BAD WIFE

BAD WIFE
ASPRI BARU



Sepulang dari rumah sakit, Hanum ternyata mengalami gejala imun lemah. Dokter mengatakan, jika Hanum terkena anemia dan lemah imun dalam kehamilan awal. Maka dari itu Rico, meminta Hanum beristirahat saja, efek kehamilan mudanya ia diharuskan bed rest.


Hanum meletakkan remot, ketika bibi di rumah memanggilnya. Ya, saat ini Hanum dan Rico tinggal di rumah baru, tinggal bersama papa Mark dan ibu mertua.


Took! Took!!


"Nyonya, ada tamu yang mencari dan sudah menunggu diruang tamu!" ucap si bibi.


"Baiklah, terimakasih. Biarkan dia menunggu sebentar ya bi, saya akan berganti baju!" ujar Rico, pembantu itu pun pergi dan pamit.


"Mas, aku lihat dulu ya!" bisik Hanum.


"Sayang, biar mas yang cek saja. Kamu tunggu di dalam!"


"Mas, Hanum ga capek kok. Ini masih dalam rumah, Hanum akan berhati hati kok."


"Ya udah sayang, mas akan menyusul. Pelan pelan jalan, mas ganti baju dulu!"


"Mas,?" menatap sendu, Hanum terkejut kala ia ingin bangun. Rico malah menahan dan memeluknya lagi.


Sluuurrph!! Sayang mas masih menginginkannya. Tunggulah sebentar, jangan mengabaikan mas!! bisik manja Rico.


Saat ini Rico memang sedikit manja, seolah kala Hanum sedang berbaring, ia ikut berbaring menemani. Aroma Hanum, membuat Rico tidak bisa jauh seolah candu. Mungkin inilah ikatan sepasangan suami istri yang sedang dimabuk asmara.


"Mas, tunggulah. Kita tidak baik membiarkan tamu terlalu lama, Ayo mas bergegas cuci wajah!"


"Baiklah, kamu tunggu mas. Mas hanya sebentar, sesungguhnya mas ingin kamu istirahat di kamar saja sayang!"


Sesampainya Hanum memakai balutan piyama, dan membuntal rambutnya sedikit dengan bandana agar terlihat rapih. Hanum segera keluar dari kamar menuju ruangan tamu.


Asisten pun menoleh, ke arah tangga juga. Hanum terkejut dan menatap diam berdiri karena kaget pria yang ia lihat.


"Siapa ya dia?" benak Hanum.


Hanum juga terkejut dan menatap, terlebih Rico menyusul berjalan memeluknya dari belakang. Hanum saat ini pun duduk disamping istrinya dan tersenyum.


Di mana pria itu terlihat panas dingin, menatap pemilik rumah bernama Hanum. Karena baru kali ini melihat bos muda mengenakan piyama tidur seksi sekali, meski piyama itu panjang tapi baju kerah dadanya sedikit terbuka.


"Siapa ya?" tanya Hanum, mempersilahkan duduk.


"Kenalkan saya Deri. Pak, Bu bos."


"Duduklah. Apa kamu mengenal saya?" tanya Rico menaikan alis, karena ia merasa tak kenal.


Ia saya mengenal tuan bos, saya adik kelas sekolah favorite keadilan paripurna. Tapi tidak setenar tuan pak bos.


"Owh, kamu alumni disana ya?" Hanum memegang erat tangan mas Rico.


"Aah, apa kau orang suruhan dari Erwin?"


"Ya pak bos, benar sekali." senyum ramah menunduk.


"Mas, kenapa Erwin?"


"Aspri, penjaga dua puluh empat jam penuh. Untuk menjaga Leo, sayang ketika anak anak kita berusia empat tahun! kita juga akan memberikan Aspri pada, Ghani, Ghina dan Azri."


"Mas apa ga berlebihan?" tanya Hanum.


"Tidak ada salahnya, lagi pula kamu tidak boleh lelah ke sekolah. Dan mas menolak Emil yang saat itu katanya tukang ayam chiken itu. Mas tidak mau masa lalu kamu."


Eheeuum!! Deri mendeheum. Hal itu membuat mata Hanum dan Rico senyum, karena hampir saja ia melupakan.


"Nah, kebetulan sekali. Kamu besok datang dan mulailah kemari setiap pukul enam pagi ya!"


"Baik pak! terimakasih."


Rico tak lupa mengambil benda tipis dari sakunya. Dan memencet tombol itu dengan nama Erwin. Setelah tersambung, Hanum mendengarkan beberapa pembicaraan Rico.


"Bisa saya lihat cv nya?" tanya Hanum menarik map merah, pada pria bernama Deri.


Hanum tidak habis pikir, tidak biasanya mas Rico mempekerjakan orang sangat kilat, terlebih menyeleksi di rumah. Ah! pantas, dia bekerja untuk Leo, dan anak anak lainnya. Apa ga berlebihan?! rasanya rumah ini ramai sekali.


Lalu setelah Rico selesai menghubungi, ia bicara pada suaminya dan memperlihatkan cv dengan nama Deri.


"Mas, bagaimana. Kamu menerimanya?"


"Sifatnya ini sementara, jika telah selesai, akan di pindahkan ke yang lain. Bagaimana jika setuju mulai besok kamu datang pagi?"


"Owh, benarkah. Baik pak." Deri mengangguk.


"Ya! selamat bekerja, mulai besok kamu datang langsung ya! asisten lain akan memberitahu apa saja pekerjaanmu!"


"Baik pak. Terimakasih, sekali lagi pak bos, bu bos." senyum Deri, pamit.


***


BEBERAPA HARI KEMUDIAN.


Hanum di ukur seluruh tubuh untuk sebuah gaun yang telah dipesan. Begitupun designer yang mencatat, karena acara syukuran empat bulan bertepatan dengan hari lahir sang Mama ke 68 tahun. Maka dari itu, Hanum berusaha mencari baju senada dengan kompak.


Tak lama, sesaat Yola desaigner mengukur panjang ukuran tangan dan lingkar bahu Hanum.


Hanum pun teringat akan sesuatu. Lalu menatap mas Rico. Ada rasa sakit, ketika mengingat nama Sena. Entah apa, yang jelas ia tak menyukai nama itu sehingga mencoba menghiraukan. Hanum tahu, jika nama Sena adalah nama mantan mas Rico sewaktu berada di singapore, tapi rasanya sakit jika membicarakan mantan.


Gerutu Hanum bergejolak naik, kala designer membicarakan nama Sena, pada mas Rico. Seolah lupa keberadaan Hanum.


"Sayang, kenapa diam? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Rico memeluk dari belakang. Rico pun mengajak sang istri ke kamar, setelah designer dua tamu telah pamit dan pergi.


Hey, rupanya ibu hamil akan selalu berubah mood ya. Sayang kenapa diam?! senyum kilat mengecup pada Hanum.


"Mas, sudahlah. Aku jadi lesu kala mengingat nama Sena."


"Sena .. maksudmu?" Rico mengerenyitkan satu alis dan membuang wajah. Serta menarik nafasnya.


Hanum pun kembali menceritakan tentang Sena. Pertemuan ia pertama kali di kantor mas Rico, hal itu membuat dirinya semakin yakin. Jika mas Rico benar benar telah mempunyai anak dari wanita masa lalunya, apalagi mas Rico baru bilang jika mantannya itu berpacaran lebih dari tujuh tahun.


"Hey, Hanum sayang. Itu hanya masa lalu, mas dan dia saat itu hanya project! ga ada yang lebih, dan project itu juga Erwin yang tangani. Mas hanya cinta sama kamu, ayo ibu hamil. Mood tidak baik di singkirkan dulu. Okey!"


Hanum masih menyembunyikan di mana ia bertemu dengan wanita bernama Sena, wanita itu meminta dirinya pergi, menalak Rico dan menjauhinya. Hal yang membuat Hanum syok dan menangis pergi. Hal itu ia rasakan, kembali sesak kala wanita masa lalu mas Rico terang terangan, akan merebut hati mas Rico suatu saat.


'Sayang. Bunda akan berusaha tidak menangis lagi. Sudah cukup, kita bersedih bukan?' Hanum mengelus perutnya yang rata.


Tanpa sadar, Rico menatap Hanum dengan kasih sayang. Lalu Hanum mengisap air dalam sedotan pink yang diberikan minum oleh Rico. Ia mencoba untuk tetap rileks, agar kelak bayinya tak stres di dalam perut sana.


"Sayang, hari ini mas cuti. Kamu mau kita ke pantai berdua? atau ajak baby bay kita, agar mood kamu ceria?" tanya Rico.


"Mas, aku minta maaf. Aku ga apa apa kok, aku hanya takut kehilangan rasa sayang, cinta kamu yang semakin pudar."


Sssssst!! "Bicara yang baik baik, hati yang bahagia terus ya! mas ga mau dengar ocehan kamu yang panik, kasian baby dan kamu juga." senyum Rico menatap Hanum, dari balkon kamar.


Tbc.