
Hanum merasa bersalah, di dalam mobil. Saat Rico berjalan ke arah rumahnya. Hanum masih tidak berani bersuara sepatah kata pun. Alhasil dalam waktu tiga puluh menit, suasana itu pun sunyi ketika masih dalam perjalanan.
Ingin rasanya Hanum memulai pembicaraan, tapi Rico sudah membuka kunci mobil, ia segera turun dan meminta Hanum baik baik saja.
Rico telah lebih dulu mencari keberadaan Adelia. Matanya dan sorot wajahnya sangat membuat ia marah, karena kali ini Adelia sudah keterlaluan membuat rencana pernikahannya gagal.
"Pah! dimana Adelia?"
"Adelia? tumben sekali kamu mencarinya, ada apa Rico. Jika ada masalah kita bicara baik baik."
Adelia!! teriak Rico bergema.
Hanum yang baru saja tiba di depan ujung bibir pintu utama. Ia merasakan rasa khawatirnya, kala Adelia mendekat ke arah Rico dengan membalas panggilan sang kakak.
"Ya! Oh, ka Rico. Ada apa, kata Erwin kakak mau ajak aku pergi ya?" senyum Adelia mengembang, setelah berhasil sampai di ujung tangga.
Plaak!! tamparan mendarat keras pada pipi Adelia. Ia segera menatap wajah Rico yang terlihat merah padam, dan cukup membuat suasana mencekam.
"Rico, apa yang kamu lakukan. Kenapa kamu kasar pada adikmu?" terkejut Mark.
"Kak Rico tampar aku, kenapa kak?" lirih Adelia.
"Papa tanya saja sama anak angkat papa ini, dia tidak tau diri?"
Rico!! teriak Mark, agar Rico tak melanjutkan perkataannya lagi.
"Anak angkat, aku ini adik kakak. Anak dari bibi kakak, lalu kakak anggap aku anak angkat. Seolah tidak ada hubungan darah?"
"Adelia, cukup jangan bersandiwara. Aku mau kamu katakan semuanya!"
Adelia masih berpura pura, lalu ia menatap Hanum yang ada di gigir pintu, masih menatap pemandangan yang mungkin Hanum lihat.
"Oh! jadi karena wanita itu, kakak berani menamparku? Dan kamu Hanum, kamu suka melihat semua ini?"
"A-aku." lirih Hanum.
"Jaga ucapanmu! aku tidak akan menamparmu, jika kamu tidak melewati batas. Adelia!"
"Kakak akan menyesal, sudah membuat aku dipermalukan. Aku akan pergi dari rumah ini, jika kalian menginginkannya." ancam Adelia.
Dengan mengepal tangan, Rico sudah habis kehilangan kesabaran. Hingga akhirnya ia melemparkan rekaman saat Hanum menemui Adelia, dan terdengar jelas Adelia menghina Hanum.
Mark ikut melihat, ia tak percaya sikap Adelia saat ini merendahkan. "Apa yang kamu lakukan Adelia, kenapa kamu tidak sopan pada Hanum, dia akan menjadi kakak iparmu?" tanya Mark.
Dan itu adalah photo saat Rico, selesai meeting di paris. Sehingga tubuh Mark goncang, duduk dan lemas kala Adelia melakukan hal tidak baik.
"Bukan itu saja pah! Adelia selain merendahkan Hanum, calon istri Rico. Dia bicara jika Hanum toxic. Dia juga menyuruh wanita teman baiknya yang bernama Meri, untuk bicara sama Hanum, dan mengaku ngaku Rico yang telah menghamilinya."
"Apa..?' terdiam Mark, ia meminta Erwin mengambilkan obat.
"Rico mengejar Hanum, dan Hanum sudah bicara untuk membatalkan pernikahan demi tanggung jawab. Yang Rico sendiri tidak tau. Pah." jelasnya.
"Keterlaluan kamu Adelia. Apa ini balasan kasih sayang kami. Kamu tega menghancurkan kebahagian kakak mu?" lirih Mark dengan suara terpenggal penggal.
Tak lama ketukan seorang wanita, membuat semua menoleh. Adelia cukup terkejut karena temannya berani datang ke rumahnya. Erwin mempersilahkannya masuk. Hanum ikut menatap dalam, ketika wanita bernama Meri juga ikut hadir.
"Meri, elo kok..?" lirih Adelia terkejut.
"Adelia, maaf aku harus bicara dengan jujur tanpa bilang dulu, aku tau kamu melarangku ke rumah megah kamu ini, tapi aku tertekan. Dan aku akan bicara yang sejujurnya.
"Mbak Hanum, maaf soal berita yang aku bicarakan. Itu hanya lelucon, dan suruhan dari Adelia karena tak menyukai mbak. Aku dan Rico tidak pernah mengenal, aku ke paris memang benar. Tapi menemani Adelia yang berlibur. Maafkan saya! karena saya yakin Rico pria baik, maka itu sudah jadi keuntungan bagi saya, juga jika Rico sampai tanggung jawab." jelas Meri.
"Dasar penghianat kamu Meri." teriak Adelia tak suka.
"Jadi yang kamu bilang, kamu dihamili Rico itu ga benar?" tanya Hanum dengan sesak yang bercampur rasa bersalah.
"Kalian benar benar gila, kalian hilang akal sehat kalian. Rico, semua terserah padamu untuk menghukumnya! papa penat, dan papa kecewa dengan kamu Adelia. Berkemaslah! papa tidak ingin melihatmu, sampai kamu sadar apa yang kamu perbuat!" jelas Mark, ia segera pergi di temani Erwin.
Rico mengancam wanita bernama Meri. Sementara Adelia menangis dan menabrak bahu Hanum, kala pergi.
"Hentikan Adelia! berlaga sopan lah kamu!" teriak Rico.
Sementara Meri yang meminta maaf, ia dibawa oleh Erwin untuk menerima hukuman.
"Mbak Hanum! tolong jangan bawa kasusnya ke jalur hukum, saya janji tidak akan mengganggu mbak lagi. Maafkan khilaf saya, saya terima itu karena terpaksa dan butuh uang. Mangkannya saya terima permintaan Adelia."
"Permintaan, dengan logika smart. Lain kali pikir dua kali!" ketus Rico, lalu meminta seseorang membawa Meri pergi dari hadapannya.
Hanum hanya diam, ia meletakkan tasnya. Lalu berjalan mundur, sementara Rico memeluk Hanum dengan menatap wajah.
"Rico, jadi semua ini. A-aku minta maaf Rico. Aku sudah menuduh kamu yang bukan bukan."
"Kamu ga salah, jika aku berada di posisimu. Aku pasti akan percaya, ingat pesanku. Jangan langsung mengambil keputusan, aku ga mau kita berpisah Hanum. Percayalah padaku!" senyum Rico mengelus pipi Hanum.
Tbc