" tawa Alfa pada David.
Hanum menarik nafas, ia meregangkan jemari tuk melepaskan genggaman pria itu, tetapi lelaki jangkung ini sama sekali tidak membiarkan tangannya terlepas. Hal itu membuat Hanum melepas dengan paksa, lalu meninggalkan Alfa yang gila. Bisa bisanya bersikap tidak adil mempermalukannya lagi dengan kegilaannya.
Hanum pamit undur diri dengan segera. Dia tidak mau menjadi saksi keributan sepasang lelaki dan perempuan yang sepertinya terlihat dekat saat ini. Bahkan Alfa tak mengejarnya dan membiarkan tangan istrinya di ganggu oleh David rekannya, dan hanya melirik senyuman. Seolah ingin menjualnya.
"Cccih, gila." decih Hanum emosi.
Hanum menatap bahu Lisa yang dipeluk posesif Revan. Sementara dirinya dan Alfa malah berjauhan. Lucu sekali acara ini, rata rata tamu undangan lebih mesra dibanding pemilik acaranya. Hanum mengira jika sang kaka sudah pulang, ternyata ia menjauh dan menghampiri gebetannya. Tapi sosok mata Hanum tak mendapati Fawaz yang ia cari.
DI RUMAH.
Sekitar pukul dua belas lebih, Hanum akhirnya bisa melepaskan gaunnya yang berat. Dia sudah menghapus make up dan sudah mandi pula. Dia memakai piyama panjang berbahan lembut dengan wajah polos pucat. Hanum membuka Instagram sambil menunggu Alfa selesai mandi.
Ada banyak sekali postingan sampai instastory yang men-tag dirinya. Sebagai bentuk apresiasi, Hanum kembali merepost semuanya. Khusus instastory dari Lisa.
Hanum sengaja mensimpannya, sebab dirinya terlihat begitu bahagia, ia juga membantu viewers suport sang kaka.
Selain postingan tentang Gathering night, rata rata teman Alfa dan Hanum juga memposting unboxing souvenir. Hanum merepost salah satu video paling bagus.
"Siapa itu?" Hanum mendongak, dan ternyata Alfa mendekatinya. Jujur saja Hanum sedikit sungkan, karna ia harus sekamar.
"Postingan orang lagi direpost."
"Owh." singkat Alfa.
Hanum mengangguk. Dia kembali menatap layar kendati hidungnya mengendus aroma memabukkan sabun mandi Alfa. Sial, kenapa aromanya begitu segar? Dan Hanum ingin sekali mengumpat sebab Alfa hanya memakai celana piyama panjang yang mengantung di pinggang rampingnya.
"Aku menaruh baju di koper, pakai gih!" pinta Hanum menutup matanya.
"Kenapa? Enggak kuat lihat aku shirtless?"
"In your dream, Pak Alfa!" Hanum beranjak ke koper milik Alfa. Dia mengambil kaos oblong polos yang harganya tak sesimpel design-nya.
"Nih!" kata Hanum.
Hanum tak suka melihat piyama bawah Alfa yang sedikit ketat menonjol. Belum lagi kerah piyama yang membulat dan tak ada kancing. Sehingga memperlihatkan tubuhnya dengan rinci meski bagian tengah dan tercetak sedikit belahan roti sobek.
Alfa berpangku tangan. "Kenapa harus pakai baju kalau nanti ujungnya dilepas?"
"Excuse me?" tanya Hanum menyipit.
"Kita udah jadi suami istri Hanum."
"Dan kamu menagih hak, kita cuma istri ktp?"
"Of course. Tapi ini kediaman papa dan mamaku. Kenapa kita tak melakukan itu lagi agar kamu bisa memberikan aku bayi yang lucu?!"
"Kupikir ini waktu tepat ngomongin soal perjanjian pascanikah, aku enggak mau ada kontak fisik." tegas Hanum.
"REALLY?"
"Kita berdiri di lantai pernikahan yang rapuh, dibanding mempersulit keadaan dengan melakukan hal yang dilakukan orang normal, kenapa tidak kita batasi saja semuanya sejak awal?" jelas Hanum kembali mundur.
Alfa terlihat tersinggung. "Bukannya kamu udah terbiasa dijamah tanpa komitmen, kenapa sama suami sendiri begitu pelit?"
Sekarang Hanum yang tersinggung.
"Apa aku juga harus bayar untuk menikmati tubuhmu? Berapa satu malam?" ucap Alfa.
"Hentikan ucapanmu Alfa! aku tidak pernah disentuh siapapun. Kecuali pria brengsek di kamar 501. Aku membencinya sampai kapanpun!"
Apakah Alfa tidak sadar ucapannya serupa tombak yang menancap erat di jantung Hanum? Kenapa lelaki ini begitu moodswing. Satu waktu gentle, baik dan kemudian kembali jahat? Sikapnya membuat Hanum rapuh, ia pergi dan berlari mencari kamar tamu dan menguncinya untuk ia istirahat.
Di sana, Hanum menangis lagi. Ia ingin sekali meminta Fawaz mengerti. Tapi kesalahpahaman itu sepertinya membuat Fawaz memblokir nomor Hanum.
'Maafkan aku yang ceroboh! andai saja tadi tepat untuk aku bicara yang sebenarnya di hadapan wartawan yang meliput. Tapi aku bodoh malah bersaing dengan irene. Tidak! aku bukan jatuh cinta pada pria gila yang mati matian aku benci kan?" batin Hanum menggeleng kepalanya. Ia masih gemetar mencoba menghubungi seseorang.
Namun tiba saja satu pesan membuat ia lemas.' Tidak, ini pasti salahkan?' gumamnya.
To Be Continue!!