
"May. Udah cari tau, kondisi si benalu?" tanya Nestia pada asistennya.
"Aduh, bos gawat. Kata karyawan gedung, dia pingsan masuk ugd. Terus nafas dan nadinya sempat tak ada. Konon bosnya Lisa membopongnya ke rumah sakit setelah photo shoot! ta- tapi maaf. Sepertinya pak Fawaz juga ikut mengejar mobil pak Ray, itu."
"Apa, pantas aku hubungi dia sulit. Haah, aku juga udah ga perlu capek capek sih. Kalau pria bernama Fawaz itu benar menggugatku, aku tinggal cari mangsa lain. Sepertinya ada satu pria yang aku sukai, kamu tau. Lisa punya adik kan dan suaminya juga lebih kaya, katanya dia baru melahirkan." ucap Nestia.
"Mustahil, apa tidak keterlaluan. Maaf loh bos! sudah dua minggu eyang mbah duk, minta bos tapa lagi. Mandi kembang lagi, bukan maksud saya menceramahi sih. Hanya saja pemikat yang bos pakai, ada masanya jika tidak kembali dalam waktu yang di tentukan." bisik May.
"Ga usah takut lah! lagi pula setelah ini pastinya, aku tidak punya saingan. Bisnis ku menjadi seleb dan berbagai endorse akan selalu memakai jasaku. Jadi kau itu May! bekerja saja untuk ku yang giat, tidak perlu ikut campur soal aku yang harus ke gunung mandi kembang." lirih Nestia kesal.
"Baiklah bos. Saya minta maaf, jika terkesan tidak sopan."
"Good. Eh, tunggu kok Lisa bisa lemah, belum makan. Atau serbuk minuman yang aku kasih berjalan dengan lancar?" dengan enteng tersenyum, Nestia. Sementara asistennya kebingungan menatap maksud Nestia.
"Bukan sih bos. Beritanya wanita itu phobia bau getah aliran tinta merah daging segar, dan bisa mengakibatkan kematian jika ia syok. Maaf bos, kalau saya salah ucap!"
'Kematian, bagus dong. Tidak ada saingan lagi, setidaknya populasi manusia benalu berkurang di bumi ini.' batin Nestia.
Nestia yang mengelap polesan make up. Ia cukup merinding dan terkejut, hingga ia memutar mata dan bagaimana caranya jika berita itu tidak terdetek publish media. Karena Nestia sempat memberikan sapu tangan dengan tetesan da-rah ke arah Lisa. Juga sebuah minuman yang membuat konsen Lisa tidak bagus.
"May, tolong lo cari hacker buat hapus video dalam pengawasan cctv gedung di belakang layar, sehabis sesi pemotretan Lisa. Gue gak mau sampai wajah gue terpampang. Siaaal .. bisa turun pamor gue, bisa ancur hidup gue nanti"
"Iy bos. Saya segera membereskannya." May sedikit bingung, dan takut jika Nestia melakukan hal buruk pada oranglain.
***
DI RUMAH SAKIT.
Hanum kembali bulak balik ke rumah sakit, ia bergantian merawat sang mama yang pingsan. Sehingga Rico yang kini bergantian mengurus mama Rita untuk di rawat di rumah. Dan Fawaz juga Ray turut membantu, mereka membantu mempersiapkan pemakaman. Ray menyediakan mobil jenazah untuk Lisa terakhir kalinya.
Ray sangat kehilangan Lisa selamanya, ternyata niat tulus dan niat baiknya tidak di dukung alam semesta.
'Lisa, jika aku tidak berjodoh denganmu di dunia. Semoga aku bisa bertemu denganmu di alam kedua, saat kita kembali dipertemukan lagi.' deru batin Ray.
Ray yang ingin berlalu bicara pada Rico, tak sengaja ia mendengarkan percakapan Rico dan Ray.
"Huuu! gue pria ga berguna, di saat seperti itu. Harusnya gue ada buat Lisa. Gue terlalu bodoh, gue berdosa. Ric." ucap Fawaz menyesal.
"Fawaz, ikhlas! sebentar lagi jenazah Lisa kita bawa pulang. Setelah selesai acara pemakaman esok, sebaiknya urus buah hati kalian. Gue juga minta pengasuh dan Erwin membagi asinya Hanum untuk mengantar ke rumah sakit, sementara waktu, Hanum menjadi ibu asuhnya. Asi Hanum bisa untuk pertumbuhan bayi dibanding sufor." jelas Rico.
"Thanks."
Hingga berada di kediaman villa Feli, esok harinya. Hanum masih menenangkan sang mama yang masih histeris, tak luput mereka mendoakan dan seluruh tamu pun berdatangan ikut berbela sungkawa.
Kerabat vloger, selebgram hingga berita utama menjadi trending Lisa. Sehingga kediaman tante Felicia penuh dan membuat Rico mengerahkan seluruh orangnya untuk berjaga dan yang datang tetap nyaman.
"Mah, sabar. Mungkin kak Lisa sangat disayang. Saat ini pasti kak Lisa bahagia bertemu papa. Kita doakan ya! mama yang kuat, Hanum dan Rico akan terus menjaga mama. Hanum mohon, mama yang kuat ya! kita sama sama menguatkan diri!" pinta Hanum masih dengan tangisan sembab.
"Iya Han, mama berusaha ikhlas. Mama hanya bingung, kenapa tidak mama saja. Kenapa harus Lisa, mama sedih dan bingung. Mama harus apa Han, berat bagi mama." lirihnya.
Hanum masih menenangkan dan memohon sang mama untuk tenang, menguatkan diri dan memberikan doa. Sehingga Sinta yang baru saja datang, membuat tatapan Hanum menunduk. Dan sinta mendekat pada jenazah Lisa sahabatnya itu. Sinta tak lupa hormat pada yang tertua, mereka izin pada mama Rita dan yang lain, kala Sinta mendekat ke jiwa Lisa yang tertutup kain.
"Lisa. Gue di sini, datang. Andai gue ga lembur, mungkin pemotretan kemarin gue temenin lo. Lisa, kenapa secepat ini? ah ya! sekarang lo dah ga sakit lagi, tapi banyak yang sayang sama lo. Dan kita kehilangan, rasanya ga percaya dan gue berharap ini mimpi. Gue bermimpi lo yang tertidur, bukan tertidur panjang seperti ini." isak tangis Sinta.
Sinta tak pernah terbayangkan, jika kemarin saat di pemotretan. Seseorang berbicara jika wanita yang terbaring adalah sahabatnya. Ada kericuhan seorang wanita yang pingsan, dan tak sadar diri. Dan Sinta berharap itu bukan Lisa.
Sinta dengar dari Ray, jika Lisa telah tak bernyawa, tetapi seorang dokter yang kebetulan lewat. Ia mengecek, jika kondisi Lisa hanya trauma sementara, yang mengakibatkan nadi setengah berhenti. Namun kala beberapa jam, di rumah sakit, nafas dan imun Lisa menurun, mengharuskan untuk menyelamatkan bayinya. Tapi nahas, Lisa tak bisa tertolong.
Sinta menangis tersedu sedu. Hingga di mana ia mengingat chat Lisa. Lalu keingintauan Sinta adalah, apa orang yang menemuinya sebelum pemotretan adalah Nestia. Tapi apa setega ini dia yang melakukannya.
Tak lama ustad datang, seluruh warga dan yang terlibat membawa Lisa untuk disalatkan. Setelah itu Lisa juga akan segera di makamkan.
"Tante, dan Hanum. Maafkan Sinta ga ada disaat kejadian, Sinta turut berduka cita."
"Iy nak. Terimakasih."
Sinta segera berlalu mendekati Ray, Ray menarik Sinta dan meminta Sinta menatap barang Lisa yang belum ia serahkan ke keluarganya dari suster. Ray berharap Sinta membantunya mengeceknya dan melihat isi tas Lisa. Di mana barang Lisa yang tersimpan oleh suster di sebuah loker. Sinta segera mencari sesuatu ponsel Lisa, saat Ray memberinya.
"Bantu cek isi ponsel Lisa! Dia ga mungkin salah makan karena jahe rendah yang gue kasih. Lisa bilang sebelum pemotretan, ia mau ketemu seseorang ke resto."
"Apa pak, benarkah pak." terkejut Sinta berbisik.
Tapi sayangnya tak ada sedikitpun isi chat mencurigakan, ponsel Lisa ada di dalam tasnya, saat Sinta mengecek.
"Ga ada pak! gimana bapak bantu saya. Kali aja ada sesuatu yang ganjal, Lisa sehat walfiat. Rasanya aneh kalau Lisa bisa secepat ini pergi." ucap Sinta.
"Baiklah, setelah ini temui saya Sinta! sekarang kita bersiap ke pemakaman." jelas Ray.
Tbc.
Author lagi kesel amat sistem, udah rombak ga ada kata Oh yes! Oh no. Masih saja reveiw dari siang loh, dan ternyata bukan cuma novel up Author lain juga sama kaya Hanum, yaitu up tertahan. Noveltoon sistem perbaikan, jadi up tertahan lama. Maaf ya sekali lagi, semoga setelah rombak kata katanya bisa cepat reveiw.