BAD WIFE

BAD WIFE
MEMBAWA SARAPAN



Siang ini, Hanum dalam perjalanan menuju market Marco. Hanum sengaja membuat gimbab, untuk makan siang mas Rico. Setelah menjemput Leo disekolah, Hanum segera meraih tas Leo dan duduk di sampingnya.


"Bunda, perut bunda semakin terlihat bulat. Apa Leo, mau punya adik kecil?" senyum Leo.


"Betul sayang, bunda minta Leo nanti jaga adik adik ya! karena nanti Leo semakin besar, lindungi adik adik. Sayangi mereka seperti bunda dan papa sayang Leo."


"Yes! Leo ngerti bunda. Leo pasti akan sayaaaang sekali dengan adik adik. Ghani, Ghina dan Azri juga si bayi dalam perut bunda." ujar Leo bergema, sambil mengelus perut Hanum.


Hanum meminta pak Supir berhenti, sebab Hanum ingin sekali membeli coffe untuk mas Rico. Dan cokelat hangat untuk Leo, dan dirinya. Hanum juga membeli sedikit beberapa coffe, dan coklat hangat untuk pekerja mas Rico di ruangan staff.


Dengan bantuan supir, Hanum segera melaju ke kantor mas Rico, dalam beberapa puluh menit saja.


'Mas, Rico pasti terkejut. Karena Hanum sengaja datang, ga ngabarin.' batin Hanum.


Sementara di kantor.


Rico terlihat serius, ketika ia mengecek beberapa file dan faktur. Saat ini Rico memencet tombol telepon, kala ia meminta Erwin datang ke ruangannya.


Tuan Erwin!! teriak seseorang.


"Ada apa Stela?"


"Pak Rico, meminta bapak ke ruangannya sekarang! juga meminta back up faktur pt sony,"


"Ok. Terimakasih."


Sang sekretaris menyapa Erwin dengan sopan, seraya menundukan kepalanya, kala ia baru saja keluar dari lift. Sehingga dengan sepuluh menit saja, Erwin sudah mengetuk dan berada di dalam ruangan Rico.


“Apa laporan yang aku minta siapkan sudah kau kerjakan?” Suara Rico dingin dengan raut wajah tanpa ekspresi.


"Ah, iya. Sebenarnya sudah dikerjakan, tapi saya .."


Erwin yang belum lama, mendapati dirinya yang begitu saja bertemu Nazim setelah sekian lama. Ia melupakan cadangan faktur, yang harusnya ia berikan pada Rico hari ini.


"Kau lupa? jadi sudah berapa lama kau bekerja dengan keluarga Mark? apa aku menganggapmu seperti pekerja Erwin? kau tahu, faktur itu akan kita bereskan pukul dua siang." cetus Rico dengan amarah, karena ia baru melihat Erwin seceroboh seperti saat ini.


"Kau jatuh cinta? hey Erwin! boleh jatuh cinta, tapi fokus pada tugasmu!" kembali Rico berkata.


Erwin benar benar membuat dirinya terjebak kebodohan. Tanpa satu kata, saat membuka pintu. Pemandangan yang cukup bagus, kala dirinya harus memutuskan jika dirinya tak ada lagi hubungan apapun dengan Nazim, karena Erwin berusaha menutupinya dari Rico.


'Intrik wanita jatuh cinta, benar benar membuat aku muntah. Bahkan aku harus melukai perasaan ku sendiri demi Nazim di depan Rico.' batin Erwin, ia tak mau mengakui jika dirinya sedang jatuh cinta.


Rico yang merasa kesal, bukan tak memperbolehkan Erwin mempunyai pasangan. Tapi tiap kali ia jatuh cinta, tugasnya selalu lambat dan ceroboh. Dan Rico tidak ingin Erwin melakukan kesalahan seperti dahulu, saat ia dimanfaatkan oleh Adelia sehingga berujung kebangkrutan.


Tak lama ketukan pintu. Rico mempersilahkan siapa yang masuk, dari jauh terlihat Stela datang dan berbicara dengan raut wajah kebingungan menatap Erwin.


"Pak Laporan yang anda minta sudah saya kerjakan semuanya. Saya juga sudah meletakan laporan itu ke atas meja kerja Anda, Pak," ujar Stela memberitahu.


"Stela, jadi fakturnya sudah kau backup. Ah! terimakasih, kau boleh keluar sekarang!" ramah Erwin.


Sementara Rico tak bisa marah, ia hanya menghela nafas. Dan sudah tahu jawabannya jika Erwin ceroboh, bagusnya mendapat penolong dirinya tidak tamat hari ini.


"Kalian pergilah! Erwin jangan lupa pukul dua, kau temui pt sony! suruh dia cepat membayar segala tagihan jatuh tempo minggu ini!" ujar Rico.


"Siap, aku pastikan ini tidak terulang Ric." bisik Erwin, membuat mata malas Rico.


Tak menunggu lama, Stela mendekat ke Erwin, ketika ia berada di luar ruangan.


“Hm … pak Erwin maaf saya lancang, di ruang kerja anda ada bu Nazim, beliau sudah menunggu Anda sejak satu jam yang lalu. Sebelumnya saya meminta bu Nazim untuk pulang tapi beliau tidak mau, Pak. Bu Nazim ingin menunggu hingga Anda datang.” Sang sekretaris bernama Stela, menjelaskan tentang wanita yang ingin langsung bertemu Erwin.


Hal itu membuat Erwin merasa bingung, tapi berusaha acuh meski sulit.


Erwin mengembuskan napas kasar. Dia tak menyangka kalau Nazim yang pernah menjadi masa lalunya itu benar benar membohonginya. Padahal sebelumnya ia sudah meminta untuk menunggu di tempat lain.


"Ah! wanita itu, apa ingin mengadu pada Rico." desis Erwin segera jalan lebih cepat.


DI SAAT BERSAMAAN.


Hanum menuntun Leo, dengan kotak kecil paperbag, dibantu sang supir membawakan coffe shop dan coklat hangat. Dia bagikan kebeberapa staff, tidak terkecuali miliknya dengan mas Rico. Hanum pegang, dibantu Leo.


"Pak! letakan saja di meja pantry! biar bagian pantry yang membagikan!"


"Baik bu! kalau begitu saya tunggu dibawah." ujar supir, dan Hanum senyum, tanda mengiyakan.


Namun saat ia belok ke arah ruangan mas Rico, begitu terkejut kala Erwin memegang tangan Nazim seolah menarik paksa.


"Kalian, sedang apa?" lirih Hanum.


Erwin yang sedikit gelagap, ia pamit dan meninggalkan Nazim, dengan alasan akan ada rapat. Tapi Hanum, seolah tak percaya dan meraih tangan mbak Nazim.


"Mbak, kok ada disini?"


"Heeuh! niatnya mau bertemu Rico, dia panggil aku soal butik jas. Tapi bertemu Erwin si pria gila, aku berlaga gila dan guyon saja. Jika aku, mau mengadukan dia tempo hari."


"Mbak! jahilnya ga ilang ilang deh, ya udah bareng aja. Kebetulan Hanum mau anter makan siang juga."


Tak lama, Hanum melewati sebuah meja staff umum, terlihat ponsel tergeletak. Dan Hanum melihat sebuah nama di layar ponsel dengan nama Rico.


"Hanum, kok diem disitu?" teriak Nazim, yang menggandeng Leo.


'Apa itu nomor mas Rico? kenapa menghubungi staf umum langsung telepon pribadi, bukan telepon kantor?' batin Hanum yang sangat panik dan takut.


Tbc.