
Pagi ini, Nazim berkunjung ke rumah Hanum. Setelah Hanum mengantar mas Rico pulang. Bukan tanpa alasan, Hanum yang menimang baby Ghina, dan kedua bayi lainnya sedang ikut bermain di teras rumah.
Si kembar Ghani dan Ghina kini sudah menginjak tujuh bulan, bobotnya semakin menggemaskan. Dan bayi Azri sudah di usia lima bulan, tapi hebatnya bobotnya sama persis seperti bayi Ghani, tak sedikit saat mereka ke taman. Hanum di sangka banyak orang, memiliki bayi kembar tiga.
"Sayang, kalian masuk kamar ya! mmmuach." ujar Hanum, selepas dari bermain taman. Meminta pengasug membawa anak anaknya ke dalam kamar.
Terlihat mbak Nazim, menggunakan sepeda motornya ia membawa paperbag dengan senyuman lebar.
"Duh, Hanum kedatangan tamu spesial."
"Ah, kamu nih Han! buat malu aja, sebelumnya assalamualaikum." sapa Nazim.
"Walaikumsalam. Ayo mbak! kita masuk!" ucap Hanum, membawa Nazim ke dalam dan berbincang bincang perihal banyak usaha Nazim.
Hanum kepikiran sangat untuk usaha baru, tapi mengingat ia yang masih hamil. Hanum rehat dan tunggu.
"Bentar ya mbak, Hanum ke dapur dulu! meminta bantuan bibi buat suguhin."
"Ga usah repot repot Han! semuanya aja kalau bisa. Hehhee." teriak mode guyon.
"Ehm, untuk apa Erwin datang?" Nazim menarik nafas. Lalu membuang wajah dan mengambil sebuah majalah berpura pura sibuk membaca.
Erwin yang melirik tapi seolah acuh, ia hanya bersikap biasa saja. Ingin tertawa karena majalah itu terbalik. Tak lama, Hanum telah datang dengan pakaian rapih seperti habis mandi.
"Nazim, lo datang juga, sungguh waktu yang sangat tepat!" senyum Erwin, tapi Nazim acuh.
Hanum melihat perhatian Erwin terpusat ke arah Nazim, dan melonggarkan kewaspadaannya. Nazim pun menggunakan kesempatan ini untuk meloloskan diri dari cengkraman Erwin, seolah ingin menghindar.
Siapa sangka, tampaknya Erwin juga memiliki mata di samping wajahnya. Dia menahan Nazim dengan pandangannya yang penuh arti.
Hanum mengerti apa yang harus dilakukan dan berkata, "Ternyata kalian ada di sini. Kalau begitu, aku pergi dulu ya, jadi sedikit ganggu." goda Hanum, menutup mata.
"Sebentar!" Nazim memanggil Hanum. Berusaha menghindar jika sedang berdua saja dengan Erwin.
"Han, mbak numpang toilet ya."
Erwin melirik sinis ke arah Nazim dan bergumam, "Permainan apa lagi ini, wanita penuh intrik."
Erwin memandang bayangan Nazim dengan perasaan tertarik. Apakah wanita ini berpikir kalau dia sangat buruk dan mengancamnya?
Tak lama mas Rico kembali pulang, seolah kembali ada yang tertinggal! pantas saja Erwin ke rumah dan berusaha ke ruang kerja Rico.
Dari arah samping mas Rico, tersenyum tersipu dan berbisik pada sang istri.
"Mas, ada yang ketinggalan?" tanya Hanum, dianggukan Rico.
"Wah, jarang sekali Erwin bisa tertarik dengan seorang wanita. Tampaknya Nazim itu lumayan, kenapa tidak kamu jodohkan saja sayang? kasihan Erwin membujang lama."
"Mas, Nazim tidak mudah." jelasnya.
"Lalu, bagaimana agar mereka cocok?" kepo Rico.
"Mas, mari ikut aku. Biarkan kita menunggu mereka setengah jam lagi. Kita akan lihat dari cctv, apakah mereka akan cocok. Hanum rasa, jika Erwin menyukai. Ia akan menghampiri bukan?"
Mendengar hal itu, Rico menurut pada istrinya. Sementara Erwin, ia menunggu telah dari lima belas menit menunggu berkas dari Rico, tidak tahan ia pun ikut mencari toilet tak jauh dari keberadaan Nazim. Karena toilet khusus tamu memang berada di sebelah kiri. Hingga di mana, Nazim yang baru keluar dari pintu kamar mandi, terkejut di lorong mendapati Erwin yang berjalan ke arahnya.
Satu langkah, dua langkah hingga tepat delapan langkah mereka berdiri pandangan.
"Apa yang lo inginkan dari gue Er, menguntit?"
"Menguntit .. mustahil,"
"Bicara sekali lagi, jika aku bukan pria itu, maka aku akan mengembalikanmu padanya. Tak akan mengganggu."
"Apa, dasar kaki tangan orang yang sinting. Dia pikir gue apa?" lirih Nazim acuh.
Nazim berusaha melewati tubuh Erwin, namun pria itu menyangga tangan, hingga membentur halus tubuh Nazim ke arah tembok, dengan berputar seolah sedang menarik.
"Aaach. Lepasin gak!" sinis Nazim menatap.
Tak lama Erwin mengecup ranum yang baru dilabuhkan. Nazim terngiang ngiang di kepala akan kilatnya aksi Erwin. Wajahnya langsung memerah dan tersipu malu sambil menahan amarah.
"Lo dasar, gak tahu malu!”
Erwin mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum jahat, "Jika kau ingin melakukan transaksi bisnis pribadi, maka tunjukkan ketulusanmu!"
Nazim merasa sangat marah. Dia tidak memperdulikan semuanya dan bersiap untuk pergi. Tapi, Erwin berkata dengan suara dingin.
"Kamu yakin sudah tidak mau penjelasan ini?"
Nazim mengepalkan tangannya dan berhenti di tempat. Hatinya terasa sangat marah dan serba salah. Nazim menolehkan kepalanya dan berkata.
"Erwin, kamu sudah keterlaluan. Kamu lupa, ini rumah orang?"
"Ok! Aku akan lakukan seperti yang kamu inginkan. Siang nanti aku akan ke rumahmu." senyum menggoda.
"Ich, dasar pria gila." berlalu Nazim.
***
BERBEDA HAL DENGAN HANUM.
"Mas, kamu masih kepo menatap layar cctv itu? Apa mas Rico, seorang petinggi yang sibuk mencari jodoh untuk bawahannya?" tanya Hanum sambil bertolak pinggang.
"Sayang, menurutmu apa mereka jatuh cinta atau mereka cinta bertolak sebelah?"
Hanum memijit kening, ia tak habis pikir. Apa sebenarnya kecelakaan tabrak mobil dengan motor sedikit meenyerempet itu, membuat otak suaminya tergeser. Entah angin apa, mas Rico berusaha sekali menjodohkan Erwin dan Nazim, yang jelas jelas mbak Nazim tak ingin ada hubungan lagi dengan Erwin.
"Mas, ayo kita keluar. Lupakan soal perjodohan, mereka tidak cocok!"
"Sayang, jika tidak jodoh. Maka seharusnya kita harus membuat mereka cocok." senyum melebar.
Hanum menatap tajam, dan menggenggam tangan suaminya dengan keras.
Hal itu membuat mereka terdiam, lalu dengan spontan mereka keluar. Tetap saja saat mereka keluar, terlihat suaminya masih penasaran dan berbisik untuk bertanya.
"Sayang, aku pikir Erwin telah berbeda. Dia itu tak seperti dulu, baru mencoba dan percaya akan cinta. Menurutmu, apa penyebab Nazim tak menyukai Erwin. Tidak membalas, apa mereka mempunyai masalah?"
Perkataan mas Rico, membuat Hanum terlihat memikirkan masalah serius. Jika Erwin ingin mempertanggung jawabkan masalahnya. Untuk apa, Nazim menghindar dan memilih Vero yang ia kenalkan lewat chating. Bahkan Hanum tak melihat lagi mbak Nazim di jemput Vero. Apa mereka punya masalah juga, benak Hanum berkecamuk.
"Mas, lupakan. Jika mas ingin membuat mereka bersatu. Kita pikirkan nanti, aku ingin mas kembali kesemula. Bukankah mas ingin meminta Erwin menyelesaikan proyek penting ini? mas pulang lagi karena ada berkas yang tertinggal kan?"
"Ah! betul sekali sayang. Maaf, melihat wajah Erwin tadi, mas jadi bersemangat menyatukan mereka." senyum Rico.
"Menyatukan?" tegang Hanum.
Mereka kembali ke teras, terlihat tiga bayinya berseru kala melihat sang papa. Hanum pun tersenyum manja, melihat anak anaknya seolah gembira melihat papanya datang bersamaan.
"Oh, anak anakku yang lucu." lirih Rico, meraih stroller dengan tiga bayi.
Tbc.