BAD WIFE

BAD WIFE
BERSAING MARKET MARCO



Rumah sakit!!


Hanum merasa gembira, kala saat ini mendengar kabar Lisa juga sedang hamil dengan usia kandungan lima minggu. Hal itu membuat aura Hanum bahagia, karena anaknya akan lebih tua dari anak Lisa. Dan mereka akan bersama sama seperti ibunya.


"Kak, selamat ya. Hanum bahagia deh. Anak anak kita kelak akan sama kaya kita."


"Iy Han, kakak juga bahagia. Ga sangka akan secepat ini hamil. Kita kabarin mama pasti seneng deh." senyum Lisa.


"Iya, bakal sekaligus dapat dua cucu." balas Hanum.


Fawaz datang, dengan mengecup kening Lisa. Di depan Rico dan Hanum saat itu tanpa malu. Karena hal yang di tunggu tunggu mereka nantikan, berbuah manis.


"Uuuh, so sweet." goda Hanum.


"Sayang, kamu iri. Sini mas kecup kening kamu doubel doubel, sisa bonusnya nanti malam ya."


"Mas, bicara apa sih." merona Hanum malu.


Sehingga satu ruangan tertawa puas, keadaan Lisa yang menunggu dokter memperbolehkan pulang. Lisa dan Hanum berbincang banyak. Sementara Rico dan Fawaz berada di luar membicarakan banyak hal.


Dokter akhirnya memperbolehkan Lisa pulang, sehingga saat itu Rico bergantian menyetir. Dan saat itu mereka mengantar lebih dulu Lisa dan Fawaz ke rumahnya.


"Thanks Rico, bawa aja dulu mobilnya. Ini kunci apartemen lo. Selamat kembali menjadi pemimpin ya!"


"Makasih."


Hanum bahagia, karena sebagian aset Rico di tebus oleh Fawaz. Dan selama sidang belum menyatakan market Marco berpindah ke tangan Alfa. Maka Rico masih memimpin, dan delapan puluh persen Rico akan memenangkannya, dan saat ini Rico serta Hanum kembali pulang.


ESOK HARI.


Apartemen, Rico menghirup nafas segar. Terlebih saat ia terbangun. Wajah sang istri yang sangat natural.


"Mas, udah bangun. Aku lupa belum masak?" saling menatap.


"Mas, udah pesen sarapan untuk kamu sayang. Mas buat roti aja, kamu ga apa mas tinggal ke kantor?"


"Mas, ga apa dong. Selamat kembali ke dunia mas. Karyawan pasti senang, mas akan jadi pemimpinnya lagi. Hanum dengar kemarin dari ka Lisa, orang orang yang di pecat sama Alfa. Hari ini kembali kerja ya?"


"Heuuumph! dan orang bermasalah Alfa di kantor, mas suruh keluar. Entah bagaimana nasib gudang sayang, karena di pimpin sama orang yang bukan ahlinya." merengkut Rico, masih menarik Hanum dalam balutan selimut tebal.


"Mas, ayo mandi!"


"Sepuluh menit lagi, mas masih rindu sama kamu sayang." manja Rico.


"Mas, harusnya bumil yang di manja. Kok ini terbalik sih."


"Ga apa apa, kamu manjain mas tiap pagi. Anggap aja sarapan spesial mas. Biar mas semangat ngantor."


Hal itu membuat Hanum terkeukeuh tawa. Lalu membalas kecupan Rico yang aduhai merajalela.


"Ini tidak adil, bahkan dengan penampilan yang berantakan, mas Rico masih terlihat tampan." gerutu Hanum.


"Kamu gimana sih mas, masang dasi aja nggak benar, gimana mau mimpin perusahaan coba, harusnya tadi kamu ga tidur lagi. Sudah pukul sepuluh pemimpin macam apa datang siang?"


Hanum kembali menggerutu seraya memasangkan dasi suaminya. Padahal saat pagi mereka bergulat, Hanum juga ikut tertidur karena lelah.


"Sok tahu kamu, kamu mana tahu gimana sulitnya mimpin perusahaan sayang?" ujar Rico gemas membela dirinya.


Hanum yang merasa ditantang menjawab sambil memasangkan dasi suaminya menjawab kilat.


"Ya ... tahu lah, kamu cuman tinggal duduk di kursi besarmu, tanda tangan sana sini, nyuruh bawahanmu membuat kopi dan makanan, lalu pulang, gitu kan?"


Hal itu membuat Rico menutup bibir Hanum yang masih saja mengoceh, dengan bibirnya. Seolah membuat tanda agar Hanum tidak cerewet lagi, selama beberapa menit.


Huuup!! dan Hanum terdiam tak berkutik.


***


DI SATU SISI ADELIA.


Adelia yang sudah disulut amarah langsung mengambil handphone di tasnya dan mencoba menelpon Alfa. Tapi dia ingat, mereka belum sama sekali bertukar nomor telepon. Dengan muka masamnya, Adelia meminjam handphone milik supir dan langsung menelepon Alfa.


"Halo. Ada apa pak?" sahut Elmo menjawab panggilan telponnya, yang ia kira itu adalah supir di rumah.


"Elmo, tolong berikan ponselnya pada Alfa!" teriak Adelia, sehingga Elmo segera memberikan pada Alfa di sebelahnya.


Heuumh!!


"Kamu ngapain ngelarang aku buat keluar rumah? Kamu kira aku tahanan apa?" tanya Adelia dengan nada marahnya.


Alfa yang terkejut dengan nada marah Adelia lantas membalas. "Loh kan emang tugas kamu cuman di rumah. Jadi wanita yang baik di rumah. Ngapain juga keluar rumah segala, mau ngukur jalan? ga ada gunanya kamu keluar tidak membantu!"


Adelia yang merasa dituduh, langsung marah dan menjawab "Apa apaan kamu? Kamu yang ninggalin aku di malam itu, kita untuk tidur sama cewek bayaran, kamu pula yang nuduh aku selingkuh. Lantas aku mau pulang kamu larang aku, dasar gila."


Alfa yang tersulut emosi membalas, "Hey, terserah aku mau ke mana malam itu. Toh, kamu sudah di buang. Mau aku jadiin kamu pembantu di rumah pun, kamu gak ada hak buat protes."


"Bede-bah kamu! Cuman karena aku buat kesalahan, bukan berarti aku milikmu. Kamu nggak berhak buat ngatur hidupku sesukamu," ujar Adelia tak kalah marah.


Alfa pun menaikkan suaranya dan membalas, "Apa kamu lupa statusmu? Kamu itu istriku, jangan lancang sama aku! Tetap di rumah dan jangan ke mana mana sampai aku pulang. Kamu masih harus perhitungkan, karena market Marco, aku akan kalah telak lagi wanita murahan!" ancam Alfa.


"Per-setan sama omonganmu, Alfa! Aku mau pergi meskipun kamu melarangku."


Dengan sikap keras kepalanya, Adelia mematikan telepon sepihak dan menturn off hpnya sehingga Alfa tidak bisa menelponnya kembali. Adelia mencari cara untuk kabur, ia seberusaha mungkin ingin meminta maaf pada mbak Hanum dan mas Rico. Dan takut kembali di penjara karena ulahnya saat itu.


Praang!! kaca pecah.


Tbc.