
Selama mereka berlibur, Hanum dan Rico kembali. Hanya satu yang mereka idamkan adalah segera diberi keturunan. Sesampai di rumah pun, Hanum membelikan oleh oleh untuk sang mama dan mbok surti. Serta keluarga lainnya.
"Padahal ga perlu kamu beli kaya gini, sayang uangnya mending di tabung."
"Ini ide Rico mama, Hanum mana bisa beli cuma buat kita berdua. Habis mama dan mbok ga mau ikut sih?"
"Masa kita ikut yang manten sih non, mbok malu lah. Mabok, jangankan denger pesawat terbang, mau naik aja gemeter." oceh mbok Surti.
Rico dan Hanum saling berbincang, hanya saja saat ini. Mereka lelah, sehingga mereka menginap di kediaman Hanum dengan mama.
"Udah gih, bersih bersih. Terus istirahat, nanti mbok dan mama masak kesukaan kalian!"
"Mah, Rico dan Hanum ga mau buat mama capek dan merepotkan loh."
"Ga capek Ric, gak setiap hari ini juga. Udah kalian masuk gih!" cetus mama sambil senyum.
***
BERBEDA HAL DENGAN PETER.
“Aku akan melaporkanmu!” gumam Irene yang sebenarnya sudah tidak bertenaga.
“Silakan, Ren.” Laki laki itu tidak takut sedikit pun dengan ancaman Irene.
Peter membungkuk ke arah Irene. Mendekatkan wajahnya pada Irene yang berusaha memalingkan wajahnya.
“Laporkan tentang apa yang terjadi malam ini, maka semua akan merendahkanmu, kau tahu apa yang baru saja terjadi sudah terekam dengan baik,” bisik Peter. Tangannya itu meraih sebuah kamera di atas nakas.
Mata Irene yang sudah sayu dan bengkak, langsung membelalak tidak percaya melihat apa yang dipegang laki laki itu.
“Bukankah ini akan menjadi berita baik untuk reputasimu yang berusaha menjadi selebriti? Bukankah ini juga akan menjadi topik terbaik di sekolah adikmu?” tanya Peter sambil mengulas senyum mematikan di wajahnya.
Mengapa seperti ini? Bukankah Irene telah melakukan hal yang benar? Memberi pelajaran terbaik untuk orang yang melakukan hal licik pada Alfa.
Lima hari yang lalu, Alfa mengalami kecelakaan. Ia di serempet oleh seorang laki laki yang langsung kabur. Laki laki itu adalah Alfa adik angkat Peter.
Irene melarikan diri, dibantu oleh temannya untuk melaporkan Peter, Irene berusaha mencari keberadaan Rico untuk meminta tolong. Hanya Rico konon yang bisa membuat keluarga Peter dan Jhonson bungkam, tak berani macam macam.
"Kau wanita licik, tidak akan bisa menemui pahlawan. Belum tentu dia mau menolongmu, kau lupa jika kau jahat pada Hanum, istrinya saat ini?" tawa elak Peter.
"Cuuih! tapi Hanum lembut hatinya, dia pasti mau menolongku." gumam Irene dengan emosi.
"Benarkah?" hahaha tawa Peter tak percaya.
“Tolong hapus video itu, aku mohon,” lirih Irene dengan rasa tertekan. Bibirnya bahkan gemetar mengucap permohonan itu yang sudah pasti diabaikan oleh Peter.
Peter masih dengan senyum mematikannya, melirik rekaman di kamera itu lalu menatap Irene tanpa iba.
Irene terisak. Ia memejamkan matanya dengan sangat.
“Aku hanya ingin keadilan, adikku telah pergi dari hidupku, kenapa kau memperlakukan aku seperti ini? Aku sama sekali tidak merusak nama keluargamu, aku hanya menuntut pertanggung jawaban Alfa, dan aku ingin memulai hidupku." memohon Irene.
“Aku tidak perduli! Yang jelas karena laporanmu sekarang media mengejar ngejarku dan keluargaku! Perusahaan perusahaan yang bersaing dengan Jhonson sekarang sedang bertepuk tangan dan goyang kaki melihat keluarga Jhonson yang dihebohkan dengan kasus tidak penting seperti ini!” geram Peter.
Karena ceroboh Irene. Papa Jhoni menuduh Peter. Sehingga ia kesulitan mengakses kartu black miliknya.
Tidak penting bagi Peter, tapi bagi Irene, ayahnya adalah kekuatan mereka, yang kini sudah tidak ada di sisinya lagi. Ia menangis mendengar ucapan Peter yang sangat tidak punya hati. Emosi, dan geramnya ia simpan karena ia begitu lemah.
“Mungkin, tapi aku akan menyewa pengacara.” sambar Peter cepat.
Irene menatap nanar wajah laki laki yang bengis itu.
“Kau tahu, aku bisa membebaskan kamu sejak saat pertama kau melaporkannya. Apa yang tidak bisa kulakukan, semua bisa dilakukan oleh keluarga Jhonson,” papar Peter dengan arogannya.
“Lalu kenapa kau tidak melakukannya?! Kenapa kau harus membudaki aku seperti ini?” isak Irene yang tidak kuat mengucapkan kalimatnya.
“Impas bukan? Nama baik keluargaku sudah kau hancurkan, maka hidupmu juga harus hancur di tanganku!” gumam Peter.
Irene memejamkan matanya dalam. Isaknya terdengar tersekat karena sudah tidak kuat lagi dengan deraan yang meluluhlantahkan fisik dan batinnya.
Peter menatap Irene tanpa iba sedikit pun. Tatapan tajam dengan rahang yang tegas itu, membuat wajahnya yang sebenarnya sangatlah tampan menjadi menakutkan.
“Lagi pula aku tidak bisa mengembalikan apapun, kalau aku bisa, aku juga ingin ayahku kembali hidup,” lirih Irene.
Peter dengan geramnya menangkap dagu Irene. Ia arahkan wajah wanita itu tepat di depan matanya.
“Dengar! Aku tidak peduli apapun tentangmu dan tentang ayahmu yang sudah mati itu!”
Peter menggigit giginya membuat rahangnya itu semakin tegas. “Kau bersyukur karena aku tidak pernah memukul wanita dengan lembut!” gumamnya dengan suara yang penuh penekanan.
Irene menelan ludahnya. Seketika ia kembali gamang menatap wajah itu, namun untuk bersedih dan mengiba tidak akan mengubah apapun.
“Kau akan menyesal karena sebentar lagi Ibu angkatmu akan segera menyusul Ayahmu, Irene kau lupa. Orangtuamu sudah anggap kau sampah kotor?" terang Peter, yang ingin sekali Irene hancur.
“Video itu, tolong,” potong Irene dengan suara lirih.
“Akan aku kirim ke Ibumu lebih dulu, agar kau tidak punya tempat berteduh." lanjut Peter setelah menatap Irene dengan tajam karena memotong kalimatnya.
“Please aku mohon jangan,” mohon Irene.
Peter masih menatap Irene. Ia seperti monster yang terlihat akan menelan Irene hidup hidup. Bagi Peter saat ini, ia ditugaskan untuk membuang masa lalu yang telah menyakit hati Hanum, dan berada di zona paling rendah. Itu adalah perintah Rico, yang menginginkan masa lalu istrinya tidak di ganggu lagi.
"Jangan tertawa senang Peter, aku tau Rico hanya menyuruh masa lalu yang menjahati Hanum, yang kini istrinya hanya untuk tidak mengganggunya. Tapi kau, malah membuat hidupku hancur. Jika aku adukan dan bukti yang aku punya, bukankah kau yang akan di jebloskan?" lirih Irene.
"Jangan sok suci kau, kau lupa seberapa kau sakiti Hanum dahulu, Rico tidak akan percaya perkataanmu. Jadi simpan saja unek unek dan amarahmu itu!" ketus Peter tertawa dan keluar, ia mengunci kamar, agar Irene tak lagi kabur.
***
Pagi hari, Hanum sudah berhias. Ia menatap jendela dengan kegalauan. Sehingga membuat Rico terbangun dan menghampirinya.
"Kenapa sayang?"
"Mas, kamu ingat gak. Erwin antar Irene ke kontarakan baru. Tapi aku tanyakan, dia tidak disana tinggal. Apa kepergiannya ada hubungannya dengan mas?" tanya Hanum.
"Mas, tidak tau. Mas hanya meminta Erwin, untuk memberi pelajaran pada semua yang telah menyakitimu. Dengan cara memberi uang yang cukup, cukup untuk ia tinggal dan pergi sejauh mungkin."
"Begitukah? akhir akhir ini aku sering mendapat pesan aneh." jelas Hanum.
Rico segera meraih ponsel Hanum, lalu ia membacanya dengan wajah bingung.
Tbc.