
Rico dan Hanum saling menautkan kedua ranum dan semakin dalam, Hanum tidak bisa lepas dan kali ini jarak mereka semakin dekat. Tubuhnya diapit dan terlihat jelas jaguar dari milik Rico yang tertanam, dari piyama tercetak jelas.
Hanum berusaha menghindar, lalu Rico kembali menahannya. 'Aku hanya rindu, tidak akan meminta lebih Hanum!' memegang pipi Hanum.
'Ric, ini tidak benar. Kita hanya berdua saja, jangan sampai kita melakukan hal bodoh.. aku tidak mau.'
'Kita dewasa Hanum, papaku sudah menghubungi mama kamu. Kita bisa menikah bersamaan dengan Lisa jika itu diperlukan. Aku ingin kamu punya power, selain kamu milikku segera mungkin. Alfa dan keluarga Jhonson tidak akan berani menyentuhmu. Percayalah!'
"Power. Apa itu..?"
"Rico, Rico. Kamu dengar aku bicara tidak. Wajahmu kenapa? sakit. Aku ambilkan air minum ya?" lirih Hanum yang membuka pintu kamar.
Rico tersadar, khayalan buruknya saat ini tidak bisa dikondisikan. Bisa bisanya ia berkhayal dirinya dan Hanum saling menautkan kedua ranum yang semakin dalam.
Hanum terlihat kembali dari menghindar karena mengambil satu gelas air minum, lalu terlihat Rico kembali menahannya dan berusaha tenang pada tatapan Hanum.
'Apa karena aku hanya rindu, tidak tahan menunggunya sehingga aku berkhayal meminta lebih pada Hanum?' batin Rico.
"Ric, ini tidak benar. Kita hanya berdua saja, jangan sampai kita melakukan hal bodoh.. aku tidak mau kamu lama di kamar ini. Kamu tadi bicara power, itu apa?" tanya lagi Hanum.
"Memang dari tadi aku bicara apa?" tanya balik Rico.
"Kamu diam menatapku, terus bicara power." jelas Hanum.
Rico terdiam, ia segera mencari alasan lain untuk menjelaskan pada Hanum.
"Kita dewasa saat ini Hanum, papaku sudah menghubungi mama kamu. Kita bisa menikah bareng dengan Lisa jika itu diperlukan. Aku ingin kamu punya power, selain kamu milikku segera mungkin. Alfa dan keluarga Jhonson tidak akan berani menyentuhmu lagi. Percayalah!"
"Power? Apa itu, karena kalian selalu berseteru. Rico tapi kita belum bicara dengan Lisa. Lisa dan Fawaz hanya bertunangan minggu depan. Aku takut Lisa akan berkecil hati, semakin kecewa jika dilangkahi."
Rico kembali tersenyum. Masih mode menatap Hanum yang berbicara padanya. Tapi pikirannya benar saja membuat dirinya berada di jalur yang lain.
'Kenapa aku masih terus memikirkan menarik Hanum untuk duduk di kursi. Sementara Hanum masih menjelaskan soal Lisa.'
"Baiklah, aku akan memikirkan hal lain. Maaf malam ini Hanum, aku jadi mengganggumu."
'Apa ini tidak berlebihan, Rico bicara tapi kenapa wajahnya sedikit berbeda padaku?' batin Hanum.
"Ya, Rico. Kembalilah beristirahat. Semoga lukamu cepat sembuh."
Hujan deras, semakin mengguyur terlihat dari jendela. Rico pun menyudahi khayalannya, semakin ia bertemu Hanum maka semakin tidak bisa ia memikirkan untuk memiliki Hanum. Oleh karena itu ia terlihat gelisah.
"Ouuuwh." teriak Rico, menatap tangannya.
"Kenapa? Sakit lagi. Aku periksa ya?"
"Hanum, aku hanya rindu ranum manis merah jambu. Beberapa waktu aku merasa gemas dan ingin menyentuhnya. Apa kamu tidak mau kita secepatnya resmi?" lirih Rico yang menutup pintu kamar Hanum.
"Rico, kamu jangan berlebihan. Malam ini aku hanya merawat lukamu. Bersabarlah!"
Rico terdiam, ia mendekat pada tatapan Hanum. Selama beberapa menit, Hanum hanya tersipu akan perlakuan Hanum.
Took took! Ketukan pintu kamar Hanum.
"Hahahah, apa rumah sebesar ini bisa mati listrik Rico?" Rico tak menjawab, hanya deru nafas dua insan yang saling menatap.
"Jangan pikirkan hal lain, aku disini hanya memastikan kamu aman." bisiknya.
Hanum berjalan mundur, diiringi langkah Rico yang menariknya.
\*\*\*
Keesokan harinya.
Hanum pagi pagi sekali sudah pamit pulang, tanpa menunggu Rico bangun. Ia sadar diri, jika dirinya masih bawahan Rico jika bekerja.
Sesampai di tempat kerja, Hanum telah langsung berada di loker menaruh barangnya. Belum lagi soal pekerjaan menumpuk lain, Hanum segera merapatkan absen pada jarinya. Lalu kembali menghampiri Dewi yang sudah datang juga.
"Hanum, kamu begadang?"
"Aku, hooh. Enggak mana mungkin."
"Iy, kaya yang habis begadang loh itu. Mata kamu kenapa hitam begitu Hanum. Lembur dimana kamu?" tawa Vita disebelah Dewi.
Tak banyak yang tahu, jika Hanum semalam dari rumah pemilik usaha market. Tapi tatapan Dewi menatap Hanum dan meminta untuk kembali bekerja.
"Hanum, soal pasang barcode bagian atas. Biar aku aja ya! Kamu bagian bawah. Kalau lelah, kamu mending istirahat sebentar di dalam. Tempat loker kita itu ga ada yang lewat selain karyawan. Aku pasti jaga rahasia."
"Gak apa kok, aku bisa atasi, aku perlu cuci muka aja sebentar." senyum Hanum.
Beberapa jam Hanum bekerja, benar saja matanya sangat tidak bersahabat. Gara gara aksi Rico semalam yang tidur seranjang dengannya, membuat Hanum semakin tak bisa fokus saat ini bekerja. Belum lagi setelah Rico pulas, ia sangat tak bisa tidur dan terpaksa tidur di sofa dengan perasaan was was menatap hujan yang semakin deras.
"Hanum, kamu mengantuk. Apa semalam kamu bersama kakak ku, kamu …?" lirih Adelia yang tiba saja menghampiri Hanum.
"Adelia. Ah! tidak mungkin, semalam saya pulang tengah malam. Sudah pamit, tapi lupa pamit padamu, karena aku lihat kamu pasti sudah terlelap." jelas Hanum.
"Jangan pikir aku tidak tahu Hanum, aku hanya tidak percaya pada wanita rendahan yang bisa masuk dengan mudah pada keluargaku. Apa jangan jangan Rico sedang tidak sadar, jika ia melihatmu seperti ratu padahal menjijikan."
"Adelia, kenapa kamu bicara begitu padaku?"
"Ingat ya! Hanum, usia kita sepertinya sama. Tapi aku tidak suka kamu jadi kakak iparku. Aku bisik rahasia tentang Rico, sebenarnya Rico akan bertunangan lagi dengan wanita yang sepadan dari keluarga yang telah terjalin. Aku rasa ia mendekatimu hanya memperalat saja. Hahaa. Kamu paham kan siapa orang yang aku maksud?"
"Kapan dia bertunangan?" tanya Hanum.
"Dua hari lagi, dia akan ke paris untuk bertunangan." senyum Adelia lalu pergi.
Adelia meninggalkan Hanum, tapi Hanum masih saja terdiam dan mencerna perkataan Adelia saat ini.
Terlebih aksi semalam Rico, membuat Hanum bingung saat ini. Tanpa sengaja suara gaduh terlihat dari arah luar. Hanum melihatnya tapi ia urungkan, ia berlalu pergi ke arah wastafel di toilet khusus.
Hanum menatap cermin, ia mencoba berfikir perkataan Adelia padanya beberapa menit lalu. Hingga mengambil tisue kering, lalu mengeringkan pada wajahnya.
Saat Hanum kembali ke ruangan kerjanya, terlihat Rico menatap senyum ke arahnya. Hanum segera mungkin membalik badan dan pergi. Tapi saat itu, Hanum menatap seorang wanita juga tersenyum ke arahnya.