
Pandangan Lisa sedikit gugup, saat tubuhnya ditahan oleh Fawaz dengan gaya cool. Bagaimana tidak Lisa kesemsem, saat Fawaz masih berbicara melalui earphone, bisa bisanya ia cekat melompat ke arahnya yang hampir jatuh.
"Aduh, ponsel mama low lagi. Coba kamu kaya tadi lagi nak?!"
"Mah! jangan bikin malu putranya dong. Fawaz sekedar nolong tadi. Lisa kamu ga apa apa kan? lain kali hati hati!"
"Hah! enggak kok. Makasih ya. Aku baik baik aja, tadi karna kesengkat meja itu." jelasnya.
"Sengaja juga ga apa Lis. Kamu udah bisa kembali jalankan? Ayo! temani tante. Kita duluan ke meja makan." tante Felicia meraih tangan Lisa.
Sementara Fawaz hanya menggeleng dan mengekor, seperti duckling.
Lisa begitu tersenyum, melihat tingkah tante Felicia yang open padanya. Seolah sudah menyalakan lampu hijau untuknya menggaet hati Fawaz. Tapi ingatan Hanum, kembali muncul agar sikap dan hatinya terjaga.
'Ya ampun! enggak. Ga boleh, Fawaz itu kan pria impian adikku. Ga boleh kaya gini terus nih, aku pastiin ini pertemuan terakhir. Ga bakal keulang lagi kaya gini. Bisa berabe, bisa terikat penuh kalau aku terus sering ketemu Fawaz apalagi tante Felicia.' batin Lisa.
Mereka pun makan bersama, Lisa masih meyakinkan dirinya untuk tidak jatuh hati pada pria impian Hanum. Lisa tau adiknya itu punya teman baik, tapi ia tidak tau jika pria itu adalah Fawaz yang kini menjadi dokter terhebat.
Dan bodohnya Lisa pernah satu kelas dengannya, hanya berjumpa dua hari. Fawaz adalah teman sekelasnya dahulu, karna geniusnya, dia dipindahkan dari kelas Hanum ke kelasnya.
Sayangnya saat itu Lisa tak sadar akan anak baru bernama, Fawaz Jhonson adalah pria didepannya saat ini.
"Jadi dulu emang Fawaz sekelas ama Hanum. Trus dia sempat di naikan ke kelas sembilan kan? Kalian dulu pernah ketemu gak?" tanya Felicia.
"Mah. Itu sudah lama, bahkan Fawaz tidak dekat dengan teman lain selain Hanum." jelas Fawaz memotekan hati Lisa. Padahal ia sempat ingin menjelaskan soal Fawaz yang tak ia sadari.
"Kamu ini, ok! mama ga akan jodohin lagi. Lagian kamu suka sama cewe seperti apa sih? Lisa jomblo. Kamu juga Nak! kenapa kalian ga dekat saling kenal gitu?" senyum Felicia.
Uhuuuk! Uhuuuk. Lisa tersedak mengambil gelas.
Eheeeum! Sementara Fawaz melirik Lisa juga ikut terkejut, bukan main sang mama ini membuat perintah tanpa aba aba ga pake rem.
"Ya, ga bisa gitu dong Mah! Fawaz emang belum ada yang cocok aja. Kalau kita jodoh, pasti ga akan kemana. Tapi ga dengan paksaan. Udah, ni aku bagi steak aku buat mama! biar mama fokus sama pasein mama yang banyak mau lahiran nanti!" senyum Fawaz.
"Buat mama, kamu makan kentang sayuran aja nih. Serius?"
"Iya, kan nanti mama pasti ekstra full di rumah sakit. Biar ga keliatan kurus amat mah."
"Ikh jahat! bilang aja kamu diet nak? ketus aja, kaya cewe lagi pms. Kamu itu kalau nolak ngeri, melebihi ibu ibu lagi kontraksi. Ok! mama ga akan jodohin kamu sama wanita lain. Tapi mama setuju kalau kamu sama Lisa. Heuuum iya kan Lisa?" senyum Felicia menatap Fawaz putranya, lalu melirik Lisa yang sedikit salah tingkah.
"Lis, jangan dengerin mamaku. Seperti itu memang mamaku. Jangan diambil hati ya!" alhasil Lisa menurut.
***
Beberapa minggu kemudian.
"Kamu yakin udah membaik Han?"
"Aku ga ijinin, kamu ketemu sama Fawaz."
"Alfa! kalau kamu mau aku percaya, kalau kamu itu udah benar benar berubah. Ga berhubungan sama Irene. Dan kamu benar benar ga akan nyakitin aku lagi dengan omong kosong lidahmu yang suka kepleset hina fisik seseorang. Percaya sama aku, aku tau kodrat aku sebagai istri orang lain! dan temuin aku sama Irene. Bisa?" teriak Hanum.
"Bisa aja sih, tapi aku antar. Kalau nomor dua, aku ga bisa ijinin. Soalnya Irene lagi ga bisa ditemuin."
"Haah bullshit, Ga bisa ditemuin atau kamu yang takut Alfa. Kamu belum benar benar putuskan sama Irene. Aku bingung, apa aku harus turun kebawah. Bicara semuanya sama mereka, kalau kita itu..."
Huuup! Alfa meraih tubuh Hanum, dan menempelkan ranum dengan kilat. Sehingga Hanum terdiam dan saling menatap tanpa sepatah katapun.
"Aku akan turuti. Aku akan bicara sama asisten Irene. Jadi sekarang aku tunggu di bawah. Aku panaskan mobilnya dulu, aku antar kemanapun kamu pergi Hanum sayang. Termasuk bertemu Fawaz."
Hanum seperti ingin pingsan, bisa bisanya saat ia sedang marah. Alfa mencuri kesempatan emas, benar saja setelah itu terjadi. Emosinya yang meledak sirna tak kembali panas, saat Alfa kilat membuat ia berdegup. Perlakuan Alfa tadi membuat konsentrasi Hanum hilang begitu saja.
'Sabar! aku harus bersabar, aku bisa cari cara. Cara agar menyaksikan jika Alfa itu benar benar tidak membodohiku lagi. Hanum, ayo sadarkan dirimu. Jangan sampai cinta itu tumbuh, Alfa sedang merencanakan sesuatu padamu itu pasti.' gumam Hanum.
Tak menunggu lama, Hanum turun kebawah tangga. Ia bertemu mama mertuanya dan pamit. Sehingga wajah mama mertuanya itu sangat berbeda ada raut gembira ketika tau, Hanum akan pergi bersama Alfa.
"Mah! Hanum pergi dulu, nanti malam ga usah tunggu Hanum. Sebab Hanum mau jenguk mama di rumah dengan ka Lisa!"
"Baiklah! mama ngerti, sudah kering ya. Semoga berhasil dan lancar ya Han! mama ga sabar pengen nimang cucu." senyumnya.
"Cu-cu." lirih Hanum dengan wajah bingung.
"Ya Mah! itu pasti, kami akan bermadu kasih sampai kami puas. Tidak akan keluar kamar sekalipun pasti. Maka dari itu kami pamit ya!" spontan Alfa menambah.
"Alfa. Apa maksud kamu? kita mau pergi bertemu...?"
"Ya sayang! kita akan pergi shoping, dan kembali berbulan kasih yang tertunda. Bye Mah! Alfa pergi ajak Hanum ya." senyumnya, sambil menutup mulut Hanum dan menarik lembut.
Ciiieh! pria gila. Hanum kesal, setelah sampai didalam mobil. Ia kesal dengan pernyataan Alfa tadi membuat wajah Hanum seperti tak ada muka. Bisa bisanya ia baru konek setelah percakapan akhir Alfa yang bicara akan berada dikamar saja sepuasnya.
"Kita langsung berangkat sayang? Hey! jangan marah dong. Wajahmu akan berkerut kalau kamu marah sama aku."
"Kalau aku berkerut, itu lebih baik. Aku bisa ditinggalkan olehmu dalam waktu dekatkan?" cetus Hanum.
Alfa mendorong Hanum dengan lembut, mengaitkan seat belt. Sementara wajah mereka saling berhadapan, mata mereka saling bertautan. "Kamu mau apa?" lirih Hanum.
To Be Continue!!
Sambil tunggu Hanum, yuks mampir litersi Author yang ga kalah keren.