
Hanum terkejut, ketika mbak Nazim datang kerumah. Seluruh pintu terbuka untuk sahabat seperti Nazim. Kali ini mbak Nazim datang dengan anak semata wayangnya, yakni Putri yang telah berusia dua belas tahun.
"Mbak, udah lama. Maaf ya Hanum lama turun kebawah!"
"Ga apa, eh serius dekor rumah kamu ini. Bikin tamu betah tahu ga sih, kamu ada rencana mau pergi hari ini ga. Mbak ajakin ke teater baru, deket sini mall terbaru itu loh. Kaya aquarium elite, anak anak pasti suka, apalagi buat simulasi kan." jelas Nazim.
"Mau aja sih, tapi ga sekarang deh mbak. Mas Rico sakit soalnya."
"Ya rabb, seriusan kamu Hanum. Kok aku ga tahu ya, kita tetanggaan beda blok padahal. Ya udah, next time deh. Udah ke dokter?"
"Udah kok mbak, hanya saja lagi istirahat sekarang ini. Belum lagi Leo juga tinggal sama kami."
Hanum dan Nazim berbicara panjang lebar, sempat syok kala Hanum menceritakan dirinya tengah hamil lagi pada Nazim. Dengan tiga bayi dan Leo anak usia tujuh tahun, yang kadang aktif. Hal itu tetap membuat Hanum berusaha menjadi sosok ibu yang baik, juga istri yang baik bagi mas Rico.
"Gimana ya mbak, Hanum ga bisa. Sebab mas Rico sakit." sendu Hanum.
"Ga apa Hanum, mbak yang salah momennya ini." seru Nazim menguatkan.
Nazim memberi suport agar Hanum tidak lelah, apalagi terserang baby blues. Sehingga tak begitu lama Nazim mampir. Dan ia kembali pamit karena takut Hanum terlihat lelah.
Malam Harinya.
Leo menghampiri Hanum, ia memeluk dari punggung Hanum, yang sedang berjongkok melihat bunga anggrek.
"Dor! Bunda kaget ga?" tanya Leo.
"Uaah, kaget dong. Leo belum tidur sayang?" tanya Hanum.
"Leo boleh tidur sama bunda, tapi dede bayi tidur dikamar sebelah sama encus, alias suster pengasuh." jelas Hanum, dengan senyum.
Hanum merangkul tangan Leo, sehingga ia kembali di kamar dan Hanum menyiapkan keperluan lain. Masih mengawasi mas Rico dan mengambil alat kompresan baru untuk suaminya itu.
Hanum tak lupa mengompres Rico, sambil memikirkan banyak hal di kepalanya, dan bergumam seorang diri.
Tidak tinggal di distrik kota, bukan berarti aku tinggal di kawasan kumuh. Mas Rico membawaku ke kawasan perumahan elite, dengan orang orang baik yang tinggal di sana.
Bercampur status sosial yang tinggal di perumahan itu; ada yang punya rumah mewah darinya, ada yang punya rumah sederhana namun elite.
Mereka semua berkunjung ke rumahku, termasuk mbak Nazim ikut menasihatiku untuk tak terlalu sering menangis ketika anak atau pasangan sakit. Boleh, berduka sedih itu dibolehkan. Siapa pula yang melarangnya? Yang dilarang itu hanya menangis terus menerus hingga lupa bahwasanya diri perlu makan dan minum, serta istirahat untuk tetap hidup.
Namun, ada orang yang malah menyuruhku untuk menangis setiap hari. Ada orang yang tega mengatakan itu padaku di saat aku berkabung tidak main main. Ingatan Hanum kembali mengingat Lisa, karena Hanum takut mas Rico menyembunyikan satu penyakit darinya.
Mas Rico, bahkan mengatakan sesuatu yang tak Hanum mengerti; mengatakan bahwa ia bertemu Fawaz, lalu bicara ia pernah menelantarkan anakku sendiri demi wanita lain. Tidakkah ucapan itu membuat Hanum berpikir bahwa, Fawaz sudah ingat dan tidak gila, ia bisa saja kembali normal.
"Bunda, selimutnya hangat. Bunda besok pagi mau olahraga bareng Leo ga?"
"Heemh! boleh sayang, sekarang Leo bobo ya. Nanti bunda nyusul, setelah paman papa bunda kompres. Ok."
"Ok bunda terbaik." kecup Leo, pada pipi kiri Hanum.
Tbc.