
Hanum yang selesai bekerja, lagi lagi ia mendapat pesan misterius. Setelah menyalakan panggilan. Pesan itu membuat Hanum ketar ketir dan melirik ke arah lorong tempat ia bekerja.
"Ga mungkin, kemarin Rico bilang kalau dia benar masuk bangsal Rsj. Kenapa dia bisa memberikan pesan untuk aku, kenapa dia bilang mau hampiri aku lagi, ini ga mungkinkan?"
Hanum segera pergi dengan terburu buru, ia bermaksud menemui Rico di lantai tujuh. Tapi saat bersamaan ia masuk lift, terlihat samar seseorang mengarahkan satu ruangan.
Erwin mengarahkan satu tangan pada wanita itu, namun saat Hanum masuk kedalam lift. Hanum tidak sadar jika seorang pria dengan pakain serba hitam dan penutupnya membuat Hanum tak menyadari, Hanum fokus pada pesan misterius.
Tapi saat Hanum ingin memencet tombol tujuh. Pria itu menahan tangan Hanum. Dengan reflek Hanum menatap dalam dalam. Sorot mata itu benar saja membuat Hanum yakin, siapa wajah dibalik masker itu.
"Kenapa kaget?" serak jelas Alfa.
"Kamu, ga gila Alfa?" terkejut Hanum, ia menjatuhkan ponselnya.
"Ikut aku! jika kamu berani membuat keributan, apalagi Rico tau aku. Maka bukan wajahmu saja yang lebih hancur dari kemarin. Tapi Lisa dan mama Rita. Hahaaa, dia juga akan bernasib sama. Tinggal klik tombol hijau yang tersambung di arlojiku. Sudah aku pastikan bukan." jelas Alfa.
"Kenapa kamu jadi kacau seperti ini Alfa, aku bahkan sudah menuruti kata katamu. Kenapa kamu bersikap tidak sehat?" isak tangis Hanum mengepal tangan.
"Jika kamu macam macam, maka ikuti perintahku! setiap jam siang aku akan menghubungimu. Pakai clip on dan kamera kecil ini dimana pun kamu berada. Ikutin kemauanku, jika tidak aku bukan saja menyakiti kamu. Bahkan video yang diambil dari Rico, video wajah jelek dan tubuh gendutmu itu akan tersebar." tawa Alfa pecah menatap wajah Hanum yang pucat.
Alfa meninggalkan Hanum di atas rooftop. Selama beberapa puluh menit, Alfa mengancam Hanum. Dengan getar ketakutan, Hanum mengepal dua benda yang Alfa berikan sebagai ancaman.
'Apa Alfa menyuruhku untuk melakukan kejahatan. Tidak, aku ga akan pernah biarkan Alfa menyakiti orang yang aku sayang. Soal ini, aku harus menyembunyikan dari Rico.'
Hanum berjalan dengan gemetar, ia melupakan tas dan ponselnya. Ia menyelipkan benda dari Alfa di saku celananya. Ia matikan tanda merah yang menyala. Hanum masih bingung, kenapa Alfa terus saja membuat hidupnya tak nyaman.
Hingga dalam hatinya ia berteriak untuk melawannya, karna Hanum lelah dengan ancaman Alfa. Seolah hati Hanum yang lembut, ia menyalakan clip on yang mungkin tersambung pada langkah Alfa yang mungkin masih mengintainya dari jauh.
"Alfa, apa maumu akan aku turuti. Tapi jauhi orang orang terdekatku!" lirih Hanum dengan gemetar.
Hanum mematikan clip on, setelah mendapat balasan dari Alfa. Benar saja ia semakin menangis sekencangnya di atas rooftop hingga menjelang sore. Setelah tenang, ia segera turun kebawah. Namun saat ia melewati anak tangga, ia mendengar suara tidak asing.
Hanum semakin mendekat, dan berusaha membuka pintu anak tangga, tapi tak jadi ia lewati sampai dua orang yang bersitegang menghentikan perdebatan.
"Rico, dengan wanita itu?" terdiam Hanum menyimak, jujur saja ia malas berfikir karna tenaganya sudah habis menghadapi Alfa. Dan ingin cepat pulang. Tanpa diketahui Hanum harus melihat Rico, yang tak sengaja berada di lorong pintu tangga.
"Nggak ada yang perlu dibicarakan, Caty!Sudahlah. Biarkan aku pergi." Rico berusaha menghindari tatapan itu dengan melihat lantai jika tak ada satu pun karyawan yang melihat.
"Jelas ada. Selama ini Mamaku biarkan kamu acuh sama aku, karna hidupmu nyaman, pekerjaanmu bagus, pernikahanmu bahagia tapi kamu jelas udah di tinggal Lea. Tapi lihat sekarang, perjanjian keluarga kita harus tetap terjalin bukan hanya bisnis. Tapi kita bersama juga Rico." jelas Caty.
Hanum terdiam, mendengar hal itu membuat hati Hanum hancur. Hanum turun kebawah tangga dengan pintu lain. Berusaha pulang dan tak ingin lagi mendengar ocehan Rico saat ini. Hingga ia berhasil melewati pintu belakang kantor, Hanum pun meminta ojek pangkalan mengantarnya pulang sampai di rumah.
Sementara Rico dan Caty masih berdebat.
"Aku bisa urus hidupku sendiri. Aku bahkan sudah 35 tahun. Berhentilah mengurusku dan hiduplah tenang dengan pria kaya itu, dia jelas menyukaimu Caty. Aku tak peduli," kata Rico.
Caty kesal, ia meminta kejelasan Rico mengapa ia memutuskan tali bisnis dan ikatan yang sudah di putuskan oleh dua keluarga.
"Sebelum mamamu meninggal, dia menemui Mamaku dan meminta Mamaku mengurusmu. Selain itu Mama juga mengawasi hidupmu diam diam. Kamu pikir Mama tidak peduli dengan hubungan kita Rico. Mama ku satu satunya peduli pada kita?" jelas Caty.
Rico terdiam mendengarnya. Saat kata kata soal mamanya disebut, hatinya seperti tergores lagi.
"Maafkan, mamaku. Mamaku yang salah. Tapi berhentilah berharap Caty, keluarga kita hanya bisnis saja. Tidak lebih, kamu harus percaya padaku! aku menganggapmu hanya sebagai adik dan sahabat lama yang mustahil kita bersatu." jelas Rico, ia pergi meninggalkan Caty sendiri.
Dan saat Rico sampai di lift, ia terkejut menemukan sesuatu.
~ **Bersambung** ~