BAD WIFE

BAD WIFE
KEDATANGAN FELICIA



Hanum dalam terapi berjalan, di dampingi Rico. Tidak sedikit perhatian Rico yang sibuk dalam market, membuat ia tak melupakan Hanum yang ia cintai. Berkali kali Hanum lelah, ia pasrah karena sulit berjalan. Apalagi menggendong anak anak tercinta, Leo anak angkat nya tak sekali dua kali menghibur Hanum.


Meski begitu Hanum kembali kuat, ketika senyuman dukungan dari suami tercinta, dan anak anaknya. Bahkan baby Ghina dan Ghani sudah menginjak dua tahun, ia sudah bisa memapah dan mengisi suara tangisan dan tawa membuat semangatnya kembali.


"Sayang, ada tante Felicia." ujar Rico, meraih pegangan besi berjalan, dan membawa Hanum pelan, ke sofa.


"Suruh masuk aja mas!" senyumnya.


Rico mempersilahkan tante Felicia masuk, duduk bersandar dan sangat intim menatap Hanum. Menyisakan mereka berdua saja dikamar.


"Hanum, maafin kesalahan putra tante. Tante menyesal tidak memahaminya. Tante baru tahu, jika sebenarnya Fawaz memang tidak tulus pada kakakmu. Dan soal isu .."


"Tante, maaf! Hanum tidak ingin bahas soal Fawaz. Hanum sudah serahkan semuanya sama mas Rico, Hanum hanya ingin sembuh bisa berjalan lagi. Apalagi putra Hanum Gabriel yang berusia lima bulan dalam kandungan, harus mengenaskan karena peluru itu." sedih Hanum, matanya berkaca kaca merah.


"Tante paham, surat ini tante temukan di laci lemarinya. Tapi percayalah, Fawaz dulu mencintai kakakmu, tapi saat Lisa menggugatnya ia iri pada keluarga mu dan Rico yang bahagia, tante paham bagaimana situasi ini. Tante berharap kamu bisa memaafkannya, jika Fawaz nanti akan dihukum mati." ujar Felicia, membuat Hanum menoleh ke arah ranjang bayi.


Ranjang bayi yang Hanum harapkan saat itu, entah mengapa semuanya hilang lenyap begitu saja. Selama itu juga, Hanum merasakan sakit hatinya, karena iri hati bisa seenaknya berbicara untuk menghabiskan nyawa seseorang tanpa berpikir dua kali.


'Jika kamu bahagia, aku tidak! maka aku harus membuatnya tidak bahagia, dan kehilangan juga!' sepucuk surat tulisan tangan Fawaz.


"Jadi selama ini aku berteman dengan musuh." lirih Hanum.


"Percayalah! anak tante tidak begitu, entah apa dan kenapa putra tante bisa jahat pada kalian. Fawaz dan Rico dulu sangat akrab, tante bersalah dalam hal ini."


Bagi seorang wanita yang menjadi istri, entah apa yang paling menyakitkan dari pengkhianatan seorang suami. Apakah di saat suaminya berselingkuh diam-diam dengan wanita lain di belakang istrinya, ataukah suaminya secara terang-terangan mengungkapkan keinginannya untuk menikah lagi dengan wanita lain di hadapan istrinya?


Felicia benar-benar tidak menginginkan salah satunya karena putranya Fawaz saat itu selingkuh dengan seorang wanita di saat Lisa hamil, meskipun keduanya memiliki kadar rasa sakit yang berbeda. Besar atau tidaknya rasa sakit itu, Felicia benar-benar tidak ingin menerima kenyataan yang seperti itu.


Biasanya pada saat ada layangan putus, pasti banyak anak-anak yang berlari mengejarnya karena menganggap layangan itu sudah tidak bertuan lagi. Jika Lisa memposisikan dirinya sebagai layangan putus, maka pria yang bercinta dengannya semalam itu adalah anak-anak yang berhasil menangkap layangan putus itu.


Tapi anak-anak seperti itu biasanya hanya menganggap layangan putus itu sebagai salah satu mainannya saja. Jika dia melihat ada layangan putus yang lain, tentu saja dia akan kembali mengejar layangan putus yang lain itu dan mengabaikan layangan putus yang pernah dia dapatkan. Mungkin seperti itulah kira-kira pria yang bercinta dengan Lisa semalam. Pria itu bahkan menganggap Lisa sebagai Kupu-kupu Malam yang biasa menjual dirinya demi uang.


"Ah, menjadi layangan putus benar-benar tidak enak," gumam Felicia sambil terus menonton melalui gawainya.


Saat Felicia sedang asyik menonton mini series melalui gawainya, seolah menceritakan kisah yang ia tahu, soal Lisa dan Fawaz yang satu rumah. Tiba-tiba saja bel rumah Hanum berbunyi. Felicia segera menekan tombol 'pause' dan pergi untuk melihat siapa yang sedang bertamu ke rumah Hanum itu.


Saat Felicia membuka pintu, dia mendapati sosok seorang pria muda berusia sekitar awal 29-an dan tinggi badan sekitar 182 cm. Wajahnya lumayan manis dengan surui cokelat sebahu dan netra berwarna biru laut. Sepertinya pria muda itu sengaja mewarnai rambutnya dan memakai softlens untuk terlihat lebih gaya.


"Hanum dia, siapa, ya? Apa dia tidak salah alamat bertamu kesini?" tanya Felicia, yang sama sekali tidak mengenali siapa pria muda itu.


"Dia Daren! dia akan tes dna soal kebenaran Azri. Entahlah, ini aib. Tapi Hanum bingung untuk memecahkannya, karena yang bersangkutan telah tiada. Satu satunya adalah, tetap mendoakan yang terbaik. Dan Hanum hanya ingin fokus sembuh tante!" jelas Hanum.


Tak lama Rico datang, seorang pria bernama Daren telah menggendong yang diyakini ia adalah putranya.


"Jadi tante benar benar tidak punya penerus, ah malang sekali. Fawaz yang akan dihukum mati, dan cucu dari Lisa bukan dari benih Fawaz." lemas Felicia.


Tak lama mama Rita datang, ia meminta Felicia, ke ruangannya karena ada hal penting.


"Feli, bisa kita bicara sebentar!" ujar Rita.


Tbc.