
MENJElANG MALAM.
Sesaat Hanum yang telah menjemput Lisa, dan memastikan malam ini Lisa sudah berada dikamarnya. Bersama sang mama dan mama mertuanya. Ada hal kerinduan yang terlihat oleh Hanum, kala Lisa menatap dirinya dengan mas Rico sangat intim.
Hal itu juga membuat Hanum meminta mas Rico, tidak mengecup dan perlakuan manis di depan umum, terutama kak Lisa. Agar menjaga hati wanita yang akan berpisah, dan Hanum merasakan kehancuran kisah sang kakak.
"Mas, andai dulu aku menentang kak Lisa dan Fawaz. Pasti kak Lisa tidak akan seperti ini kan?"
"Sayang, jodoh takdir dan ujian. Setiap manusia tidak bisa menerka bukan. Kita doakan saja untuk Lisa dan Fawaz yang terbaik!"
"Iy mas."
Hanum dalam balutan bahagia, ia menatap aksi sebuah hotel, mereka mencuri waktu di malam hari ketempat lain untuk memadu kasih. Yang terbilang cukup ramai dan berdempetan, seperti perumahan kompleks yang berada di luar negri.
Hanya saja di batas, dengan pohon beringin kecil dan lampu manik dekat gerbang. Lokasinya pun tak jauh dari villa Feli.
Mata Hanum tertuju di nomor tujuh belas, sehingga menanyakan. Mengapa selalu nomor tujuh belas Mas? Tapi jawaban Rico hanya senyuman, dan alibi dengan penuh rahasia.
"Mas hanya dapat nomor sisa. Sekarang kita istirihatlah dulu sayang. Sini dekat mas!" Rico menepuk sofa besar. Hanum pun di buat malu, kala ia bingung akan sikap suaminya yang terang terangan.
Padahal jelas mereka baru sampai, hingga di mana ia mengekor masuk menatap seisi ruangan.
"Mas, ini masih terlalu cepat. Apa kamu lapar?" tanya Lisa sedikit gugup.
"Ya. Mas lapar, ingin memakanmu." bisik Rico, kala ia menarik lengan Hanum.
"Mas, kamu nakal. Pintu masih terbuka, kamu ga lihat ada orang di luar?"
"Ini negeri tetangga sayang, mereka sudah tidak asing."
"Tapi kita bukan bagian dari itu." menatap seru. Rico memeluk dan memutar tubuh Hanum bagai anak kecil. Karena ia begitu gemas pada istrinya.
Hingga di mana mereka saling memangku. Dan aksi gercap tangan Rico. Memegang remot untuk menyalakan televisi.
"Mas sudah pesan makan. Kita bersantai dulu, sebab nanti esok pagi. Kita gunakan liburan dengan sebaik mungkin. Kalau perlu kita kelilingi kota ini!" titah Rico, karena mereka selalu mencuri waktu, saat kedua bayinya tenang. Hanya untuk berkasmaran tanpa gangguan.
"Mas. Kamu ini, aneh saja. Negeri tetangga, mana bisa kamu buat seperti itu. Bukannya akan musim salju?"
"Belum tentu, tapi jika ya. Kita bisa melakukan kegiatan indah di kamar ini. Satu malam penuh. Bagaimana?"
"Mas, kamu bisa bisanya." malu merona.
Hanum menatap Rico, Rico pun merasa terobsesi dan candu akan ranum Hanum yang semanis jambu. Terlebih setelah melahirkan, gundukan itu semakin padat dan semakin gemoy untuk ia bermain disana. Hal itu juga membuat Hanum kembali memakai alat medis, agar asinya tidak mengucur terus menerus.
Hingga pandangan mereka kembali saling beradu, Hanum di buat bingung. Ketika Rico memiringkan dan ingin menyentuhnya, tiba saja ketukan suara pintu datang.
"Excuse me, the order came!" permisi order pesanan datang. Kurang lebih begitulah artinya mungkin.
"Oke .. Wait!" balas Rico gairahnya sedikit buyar.
Rico menepuk pipi Hanum dengan halus, ia memintanya untuk menunggu. Wajah Hanum benar sangat malu, ketika sang suami sudah terang terangan membuat dirinya merasakan cinta yang terbalas.
Rico membuka pintu, Hingga di mana ia memberikan beberapa lembar uang kertas asing. Lalu menutup kembali, sebuah makanan saji dan desert. Ia tak ingin Hanum lelah, mengatur dan memasak untuk nya saat ini.
"Sudah datang mas. Kamu pesen apa aja emangnya?" tanya Hanum.
"Hanya sedikit. Cukup untuk malam, dan sarapan esok mungkin. Tapi kalau kurang, kamu bilang mas. Mas akan memintanya memesan ya!"
Hanum mengangguk, ia menatap dua paperbag besar dan kecil. Tersenyum tak menyangka, kala semuanya adalah makanan siap saji.
Dari mulai, makanan kaleng, desert buah dari kaleng. Dan buah yang mungkin yang ia suka. Semangka dan jeruk manis, tak lupa kue tart yang selalu menemaninya setiap hari.
"Ya. Tapi kecil, mas sedang tak berselera makan manis. Hanya saja istriku ini harus bertambah berat, agar mas menyukai jika kamu bahagia bersama mas." senyum Rico.
"Mas Rico, apaan sih. Kamu bener bener deh. Kamu mau aku gendut ya, terus kalau aku ga cantik lagi gimana?"
"Gendut atau tidak. Mas akan tetap mencintaimu Hanum sayang. Tandanya kamu bahagia sama mas. Suer beneran deh. Percaya sama mas!" kala Hanum menepuk wajah mengusel rambut rico, karena di anggap bohong.
"Heuuumph. Gombal banget." Hanum kembali menepuk, namun cekatan tangan Rico. Ia menarik tubuh Hanum.
Hanum terdiam kala tubuhnya berputar, suaminya telah berada di atas tubuhnya. Aksi mereka pun di mulai dari lembut, Hanum hanya menutup wajah, mengangkat bibirnya dan segalanya telah masuk ke dalam lidah, mata Hanum dan Rico yang terlihat sendu pun semakin sempurna kala Rico sudah berada dibawah pusarnya.
Seperti sedang menari nari, sedang hangat hangatnya. Aksi mereka saat ini.
Hanum berusaha tenang, ia tak ingin merusak mood kala suaminya sedang meminta haknya padanya. Meski ia memejamkan mata, kala itu ia cukup membuka mata, mencoba menatap wajah dan mata Rico yang sedang memuncak.
Hanum berdesis dan menahan rasa yang bercampur. Hingga di mana, Rico membisikan untuk dirinya tetap rileks dan menikmati.
Kini mereka sedang berada dalam surganya cinta. Menyatukan keindahan dan segala yang semestinya di lakukan oleh pasangan sah di mata agama dan hukum. Yakni suami dan istri bahagia.
"Mas berterimakasih padamu. Hanum!" bisiknya.
"Mas, ini sudah menjadi tugasku sebagai istri. Kapanpun kamu mau, aku akan ikhlas dan ridho."
Rico pun kembali menancapkan aksinya, kala Hanum benar benar telah memuncak. Sehingga Hanum berusaha untuk fokus, kala mereka meninggalkan kedua bayinya bersama kedua pengasuhnya. Meski banyak yang membantunya, tetap saja hanum tak bisa menolak ketika Rico mengajak satu momen seperti ini. Apalagi lokasinya tak jauh dari kediaman kedua bayinya.
Hingga beberapa jam, ponsel Rico berdering. Dan itu cukup untuk mematahkan hati Hanum, karena jika Rico angkat lagi. Maka ibadahnya pada Rico, akan semakin lama.
'Jangan angkat mas!' batin Hanum.
Tbc.