BAD WIFE

BAD WIFE
HANUM SALTING



Rico mengantar Hanum ke rumah baru, hal itu membuat tatapan Hanum kebingungan. Menghapus air mata dan bertanya menoleh ke arah Rico yang sedang menyetir.


"Kita mau kemana Ric?" terkejut Hanum.


“Kamu jangan nangis lagi, semua baik baik saja, kamu akan sembuh dari kesedihan."


"Maksud kamu?"


"Kita sudah sampai! ini rumah baru Lisa dan mama kamu tinggal Han! kamu bisa setiap hari bertemu, mereka pasti terkejut. Aku dan Fawaz yang merencanakan semuanya."


Fawaz? Hanum terhenti, bagaimana bisa ia dekat dengan orang yang terselebung. Mengenal Fawaz, bisa menikah dengan Alfa yang berwajah dua. Dan kini aku dekat dengan Rico masih keluarga dari mama Fawaz.


'Apa ini takdir atau kebetulan?' batin Hanum.


Tak lama Hanum menatap sang mama, ia menghela napas mendengar ucapan Rico tersebut. Rico lagi lagi membuat ia merasa seperti ratu, sungguh di perlakukan istimewa.


“Makasih sudah menyelamatkanku Rico." ucap Hanum.


Rico tersenyum dengan senyum yang terlihat begitu tulus, lalu ia mengangguk. Meminta Hanum lebih dulu masuk menemui sang mama.


“Makasih sekali lagi,” ucap Hanum, ia sangat bahagia dengan senyum kebahagiaan.


Lisa yang sedang menyapu teras, ia menatap Hanum, lalu ia menatap Pria yang pernah bersama Fawaz. Ingatan Lisa mengecap untuk menyebut nama asli pria yang berada di depannya bersama Hanum.


"Hanum. Mah, Itu Hanum, benarkan aku ga mimpi?" lirih Lisa.


"Kakak! Mama."


"Hanum. Oh ya Tuhan, terimakasih. Kamu beneran nyata kan Nak!" isak tangisan sang mama.


“Hanum!” peluk Lisa dan sang mama, mereka langsung masuk ke dalam rumah. Ia datang tergopoh gopoh dengan perasaan khawatir. Secepat itu ia langsung membingkai wajah Hanum dan mendekatkan wajahnya.


"Kamu kenapa? Kamu baik baik saja kan? Mana yang sakit?” tanya Mama. Ia menyentuh bahu dan tangan Hanum.


"Aku ga apa apa, semua berkat Rico. Ka Lisa, kenalkan ini Rico. Penolong Hanum juga bos Hanum."


"Ah ya benar! Rico, kerabat Fawaz kan. Yang pernah lihat perumahan." jelas Lisa.


Perumahan? bingung Hanum. Lisa menjelaskan jika ia kini bekerja sampingan. Dan pak Rico datang bersama Fawaz mengenalkan klien yang memborong blok rumah. Sehingga rumah inilah, saat ini kita tempati sebagai bonus royalti.


"Berlebihan, itu sudah rejeki kamu Lisa."


"Benarkah?" ucap Hanum, menatap Rico.


"Kakak bantu, mama ambil minum dulu ya Han." Hanum mengangguk.


Lagi lagi Hanum merasa diatas awan. Kebaikan Rico membuat hatinya tergugah senyuman. Tapi begitu mereka saling memandang, Lisa membuat Hanum salah tingkah akan deheuman Lisa yang membawa nampan.


Hanum menatap wajah Rico yang begitu perhatian padanya. Laki laki baik yang sudah banyak membantunya.


"Kita baik baik saja kan?" bisik Rico pada Hanum.


Rico dengan sikap tenangnya, memberikan respon bingung pada Hanum. “Maksud kamu apa? Aku tidak melakukan apa apa, tadi aku tidak menatap kamu Ric." Hanum mengeles.


“Jangan bohong! Kamu sedang mencoba mencelakai hatiku Hanum."


“Maaf, saya tidak mengerti apa maksudmu, jaga sikapmu pak Rico." senyum Hanum membalas.


Lisa menatap Hanum. Bagaimanapun ia tidak yakin dengan apa yang laki laki itu ucapkan. Lisa takut jika seorang pria akan bersikap manis pada adiknya itu. Tapi nanti akan sama seperti pria bernama Alfa.


Lisa menatap Hanum dengan tatapan yang memprihatinkan. Ia takut jika Hanum lebih cepat membuka hati.


"Mama ga sangka, kita akhirnya bisa bersatu lagi Han."


Lisa dan Mama terdiam, ia mengalihkan pembicaraan dan berkata tidak, selama ada Fawaz.


"Tidak hanya sekali, tapi Fawaz pasang badan nak! kami hanya mikirin kamu ada dimana. Beruntung saat itu Fawaz bilang, jika kamu selamat dan akan pulih secepatnya pulang bersama sama lagi." jelas mama.


"Mah! aku sayang mama dan kakak." peluk Hanum.


Sementara Rico merasa tersanjung, ketika melihat wanita yang ia sukai baik baik saja. Tak lagi sedih seperti semula. Rico telah mendapat pesan dari seorag intel. Jika Hanum mempunyai video yang ia takuti dari Alfa.


'Video? video apa yang Alfa punya?' batin Rico penasaran.


Aksi kerinduan mereka di sambut dengan baik, mereka makan bersama dan bercanda cerita. Hingga menyisakan Hanum dan Rico berdua. Rico menarik Hanum, karna penasaran dengan apa berita yang ia dapatkan barusan.


"Boleh aku tanya sesuatu padamu Hanum?"


"Silahkan." senyum Hanum.


"Video apa yang kamu sembunyikan dariku? jika kamu cerita. Aku bisa membantumu, katakanlah Hanum!"


“Ric, dia sudah menyelamatkanku, aku baik baik saja,” ucap Hanum. Ia mencoba menenangkan Rico, jangan sampai Rico bertindak sesuatu yang membuat Alfa akan ikut mencelakainya.


Rico menatap Hanum tajam. Entah bagaimana, sedikit pun ia tidak percaya dengan ucapan bijak yang disampaikan Hanum.


“Kalau begitu saya permisi dulu! Ada yang harus saya lakukan di pekerjaan! Hanum cepat sembuh ya,” ucap Rico, menampilkan senyum malaikatnya.


"Sembuh? siapa yang sakit?" lirihHanum curiga pada gerik Rico.


Hanum hanya terdiam. Apa yang dilihat matanya seperti tidak bisa dipercayai oleh firasatnya.


“Nggak nyangka kalau dia memang sebaik apa yang diberitakan media, berbeda jauh dari sepupunya,” ucap Lisa, yang merasa bangga melihat kebaikan Rico pada Hanum.


Hanum terdiam. Ia tidak suka Lisa memuji laki laki yang auranya itu tidak baik di depan, takut seperti Alfa.


Begitu juga dengan Lisa. Sesak semakin menumpuk ketika membandingkan Rico dengan Alfa. Andai mama tahu apa yang sudah dilakukan laki laki iblis itu padanya, mamanya pasti akan bersumpah dan mengutuk laki laki bertopeng kebaikan Alfa, sehingga ia tersenyum ketika menatap pria yang baik pada adiknya itu, yang bernama Rico.


Lisa kembali menatap Hanum. “Apa yang terjadi Han?” tanyanya lembut.


Hanum menghela napas. “Aku cuma kecapean kak,” jawabnya.


“Tapi kenapa kamu tidak jalan? Bukannya jam sekarang ini biasanya kamu di kantor?” tanya Lisa.


"Kakak tau aku kerja?"


"Ya, tau dari kamu tadi. Yang bilang pak Rico itu bos kamu, tapi kenapa kamu ga ikut juga sama pa Rico. Kamu sedang jalani asmara ya?" cetus Lisa kepo.


Hanum menelan ludahnya. Ia menatap sang mama dan juga Lisa, guna menghindar.


“A- aku ada keperluan kak, mau ketoilet kayaknya dan lagi ga mau jawab aja,” jawab Hanum.


Lisa menatap Hanum yang tidak berani menatap wajahnya. Ia percaya ada sesuatu yang Hanum sembunyikan darinya.


“Semua Ok?” lirih Lisa lembut.


Lagi lagi, kalimat tanya yang sederhana itu membuat Lisa ingin sekali berteriak meluapkan semua kebahagiaan.


“I’m ok Han, jangan terlalu khawatir, kakak akan mencari tau sendiri." jawab Lisa mencoba tersenyum.


“Gimana aku nggak khawatir kalau Rico terus baik padaku, semua terlalu kebetulan, kenapa Lisa bisa tiba tiba bertanya begitu?” salting Hanum.


~ Bersambung ~