BAD WIFE

BAD WIFE
BUTIK



Rico datang, sebelum Hanum bicara penting pada sang mama. Hal itu membuat pembicaraan serius mereka terhambat.


"Kamu yakin, dia orang yang sama Han?" tanya mama.


"Benar mah! tapi karena Rico datang, Hanum keluar sebentar ya!"


"Ya udah, ajak masuk! Di luar kayanya mau hujan Han."


Hanum padahal sedikit lagi mengorek masa lalu sang mama saat berteman dengan ibu dari Alfa. Belum lagi, ia masih penasaran dengan Irene yang masih di rumah Rico, ia mendapat pekerjaan dan hal itu membuat Hanum cemas.


Krek!


"Udah datang kamu Ric, masih pagi begini tumben. Kan ini hari libur, emang butiknya yakin buka?"


"Emang aku ga boleh rindu sama kamu Hanum. Lagi pula butik aku hubungi, mereka pasti buka?"


"Wooah gombal! bukan begitu sih aku cuma ngerasa, apa nanti kalau kamu udah nikahin aku. Sering ketemu bakal bosen, ga rindu kaya gini?"


"Kamu ga suruh aku masuk Han! gerimis loh. Pake acara mikir aneh aneh terus deh. Ya enggak mungkinlah aku bosen sama kamu." jelas Rico.


Hanum mempersilahkan Rico masuk. Lalu dengan senyum ia bicara banyak hal. Jika dirinya merasa tidak tenang, selalu khawatir kala dirinya akan kembali menjalani rumah tangga.


"Han, kamu ikuti hati kamu. Coba kamu pikir, pernikahanmu dengan Alfa adalah keterpaksaan karena sebuah nama bukan? saat ini kita menikah karena saling mencintai. Bukan dengan hal lain, jangan meragukan aku Hanum!"


"Rico, maaf. Aku hanya sedikit cemas saja. Mungkin semua mengalami seperti ini jika pasangan akan menikah."


Rico memegang tangan Hanum, ia kembali saling menatap dan jari Rico menyentuh bibir Hanum.


Eheeeuum!


"Nak Rico udah datang? Han! Kok di biarkan di luar aja sih." cetus mama lewat bagai iklan.


Hanum dan Rico gelagap tak enak, ia lupa jika mereka berada di kediaman Hanum yang masih menyisakan penghuni selain dirinya, yang sedang memperhatikannya dari tadi.


"Mama mertua, eh! camer. Tante maksud Rico maaf Rico lupa salam." ujarnya malu.


"Ya udah, duduk! gimana soal butik dan semuanya udah beres?" tanya mama Rita.


"Udah! alhamdulillah semua beres. Justru hari ini Rico mau ajak Hanum fitting baju pengantin di butik. Dan untuk tante dan Lisa. Rico sudah meminta pelayan butik datang kemari."


"Baiklah! makasih ya, udah mau direpotin."


"Ga apa tante, udah tugas Rico."


Hanum kembali dari berganti pakaian. Ia membawa tas selempang, dan mencium tangan sang mama untuk pamit.


"Mah! Hanum pergi sebentar ya. Mama ga apa sama mbok Surti kan?"


"Ga apa, mama seneng baik baik aja. Kalau udah selesai cepat pulang! jangan keluyuran. Ingat kalau menjelang pernikahan itu selalu ada ujian, kalian harus hadapi dengan tenang. Belum lagi kalian harus tanamkan rasa kepercayaan dan kejujuran!"


Beberapa puluh menit mereka menempuh perjalanan. Meski sempat terhenti di pom bensin. Kini mereka sampai di butik langganan keluarga bagi Rico. Dan hal itu membuat Hanum terdiam bagai dejavu.


"Kita kemari Ric?"


"Ya! benar sekali, ini adalah tempat yang paling istimewa. Pelayanan dan semua gaun tidak mengecewakan. Kamu ga suka, atau pernah ke tempat ini?"


"Ric, maaf! tapi tempat ini pertama kali aku membeli gaun sendiri untuk pernikahan. Dan Al-alfa membelikan untuk Irene, haah. Kenapa harus aku ingat lagi sih." gerutu Hanum.


"Sudah! jangan pikirkan lagi, aku ga mau kamu berfikir tidak baik. Butik ini memang terkenal diberbagai kalangan. Jadi jangan ingat tentang Alfa dan memori buruk. Rico mu ini, akan merubah kenangan negatif yang menjadi positif. Ok!" Hanum mengangguk.


Lima langkah berjalan, Hanum terdiam kala melihat gaun pengantin yang pernah ia pakai saat menikah dengan Alfa.


'Hey! gendut, jangan bicara kau calon pengantin ya! kau cukup memilih pakaian sesuai ukuranmu saja dan jauh jauh dariku. Mengerti!' batin Hanum mengingat beberapa tahun silam perkataan Alfa di butik yang sama.


"Sayang! kenapa, kok berhenti?" tanya Rico.


"Enggak! aku ga apa apa kok. Maaf aku melamun dari tadi."


"Jika kamu ga siap hari ini, maka kita tunda saja. Kamu tau pantangan pengantin datang dengan keadaan mood tidak baik?"


"Rico, maaf! aku membuat harimu tidak baik. Maafin aku!"


Rico kembali berjalan ke arah pintu luar. Dan meminta pelayan menutup, karena dirinya tak jadi pengukuran gaun hari ini.


"Sepertinya nanti schedule ulang aja ya mbak!" ucap Rico pada pelayan butik.


"Mbak! saya mau yang arah kanan, paling depan. Boleh saya coba?" senyum Hanum, membuat mata Rico menoleh dan berbinar.


"Rico, kamu mau ganti juga kan. Tunggu aku ya! setelah ini, aku mau kamu beri nilai. Gaun pengantin apa yang pas untuk aku pakai nanti."


"Tentu."


Rico sudah terlihat memakai jas senada berwarna nude. Terlihat gorden terbuka, memperlihatkan Hanum dengan gaun indah bak putri kerajaan.


"Hanum, kamu cantik sekali." puji Rico.


Rico segera menghampiri Hanum, lalu menutup hordeng dan saling bercermin melihat keserasian mereka berdua di ruang ganti.


"Apa mode seperti ini, kamu nyaman?" lirih Rico.


"Rico, perhatikan gerakmu. Tidak pantas, kita disini untuk mengukur baju!" cetus Hanum, menoleh ke arah wajah Rico, yang sudah menurunkan kepalanya pada bahu Hanum yang setengah terbuka dan saling menempel.


Cuup!


Tbc.