
Lisa yang berada di kantor. Akhir akhir ini terlihat murung, ia menjadi gila kerja dan selalu lembur. Hal itu membuat Sinta kebingungan, hingga di mana ia merenggangkan jarak, agar Lisa sendiri tapi tetap mengawasi.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Pak Ray.
"Haah. Maksud bapak, siapa?" Menoleh dan menyadari jika sang atasan menatap Lisa yang tak berkedip. Gesit dan selalu melupakan makan jam siang.
"Perhatikan rekan baikmu, Sinta!"
"Heuh .. iy pak. Saya mengerti, saya sudah melakukan banyak cara. Tapi ia tidak mau makan, bahkan ia melupakan hari kerja terlihat, seperti robot saja. Tapi bapak tenang saja, saya akan memaksanya!"
"Lisa mengajukan cuti dua bulan lagi, tapi pastikan ia tidak kelelahan. Jika terjadi sesuatu, perusahaan kita pasti kena masalah."
"Baik pak."
Ray kali ini datang. Ia menatap berkas forma Lisa. Ia juga mengatakan pada seorang berpengaruh jika karyawannya sedang tidak baik. Hingga ia menaikan satu alis.
"Seberapa profesional dirinya bekerja, apakah orang hamil bisa di andalkan?! Tak peduli apapun itu. Saya hanya mau dia di pindahkan ke ruangan ini. Project ini tidak bisa mengulur waktu!"
TLIIIING ... CHAT BEGITU SAJA TAMPIL DI LAYAR PONSEL LISA.
Lisa kini memasuki ruangan pantry. Ia mengaduk ngaduk teh yang di buatkan Sinta. Lisa hanya tak bersemangat untuk makan dan minum. Apapun ketika ia tak mempunyai kerjaan. Tapi ia hanya minum susu sedikit, dan vitamin untuk menjaga kandungannya.
"Lisa. Jangan kaya gini dong, please!"
"Sin. Gue gak kenapa napa kok. Lagian lagi bosen aja. Semua kerjaan dah rapih. Apa gue bantu berkas lo aja Ya, aku bantu follow up?"
"Haaaah.. Bu- buanyak bener Lis. Jangan kaya gitu, bisa habis gue nanti sama pak Ray. Nanti yang ada gue dibilang ngejajah lo."
"Ga gitu juga lah, cuma gue masih kepikiran soal Berli. Kenapa dia bilang wanita kemarin, itu adalah orang yang merusak hubungan aku sama mas Fawaz ya? aku ga mau gitu aja nuduh kalau ga ada bukti."
"Namanya juga kartu tarot begituan, bisa salah bisa juga benarnya sedikit. Lagian si Berli masih lemas buang buang air dia, mangkannya kemarin dia cuma ngabarin gitu, tapi aku udah nyuruh orang buat info kediaman si Nestia itu. Kali aja info Berli salah kan. Lis, udah ya jangan kaya gini."
Lisa mengangguk, entah kenapa begitu ada masalah. Masih banyak orang yang kebetulan mau membantunya. Belum lagi Lisa sampai kini ga tau, mas Fawaz pulang kemana sehabis bekerja.
Tak lama saat mereka bicara, seseorang datang membuat kegaduhan. Ya Putrina yang ingin mengambil piring untuk makan siang di kantor.
Hari itu kesal karena banyaknya deadline dan lembur berhari hari. Tapi menatap Lisa yang berdiri bagai ayam kaku, ia bersemangat untuk menggodanya.
"Aduuuh .. Aduuh. Bumil ga ada suami ngapain di sini. lagi Galau ya?" sinis Putrina.
Sorot mata Sinta ingin sekali mengguyur teh panas. Di cangkirnya teh panas, membuat dirinya kesal menatap wanita sesama karyawan yang mencari sesuap nasi. Tapi ia lebih kesal saat Lisa di olok olok seperti itu.
"Eeeekh. Lo bisa ga diem!"
"Enggak. Emang kenapa sih, gue natap bicara kaya gini ke Lisa. Kenapa elo jadi nyolot. Jangan jangan lo satu spesies ya?"
"Sint.. Udah ya! Kita pergi dari sini, ga perlu ladenin orang yang cuma cari panggung!" pinta Lisa, ia sudah malas untuk berdebat.
"Cari panggung. Haaah gue." tatap Putrina pada Lisa.
Lisa membuat mata Putrina kesal. Biasanya ia selalu diam dan menangis. Tapi kali ini ia membuat mata menohok, tak percaya dengan ucapan balasan Lisa.
Sehingga Putrina menggeleng kepala dan mencubit pipinya. Apa dia bermimpi saat Lisa menepisnya.
"Mbak yang sopan, belum nikah harus pandai jaga sikap. Nanti kamu sendiri yang kena karma omongan kamu itu bisa aja jadi doa untuk diri sendiri. Jadi kata kata kamu, aku balikin lagi ke diri kamu Putrina." ucap Lisa pergi.
Di BERBEDA TEMPAT.
Nestia menatap seru. Kali ini ia tak menyangka jika ia akan ada project kerjasama ambasador dalam sambutan acara BE. Hal itu ia tak menyangka jika telah menandatangani di bawah perusahaan yang terdiri dari beberapa kandidat termasuk nama Lisa JE vloger terkenal, yang sempat naik daun dan kini sering tidak aktif.
"Tunggu, jadi Lisa ini istri sahnya Fawaz. Hahaha, bisa kebetulan juga ya. Baguslah, aku bisa bersaing hebat sama dia." gumam Nestia.
"Huuftth! Lisa Kamu akan tersiksa jika bertemu denganku. Kamu ga akan lepas dari kebencianku, juga Honey ku. Fawaz akan selalu membencimu." seru batinnya.
Fawaz meletakkan jas dan melingkarkan lengannya. Tepat menatap jendela, ia menatap Nestia sedang berdiri menatap arah balkon. Ia langsung melingkari dan mengecup tungku leher sang istri kala ia rindu.
"Sayang. Apa yang kamu pikirkan?"
"Honey. Kamu datang selalu mengagetkan saja. Ayo bersihkan diri kamu ya!"
"Aku mau kita lakukan sesuatu dulu. Bagaimana?" gelitik Fawaz membuat Nestia meletakkan ponselnya dan menutup tirai.
***
DI RUMAH SAKIT RUANG KAMAR TUJUH KOSONG TUJUH.
"Nyonya Lisa. Kondisi bu Riris semakin baik. Hanya saja masih perlu beberapa waktu. Cairan infus yang kami berikan. Hanya bisa membuat asupan bertahan pasein. Apa ada lagi yang ingin di tanyakan?"
"Ooooh. Begitukah? Baiklah. Saya hanya perlu sesuatu untuk merujuk. Jika ibu mertua saya dirawat di rumah apa bisa Dok?" tanya Lisa.
"Begini. Hal seperti ini memang langka, tapi mengingat kondisi pasein bisa menggerakan tangan. Dalam hitungan detik saja, ada kemungkinan bisa sembuh. Tapi untuk saat ini, masih perlu dalam perawatan rumah sakit. Apa keberatan Nona?"
Lisa menggeleng kepala. Lalu ia pamit bergegas ke ruangan ibu mertuanya. Ia menatap lampiran biaya rumah sakit yang tak sedikit. Lalu ia segera melipat dan mengatur deru nafasnya.
"Mas. Aku ga percaya soal seperti ini. Atau biaya hidup istrimu itu cukup tinggi. Hingga biaya rumah sakit ibu asuhmu, kamu abaikan. Apa seseorang melarangmu, kamu lebih jahat dari yang aku duga. Ibu Riris masih perlu pengobatan lanjut, kamu malah mencabutnya. Aku akan mencarimu mas, akan aku pastikan jika wanita itu benar Nestia, aku akan menyetujui permintaanmu yang ingin berpisah dariku. Setelah aku minta kamu memilih."
Lisa meletakkan tasnya. Lalu menatap bu Riris dengan sayup katup mata lelah. Ya, Lisa lembur akhir akhir ini. Sidang pengadilan akan terlaksana, kala Fawaz telah mengugatnya.
Tapi ia tak mengabaikan waktu, sekalipun ibu Riris mertuanya juga, yang masih berjuang melawan takdir di rumah sakit. Tak lama mama Felicia menghubungi Lisa, atau mungkin ia sudah dapat kabar tentangnya dengan Fawaz yang semakin hari buruk dan semakin menjauh.
Mama Felicia, semoga saja ia tidak tahu. Entah aku merasa tak nyaman, jika mama Felicia kembali ke kota dari Swedia hanya untuk masalah aku dan Fawaz. Sementara ini adalah rumah tanggaku, mungkin aku dan Fawaz memang sudah tak sejalan. Jadi aku harus jawab apa, mama Felicia begitu baik, bahkan aku saja tidak tau mas Fawaz tinggal dimana.
Tlith! Tlith! nama mama Felicia.
Lisa masih bingung untuk menerima panggilan, belum lagi chat terpampang dilayar ponselnya. Nama Hanum, Rico yang bertanya banyak tapi belum sempat Lisa buka.
"Aku harus jawab apa? ini masalah ku, tapi aku ga mau melibatkan hati yang lain patah juga." lirih Lisa.
Tbc.
Hey! Author udah kejar up ini dari pagi, tapi entunnya gangguan reveiw manual. Udah banyak bab masih aja belum lolos. Semoga bab kali ini lolos reveiw.
Mampir juga nih ke novel ok! temen litersi Author.