
"Jangan marah Ric, aku lupa. Aku pikir hanya ada pak Sueb." ucap Fawaz.
Rico merutug kesal, ia juga lupa kala Fawaz memang akan datang ke rumah barunya. Satpam biasa sedang cuti, maka dari itu ia bisa bermanja dan hanya ingin berduaan saja.
Sementara Hanum yang telah berganti pakaian tak seminim tadi, ia menyembunyikan malu. Karena mungkin saat itu Fawaz hanya melihat Rico saja, yang duduk sangat aneh.
"Ka Lisa juga ikut?" santer Hanum dari kejauhan, ia segera merapat dan mendekat.
"Heuumh! kakak baru sampai nih, tadi Fawaz lebih dulu. Untung aja inget, cake buat pengantin." senyum Lisa.
Tatapan Rico dan alis Fawaz sangat curiga, benar saja, Hanum yang tau isi hati suaminya. Jika Lisa tidak tau saat Fawaz yang telah datang tanpa aba aba dan melihat pemandangan tadi yang tak enak.
'Ah! syukurlah. Ka lisa pasti ga tau soal tadi, kalau tau. Udah pasti nyinyir goda aku.' Batin Hanum.
Tak lama Hanum dan Lisa saling merangkul menuju dapur. Mereka mencoba membuat bekal untuk perjalanan. Lisa yang sudah menyiapkan bahan, sangat lihai membuat. Sementara Hanum hanya bisa menata.
"Beres, udah siap kan. Suami kita pasti udah nunggu."
"Mana ada nunggu, orang mereka masih aja berkutat bolpen dan kertas tulisan yang ga aku ngerti." cetus Hanum.
"Ah! benar juga, kakak juga pusing kalau liat Fawaz. Tulisan dokter, nah suami kamu lebih parah. Itu nulis kaya grafik tanda tangan panjang dan ga ngerti. Hanya mereka yang ngerti kayaknya, bisa bisa mereka selingkuh kita ga tau karena bodoh membaca."
"Kak! jangan bicara aneh aneh ah!"
Hanum telah siap membawa koper elektrik. Mereka hanya membawa tas simple, dan koper yang ada di genggam tangan Hanum. Rico raih agar bawaan Hanum tidak berat ditangannya.
Sementara Rico dan Fawaz ikut berdiri, mereka segera pergi dan bergandeng pada pasangan masing masing. Hanum tak menyangka, mungkin bagi sebagian orang kakak beradik setelah menikah akan hidup dengan masing masing. Tapi tidak dengan Hanum dan kisah masa kelamnya. Yang jodohnya bergandengan sangat dekat.
'Mungkin benar, doa orangtua selalu di kabulkan. Hanum masih ingat, saat sang papa masih ada, ia selalu bicara agar kelak mereka selalu bahagia, dan bersama meski telah bersuami. Kompak dan hanya receh ketika tanpa suami, kilas balik Hanum dan Lisa selalu bagai tom and jerry.'
"Kita udah sampai, ketemuan dulu ga apa kan. Kebetulan kita ketemu tante Martha. Dia pemilik yayasan rumah sakit al zeera juga klien terbesar dari market Marco." jelas Rico.
"Ga apa sayang, kita mau liburan juga ga masalah, karena aku beruntung. Di saat suamiku tugas. Aku bisa jalan sama ka Lisa."
"Benarkah begitu?" tanya Rico menoleh pada Lisa.
"Bohong! karena dia kudet, taunya perbatasan ancol sama jalan puri aja. Mangkanya peta berjalan ya cuma kakaknya." cetus Lisa, sudah lama ia tak menggoda adiknya itu.
Aaah! kakak.. Udah dong, ledekinnya!!
"Hahaha." tawa pecah.
Rico segera merangkul Hanum, meski berbeda dengan dokter kulkas dua pintu yang melihat di depannya asik manja. Dia hanya menatap senyum tanpa ekpresi, atau bahkan ikut latah manja. Bahkan sekedar memegang tangan saja tidak.
"Yank, ayo turun!" lirih Fawaz menatap Lisa. Yang Lisa juga turun dengan mandiri, tanpa di bukakan pintu oleh suaminya, tidak seperti Hanum dan Rico.
"Duh, iri banget sih pasangan lain manis." sindir Lisa pada suaminya.
"Yank, ga boleh iri sama rumput orang. Apalagi adik sendiri. Ayo, itu bu Martha udah nunggu. Malu di tempat umum!" ucap Fawaz menjelaskan.
Lisa hanya menurut saja, sehingga ia melihat Hanum dan Rico sudah duduk berjabat sapa pada bu Martha.
“Rico, ini calon istrimu cantik sekali, siapa Namanya?” tanya Nyonya Martha dengan wajah berbinar.
"Sudah sah nyonya. Kami baru menikah, empat hari yang lalu." jelas Rico.
"Wah, lagi seru serunya dong." sapanya.
“Perkenalkan, saya Hanum, istri dari Rico."
"Cantik sekali, nak Rico itu udah kaya putra saya yang menyebalkan,” kekeh Martha sambil mempersilakan Hanum untuk berjalan menuju ke meja makan vvip yang ada di dalam. Wanita itu terlihat sangat ramah dan membuat Hanum merasa tersanjung.
Hanum seketika membeku, karena perlakuan nyonya Martha sangat ramah dan baik. Tak lupa nyonya Martha ikut menyapa Fawaz. Dan ternyata Fawaz dan Rico sudah sepaket, bertemu dengan mereka seperti anak sendiri.
Hanum mulai mengerti, mengapa Rico dan Fawaz sangat dekat. Berbeda dengan Alfa, bahkan usia meraka jauh lebih muda dari dua pria di depannya ini.
"Lisa, nama saya nyonya Martha."
"Ah! istri dokter, sepertinya kamu mirip sama selebgram yang tuturial bakepacker sama make up ya?"
Lisa tertawa, dan ia mengiyakan dengan merendah. Semua membahas banyak dan terlihat akrab. Hanum dan Lisa ikut mendengar ketika kedua suami mereka bicara tentang bisnis. Sehingga Hanum melirik Lisa dengan sebelah alis.
"Kak, pusing juga punya istri pembisnis. Kemana mana, liburan apapun pasti pikirannya cuan berjalan." bisik Hanum.
"Heuumh! ga apa apa lah! yang penting tercukupi kita. Bisa sering nyalon, belanja dan ga mumet aja dah bersyukur." balas Lisa membisik.
"Ih! materialistik sekali." sebal Hanum.
"Emang kamu enggak?" cetus Lisa.
"Banyak sih. Hehehe." senyum Hanum.
Eheuuuum!! sadar Rico serta Fawaz kala istrinya sibuk bisik bisik. Mereka menatap para istri mereka dan Lisa serta Hanum hanya menunduk pura pura sibuk dengan makan, sekedar memotong steak.
\*\*\*
PARIS IN LOVE.
Hanum dan Lisa berpisah ke kamar hotel mereka masing masing. Berbeda lantai tentunya, Fawaz yang menemui rekan sesama dokter sementara Rico dengan bisnisnya. Hanum dan Lisa hanya saling bertukar balas chat pada saat suami mereka sibuk.
Hanum membuka tirai dari balkon. Hanya dengan jentik jari, atau sekedar tepuk tangan. Tirai itu terbuka, Rico yang sadar sang istri sudah dengan rambut basah menyandar menatap langit langit di pagi hari. Ia segera mendekat dan memeluk Hanum dari belakang.
"Mas, bikin kaget aja. Kamu udah bangun?"
"Heumph! terbangun, karena istriku ga ada di ranjang." balasnya.
"Manjanya suami perfectku ini! istri siapa sih?" goda Hanum dengan cadel, mencubit hidungnya.
"Suami Hanum Saraswati yang di kenal Nyonya Rico." tawa Hanum, kala Rico mengendus ke jenjang lehernya.
"Sayang, kamu tau setiap malam aku memikirkan kamu. Aku mencintaimu Hanum."
"Mas, aku tau. Aku bahagia di cintai oleh suami perfect sepertimu."
"Kamu tau, aku takut kamu berpaling dariku Hanum. Di luar masih banyak pria lebih perfect dariku. Karena mas ga seperti yang kamu ucapkan."
Hanum membalikan badan, hingga sejajar mereka saling menatap "Mas, justru aku yang takut kamu berpaling dariku. Katanya pernikahan itu akan di uji di tahun ganjil. Apa benar? jujur A-aku takut mas.."
Rico membalikan tubuh Hanum, ia menatap langit langit ke arah depan. Dengan bisikan halus menenangkan Hanum.
Tbc.