BAD WIFE

BAD WIFE
PROJECT BARU



"Mama, jangan sedih ya. Hanum sedang berkemas, esok Hanum sudah empat puluh hari. Jadi mas Rico bolehin Hanum ikut antar mama." jelasnya, saat Hanum menenangkan mama Rita di rumah sakit, yang akan pulang ke rumahnya.


"Han, mama kasian sama kakakmu. Kita temani Lisa ya. Kita hanya beri dukungan aja, agar kakakmu kuat. Kasian dia."


"Iy mah. Hanum ngerti, kita ga ikut kedalam masalah Lisa dan Fawaz. Setidaknya Hanum bisa berada di masa sulit ka Lisa. Mama cepet sembuh ya! Hanum ga mau mama sakit lagi, di rumah sakit itu makanan kan ga enak."


Mama Rita mengangguk, jujur ia sangat terpukul sebagai ibu. Tidak pernah menyangka saat ingin bertamu ke rumah anak sulungnya. Ia terkejut kala rumah tangga anaknya sedang bermasalah. Akan tetapi Lisa tidak bicara apapun hanya karena takut sang mama kepikiran.


***


Sementara Lisa telah masuk ke dalam mobil jemputan. Setelah memakan waktu satu jam, ia hampir terlelap dan terbangun saat ada lonjakan.


"Haah, ada apa ini pak?"


"Hanya bebatuan. Kita sudah sampai juga Nona. Silahkan ke lantai delapan puluh satu!"


Lisa menelan saliva. Ia cukup terkejut akan bangunan gedung yang menjulang tinggi. Ia begitu frustasi akan supir kemarin yang menolongnya. Dan baru tau, jika ia adalah pengawal pak Ray. Di saat wawancara temu kantor, ia memang sedikit menghindarinya, akan tetapi lagi lagi pak Ray membantunya.


"Rileks Lisa. Bagaimanapun dia adalah atasan mu saat ini, mungkin saja aku akan kembali di mutasi. Eh tapi gak, bentar lagi aku cuti." batin Lisa.


Lisa manaiki lift, masih mode tatapan dua pengawal yang berada di belakangnya mengantar.


Tatapan alu lalang memperhatikannya, meski ia memakai penutup wajah. Sekedar masker berwarna jingga. Ia terlalu malu dan menutup sedikit keningnya karena seperti wanita yang bermasalah dengan rentenir.


"Mengapa nasibku seperti ini?" Lisa berlalu langkah lebih dulu, tapi cekatan langkah sang pengawal menghentikan.


"Nona. Ke arah kanan, Bos kami di lantai delapan puluh satu!"


Lisa berhenti, melirik jika ruangan itu adalah lantai di atas seratus ke atas. Hingga ia berbalik arah karena semakin malu dan meminta sang pengawal lebih dulu.


"Silahkan!"


"Baik terimakasih, pak!"


Lisa yang berjalan pelan, ia berbalik Arah. Ray hanya menaikan alis dan gaya berjalan mirip orang yang tak berdosa. Lalu ia kembali menunggu di depan pintu, tak menoleh di dalamnya.


"Dasar bos gila. Bagaimana bisa, dia berjalan dari arah lain dengan busana begitu, hanya mengenakan handuk masih di luar area kamar hotel. Pantas saja suasana lampu di sini remang." lirihnya.


TREEEENG .. TAK MENUNGGU LAMA, LAMPU MENYALA DENGAN TERANG.


Seolah perkataan Lisa, lampu itu membuat ia terkejut karena bicaranya yang bilang terlalu gelap.


"Apa lampu ini otomatis ya. Ketika kita bicara terlalu gelap, dia akan berubah terang?"


Lisa pun duduk selama lima belas menit. Ia menunduk dan tiba saja mengantuk hingga menutup wajahnya dengan tangan.


EHEUUUM .. JIKA MENGANTUK KEMBALI PULANGLAH!!


Teriakan suara khas terdengar itu, membuat Lisa tersedak. Ia menatap pak Ray di depannya dengan tak percaya. Posisi wajahnya benar benar menatap arah pinggang pria ketika ia duduk.


"Kenapa diam. Lihat wajah saya!"


Eh, cepat sekali dia berpakaian. Baguslah! Lisa pun menghela nafas, lalu menatap wajah sang bos nya dengan menatap tajam. Hingga ia berdiri namun tetap saja tingginya lebih pendek, Lisa hanya seukuran bahu pria kala itu.


'Kalau bukan karena butuh pekerjaan ini, aku pasti tidak akan masih bekerja di saat hamil.' batin Lisa.


"Duduklah Lisa. Saya akan to the point!"


"Baik. Lalu ada apa anda ingin menemui saya pak?"


"Haaah. Sebenarnya saya malas berurusan dengan karyawan bermasalah sepertimu Lisa. Tapi pak Ver menyakinkan jika pasti ada kesalahpahaman. Lalu apa yang akan kamu perbuat, setelah pembakaran kemarin?"


"Perbuat. Tapi saya tidak bersalah .. hanya saja. Saya tak bisa menemukan buktinya." lemas.


"Lalu kenapa bapak meminta saya datang. Jika jawaban saya tidak tau, sudah pasti saya akan kehilangan pekerjaan." jelas Lisa membela.


Hahahaha .. sepertinya wanita sepertimu tidak berterimakasih. Kamu sadar, kamu bekerja dimana? tegas pak Ray kala itu. Karena terakhir ia berbicara mengancam, agar Ray tidak ikut campur, kedalam masalahnya.


Lisa terdiam, sejenak berfikir hal apa yang harus ia lakukan. Ia pun kembali menatap atasannya itu dengan meyakinkan dia tidak bersalah.


"Maaf. Jika saya telah membuat anda bermasalah. Saya mengerti, sudah pasti akan mengganggu dalam kinerja perusahaan. Tapi saya tidak tau harus bagaimana pak. Maafkan saya!"


Lisa melemas, tiba saja pria itu melemparkan flash disk.


BRAAAAGH .. LIHATLAH!!


Lisa terdiam, ia mengambil benda pipih kecil. Ia menatap dengan jelas, dengan menatap pak Ray yang profesional.


"Itu rekaman cctv mall kemarin. Jika kamu beritakan maka semua clear!"


"Haaah. Benarkah, terimakasih pak. Ini sangat berarti untuk saya. Saya tidak bisa diam saat ini, saya harus menjelaskan pada mas Fawaz. Jika saya tidak bersalah. Dengan begitu ia tau jika Nestia bukan wanita yang sangat baik."


"Kamu mau kemana? Saya belum selesai bicara Lisa. Duduklah!"


Lisa lupa, ia sakin senangnya. Ia mengerjapkan matanya. Lalu menoleh kebelakang dan kembali duduk.


"Kamu tau, apa imbalannya?"


"Haaah. Imbalannya, maksud ba- bapak apa ya?"


"Jangan gugup. Kamu tau, lihatlah ini hotel. Apa kamu berpura pura?" melirik goda.


Lisa mengepal jarinya. Ia kesal, dan kembali meletakkan flashdisk, menyodorkan pada sang atasan.


"Maaf. Jika tidur saya tidak bisa, lebih baik tidak perlu mencari pembelaan. Saya hanya butuh rekaman itu. Jika saya tidak bersalah, jika mas Fawaz sadar. Wanita yang ia nikahi adalah wanita licik. Saya menyerah jika imbalannya harus bertukar dengan kehormatan."


Ray tertawa, tersenyum miring, lalu melangkah hingga berdiri tepat di depan Lisa.


"Siapa yang memintamu tidur di ranjang hotelku. Membuat sampah noda adalah hal busuk yang tidak aku sukai. Tapi jika kamu tidak memerlukannya. Baiklah .. kamu bisa per ..!"


"Tunggu Pak. Saya membutuhkannya, jelaskan apa imbalannya. Saya tau seorang bos seperti anda tidak ingin rugi. Apa yang harus saya lakukan?" sebal Lisa, ingin sekali ia menoyor kepala Ray, yang sekarang ini bicara padanya terlihat baku.


"Benarkah. Apa kamu yakin, jika kamu ingin mendengar. Itu tanda kamu telah menyetujuinya tak bisa di batalkan."


Lisa bergitu emosi, mendengar saja syaratnya belum. Ia belum bisa, lalu mengapa harus di anggap setuju.


"Baiklah. Apa Ray?"


Ray pun mendekatkan wajahnya, berbisik pada Lisa.


"Ikut iklan denganku, di luar kantor. Bukankah kamu aktif lagi, penggemarmu naik Lisa. Aku diminta mencari wanita untuk program BE asia. Tapi aku mau kamu, bukankah kamu juga butuh biaya untuk melahirkan nanti?"


"Haah. Tapi bagaimana mungkin, itu ga akan mungkin. Saya tidak mungkin melakukannya. Lagi pula saya masih status ..,"


"Ini. Surat dari Fawaz suamimu. Tepatnya mantan kan? masih mau mengharap, biaya persalinan dari suami yang sedang gila wanita lain?"


'Dasar mulut ember, meski dia benar bicara. Tapi kenapa rasanya sakit disindir oleh si Ray gila.' batin Lisa.


Lisa ambil flasdisk, isi rekaman dari sebuah konflik dirinya dibelakang panggung, saat itu Lisa membakar kotak dan mengancam Nestia. Hingga Lisa lupa, jika wanita itu mebuat fitnah. Lisa sengaja membuat kebakaran di gedung yang sedang acara. Jelas Lisa tahu, api itu kecil dan telah padam, sebelum ia pergi. Entah mengapa Nestia menyalakan lagi dan membuat hingga besar, lalu membuat berita Lisa sengaja lakukan untuk mencelakainya.


"Ray, aku tahu kamu. Baiklah aku setuju."


Tbc.