BAD WIFE

BAD WIFE
TERSENTUH



Hanum yang membuka tirai, tubuhnya sedikit sakit. Kini rasa perutnya benar saja sudah membaik setelah meminum vitamin. Juga obat herbal yang dikirimkan Fawaz. Hanum sedikit tersenyum ketika menatap pesan chat dari Fawaz. Tapi ia buyarkan untuk bersikap layaknya teman baik.


'Andai saja pria yang perhatian itu suaminya, meski dipertemukan dengan tidak baik. Tapi Hanum merasa Alfa tipekal setia.'


Hanum membuyarkan pikirannya, ia merasa tidak perlu lagi bersikap dengan hati. Tujuannya adalah dendam, untuk apa juga bersama pria players seperti Alfa.


Hanum kembali turun kebawah anak tangga dengan hati hati, ia membuka pintu kala Lisa sang kakak sudah menjemputnya.


"Macet ya kak?"


"Enggak! mama ga bisa ikut, kurang fit Han, tadi kakak antar mama ke rumah eyang dulu."


"Owh! pantas, dadakan ya. Ya udah, kita langsung aja kak. Om Jhoni mememintaku cepat datang,"


"Ga tunggu suami kamu dulu, kalau dia nyariin gimana?"


"Ga akan kak! lagian buat apa coba nyari. Nanti juga ketemu. Soal papa mertua, sudah dikirim pak Sapta juga. Hebat ya Om Jhoni setia banget sama istrinya." lirihnya.


"Iy, sampai nginep ya. Satu lantai di booking kaya hotel. Susah kalau orang kaya."


Hanum mengitari sebuah pandangan pada jalan. Matanya tertuju pada sebuah gedung besar menjulang. Yakni Apartemen movie yang pernah Hanum tau. Yakni itu adalah kediaman Irene. Lisa juga ikut menyadari, jika tatapan Hanum tertuju pada sebuah gedung berlantai.


"Lihat apa, pernah kesini Han?"


"Itu kediaman Irene. Lihat kak! mobil Alfa keluar parkir kan?" jelas Hanum yang ikut tersentag hatinya.


Lisa menoleh ke wajah Hanum. Lalu menarik nafas dan meminta Hanum untuk tidak goyah tujuannya.


"Kamu ga cinta sama Alfa kan? lantas kenapa kamu kaya cemburu?"


"A-aku. Enggak kak! hanya saja kenapa banyak yang di sembunyiin dari Alfa dan om Jhoni. Belum lagi, Hanum ga yakin jatuh cinta sama pria model Alfa, hanya saja .."


"Hanya saja apa?" terdiam Hanum kala Lisa memutar arah, Hanum hampir saja keceplosan mengatakan sedang hamil.


Hanum juga mengatakan jika Alfa mengkonsumsi obat. Dan kedua orangtuanya tidak tau. Belum lagi kejadian masih kecil masuk penjara. Namun hanya Maria yang tidak tau aksi kejam putranya.


"Apa, kamu serius Han?"


Hanum mengangguk, ia bercerita jika dirinya benar benar mengatakan yang sejujurnya. Hingga dimana Hanum mengalihkan pembicaraan lain agar tak terpancing. Lisa yang takut adiknya berakhir tragis seperti adegan di televisi. Ia meminta Hanum untuk segera berpisah dari Alfa.


"Kamu udah dapet rekaman?"


"Rekaman apa kak. Aaah iy, nanti Hanum cek deh. Hampir lupa kalau ka Lisa ga ingetin."


"Gimana sih, ya udah Kak cuma khawatir kamu itu bakal jadi korban apalagi sampai nyawa melayang. Mending kamu akhiri deh!"


"Ga semudah itu kak! kakak kebanyakan nonton aneh aneh deh pasti."


Lisa pun memarkir, lalu ia meminta Hanum untuk berhati hati. Lisa hanya bisa mengantar Hanum ketempat butik. Karna acara perusahaan Jhonson. Hanum diminta untuk mewakili bersama Alfa. Tapi Alfa meminta Hanum lebih dulu pergi. Hal itu yang searah dengan tempat kerja Lisa, ia menjemput Hanum dan mengantarnya.


"Kaka hati hati ya!" melambai Hanum.


Hanum masuk kedalam butik. Sudah lama sekali, hampir dua bulan ia kembali ketempat ini. Sayangnya tak sedikit yang kebingungan akan perubahan dirinya sedikit ramping. Tidak seperti pertama di anggap pembantu.


"Reservasi atas nyonya Alfa ya! silahkan nyonya sudah di tunggu!" ungkap pelayan.


Hanum awalnya senyum, tapi kala melihat Alfa sudah beres dan rapih dengan setelan rompi dan jas. Ia meminta Hanum untuk tidak mengulur waktu. Tanpa permintaan Alfa menyuruh Mua untuk membuat wajah istrinya paripurna dan terlihat tirus.


Sontag membuat aneh bagi Hanum, ia meminta Mua, untuk mendandaninya dangan tipis tipis saja. Meski hatinya benar benar galau mengingat semua wanita membuat Alfa senyum dan mata berembun kagum.


Alfa menunggu di luar, setelah ia meminta Hanum bergegas. Acara yang dilakukan sekitar tiga jam. Jadi Alfa segera memantau di ruang tamu untuk menunggu Hanum selesai di rias. Benar saja beberapa puluh menit kemudian, Alfa menjatuhkan majalah dan meraih tangan Hanum. Tapi ia menolak, membuat Hanum pasrah.


Alfa menghela napas, cukup tersinggung sebab di ruangan ini banyak orang. Masa pasangan saling mengacuhkan, kala ingin menyambut acara. Menggantikan Jhoni Jhonson.


"Kalau sudah terbiasa enggak berat kok Pak," perias wajah Hanum lah yang menjawab pertanyaan Alfa.


"Bapak pernah mendengar ucapan 'cantik itu luka?' Nah, barangkali ini prosesnya." jelas perias.


"Ribet," komentar Alfa. Yang kala ia sedikit terkagum melihat Hanum dengan make up.


Mungkin karena bosan menatap prosesi riasan yang tidak ada ujungnya, Alfa pergi tanpa pamit.


"Padahal jangan dijawab Mbak, biarin aja dia ngoceh."


Mbak perias terkekeh mendengar gerutuan Hanum.


"Tangannya saya cat ya Mbak?"


Hanum mengangguk. Dia menyerahkan tangan lentiknya untuk dipercantik. Kondisi ini membuat matanya mau tak mau melihat cincin sederhana yang harganya tak sesimpel bentuknya.


T&C, Alfa membawanya ke toko perhiasan asal New York tersebut. Hanum jelas sudah menduganya sejak awal. Seorang Alfa Jhonson tidak mungkin membawa ke toko perhiasan biasa. Minimal Dior. Belum lagi butik yang menyatu satu lantai. Membuat Hanum terus saja menoleh ke arah jari manis.


Ah, dia jadi ingat proses pembelian cincin ini yang begitu drama. Alfa yang mengkhawatirkan Hanum marah marah karena memakai sepatu berhak tinggi sedikit lelet.


Mengingatnya membuat Hanum kesal. Pasalnya sikap Alfa yang begitu membuat Hanum berpikir, Alfa hanya mengkhawatirkan malu jika Hanum tidak perfect.


Di depan pintu yang menghubungkan lorong dengan ballroom mewah, Alfa yang berwajah datar mengangsurkan tangannya untuk Hanum gandeng.


"Nanti aja di tengah," tolak Hanum. Tapi Alfa menipiskan bibirnya, lagi lagi tersinggung.


"Kalau kamu jatuh terpeleset karena ujung gown-mu sendiri, aku dan keluargakulah yang malu."


"Ya aku tau, bersikaplah lembut selamanya Alfa. Apa kamu tidak melihat sejauh apa aku sulit menggunakan hak tinggi?!"


Hanum kesal, tapi raut wajah Alfa meski ia adalah istri ktpnya. Entah mengapa melihat Alfa dengan jas setelan itu. Membuat matanya tak berkedip, ia jalan perlahan karna dirinya menjaga agar tidak jatuh atau keseleo. Bahkan terpeleset sekalipun.


"Aaauuwh!"


Alfa sadar, ia segera menatap kaki sebelah kiri Hanum. Kulitnya yang seputih susu, membuat Alfa mengeluarkan kaki Hanum. Lalu melepas sepatu dan terlihat memar merah meski baru beberapa menit berjalan.


"Kau sakit? apa yang kamu sembunyikan lagi dariku Hanum?"


"Soal apa?" kaget Hanum berusaha mengalihkan.


Tliith!


Dering ponsel, membuat mata Hanum terkejut kala melihat seseorang memberi pesan dengan kata kata mutiara.


To Be Continue!!


***


Sambil Nunggu Hanum lanjutannya di jam berbeda. Yuks kepoin karya litersi temen Author lagi.


~ Jangan bosan ya all ~


Judulnya : kembaranku maduku


karya : novi putri ang