BAD WIFE

BAD WIFE
PANIK BAHAGIA



"Mas, antar ke rumah sakit ya?"


"Ga usah mas, kayaknya aku hanya kecapean aja. Mas harus ke pusat Marco kan?"


"Tapi kamu lebih penting sayang."


"Mas, gini aja. Aku nginep di apartemen deket kantor. Jadi kalau ada apa apa, mas bisa cepat pulang. Kasihan klien mas, mereka jauh jauh datang loh."


"Sayang, tapi kamu sakit. Biar mas hubungi dokter ya! atau kalau aku jemput mama untuk temani kamu gimana? kira kira mama sibuk gak ya?"


"Boleh mas, tapi apa enggak telat kamu mas?"


"Masih ada waktu dua jam, mas antar ke apartemen. Mas juga harus ganti pakaian dan ambil sesuatu yang tertinggal." ucap Rico.


Hanum merasa tidak enak, ia sudah tau jika perusahaan Marco sedang guncang. Beberapa kali Hanum mendengar ketika ia pura pura tidur pulas. Rico menghubungi klien untuk bekerjasama, karena kasus Adelia semua saham dan nama baik papa Mark dan market Marco harus di ambang kebangkrutan.


"Mas, maaf ya! Semua pasti gara gara aku."


"Hey! jangan melow. Perusahaan Marco sudah berdiri puluhan tahun. Soal pasang surut sudah biasa sayang, mas udah katakan. Ga ada sangkut pautnya sama kamu. Jadi kamu harus baik baik aja ya!" senyum Rico.


Di mobil, Hanum sedikit sakit akan punggung, mata yang semakin berkunang dan pusing membuatnya bersandar memejamkan mata. Hingga menunggu tiba tujuan sampai, ia mengambil sebuah permen Jahe sekedar membuang rasa sakit yang ia tahan.


'Pria sukses ada, sosok wanita yang berada di belakangnya. Tapi kalau mas Rico, akan tumbang semua karena aku. Apa jadinya aku mas, aku tau hatimu gundah saat ini.' deru batin Hanum.


Belum lagi Hanum selalu ingat kata kata Lisa. Yang selalu saja mematahkan kegundahan perasaan khawatirnya.


Apartemen.


Hanum yang sedang di periksa dokter, ia masih menatap sang suami yang masih menghubungi seseorang dengan wajah guratan campur aduk. Bukan guratan bahagia, melainkan sebuah kepanikan dan kecemasan.


Hanum duduk dan lemas menunggu aksi suami yang sibuk di area balkon, hingga selesai. Tapi lagi lagi ia ingat kata kata Lisa dan wanita wanita yang saat ini mungkin mas Rico akan datang bersama klien wanita super modis melebihi model.


"Aah! sudahlah Hanum. Jangan mematahkan ingat ingatan seperti itu lagi!" gumam Hanum menyadarkan dirinya, untuk tetap tenang.


"Baiklah bu Hanum, detak jantung normal. Bu Hanum hanya kelelahan saja. Darah rendah, kapan haid terakhir, bu Hanum?" tanya dokter.


"Ada kemungkinan bu Hanum hamil. Hanya saja perlu di cek dengan alat deteksi kehamilan. Gunakan tespack di pagi hari setelah bangun tidur!" senyum dokter.


"Tapi dok, saya menikah baru mau tiga minggu, mana bisa dikatakan janin saya sudah lima minggu tadi?"


"Punggung bawah bu Hanum juga bisa merasakan kramnya. Ciri ciri hamil sebelum menstruasi selanjutnya yaitu rasa lelah sepanjang waktu. Tapi janin kehamilan semua berdasarkan dari haid terakhir. Minggu depan bu Hanum cek lebih lanjut ya! saya akan memeriksa perkembangannya!" senyum dokter.


"Sekali lagi selamat ya bu Hanum, bu Hanum dan pak Rico akan dikaruniai buah hati!"


"Terimakasih dokter."


"Apa dokter, buah hati?" terkejut Rico.


"Betul pak! selamat ya pak Rico."


Dokter pun menjelaskan, sehingga raut kebahagian membuat Rico dan Hanum saling senyum. Setelah selesai dokter pamit, setelah menulis resep obat, untuk Rico tebus di apotek terdekat.


"Terimakasih kamu sudah hadir sayang." kecup Rico pada perut rata Hanum.


"Mas, maaf ya. Aku hamil di saat perusahaan mas akan ..?!" sedih Hanum.


"Hey! tugas kamu selalu senyum dan bahagia. Mas sudah sering alami pasang surut, jangan lagi bersalah. Tugas mas adalah memastikan kamu dan buah hati kita bahagia dan tersenyum. Semua pasti akan baik baik saja!" jelas Rico.


Hanum sayang, meski perlakuan Adelia yang membuatmu tak nyaman. Di tambah kita akan hadirnya buah hati. Percayalah mas hanya menginginkan dirimu satu satunya, istri dan orang terpenting dalam hidup mas, sampai maut memisahkan. Mas ga akan menyiakan dan menodai cinta pernikahan kita.


"Kamu dan bayi kita sehat terus ya! senyum, rileks dan bahagia. Agar mas juga semangat. Jangan lagi memikirkan hal terburuk. Marco akan baik baik saja, hal dunia bisnis selalu seperti ini. Mas hanya kesulitan ketika satu klien meminta mas menyerahkan aset Pusat Marco. Sedang menegonya saja." jelas Rico.


"Baiklah, semangat papa sayang." pujian dari Hanum dan calon buah hati. Sehingga Rico memeluk sang istri dengan raut kebahagiaan.


Hanum juga tersenyum dan mencium pipi suami tercinta, bisikan perkataannya ia menatap bola mata yang jujur, mereka menikmati indra pengecapan, yang telah bertautan dengan lama sebagai simbol keharmonisan.


Tbc.