BAD WIFE

BAD WIFE
RICO TERLALU SEMPURNA



"Duh, baru hari kedua. Kalian udah seliweran aja? emang masih cuti Ric?" tanya mama Rita.


"Berkunjung, sekalian mau bilang. Mama kalau Lisa ga ada di rumah, tinggal sama Rico aja, temani Hanum. Gimana?"


"Ga perlu! mama itu hanya bisa mendukung kalian saling menjaga. Tugas mama dan kalian sudah berbeda, mama mau tutup kuping dan telinga kalau Hanum buat masalah."


Heeih! mama, mana pernah Hanum buat masalah sih? gerutu Hanum yang menaruh gelas dan kue di piring tipis.


"Ada, kamu sekarang harus banyak terbuka. Jangan apa apa sendiri. Mama di tengokin aja udah seneng kok."


"Tuh denger Yank, kamu harus inget kata mama!"


Mama Rita tersenyum, kala anaknya sudah memanggil suaminya dan sebaliknya dengan kata yang manis. Doa mama Rita sebagai ibu, sudah pasti untuk kebahagian putrinya selalu bahagia.


Hanum juga meminta ijin, jika dirinya akan ke paris lusa. Sekaligus menemani klien penting yang akan di adakan Rico beserta bos Market dari berbagai negara.


"Syukurlah! mama seneng, kalau gitu mama hanya bisa doa. Mama ga mau ikutan, kamu tau kan ada eyang di rumah. Mama harus jaga Eyang juga. Yang penting kalian baik baik, jangan lupakan ibadah yang utama!" jelas mama Rita.


"Iya mah. Mama juga janji sama Hanum, mama harus hubungi Hanum kalau ada apa apa!"


"Ya, mama janji."


Hanum membantu merapihkan segala hal, termasuk barang barang di kamarnya yang akan ia perlukan nanti. Sementara Rico mengobrol bersama mama mertua.


Sore hari Hanum pamit, ia pergi dan saat itu juga Hanum berat rasanya meninggalkan sang mama.


"Udah jangan nangis, tempat tinggal kamu sama mama hanya beberapa puluh menit. Jangan cengeng!"


"Tapi Lisa juga pergi ikut suaminya, terus Hanum bisa apa lihat mama sendiri?"


"Ada paman, Num! kamu belum tau, keluarga Eyang akan tinggal nemenin dan kami hanya lima kilometer loh jaraknya, jangan lebay!" ucap paman Frans.


"Ah! benarkah?"


Rico menenangkan setelah tenang, mereka pamit.


"Yank, kita ke tempat Erwin dulu ya, map ini aku mau kasih."


"Ok, sayang." lembut Hanum.


Sesaat Erwin menghampiri Rico, mereka bicara serius tak terdengar. Hanum turun dan terpukau bunga di sekitar rumah cluster itu. Tapi dua orang wanita melewati Hanum sambil berbicara dengan lantang, tanpa rasa bersalah.


Rico segera kembali, ia memastikan Hanum memakai seat belt dengan erat. Tapi raut wajah Rico terlihat berbeda menatap Hanum.


Rico kembali menatap Hanum. “Apa yang terjadi Han?” tanyanya lembut.


Hanum menghela napas. “Aku cuma kecapean Ric,” jawabnya.


“Tapi kenapa kamu kaya sedih?


Hanum menelan ludahnya. Ia menatap ibunya, tidak sampai hati ia mengatakan bahwa ia dipecat dari kantornya.


“Hanum sayang, Semua Ok?” tanya Rico lembut, menyentuh jemari tangan Hanum.


Lagi lagi, kalimat tanya yang sederhana itu membuat Hanum ingin sekali berteriak, meluapkan semua beban, tekanan ocehan orang.


“I’m Ok Ric, jangan terlalu khawatir,” jawab Hanum, mencoba tersenyum.


"Kamu pasti ada apa apa, ayo jujur sama aku. Ada apa?"


Rico menghembuskan napas.


"Siapa yang bilang, kita samperin orangnya ya?"


"Enggak perlu, dia juga bilang katanya aku tuh jahat. Karena udah buat adik iparnya akan masuk penjara. Karena saat ini di sidang." jelas Hanum menutup mata.


Hanum menceritakan ocehan dua wanita yang jelas lewat, dan membicarakannya seolah sengaja agar ia dengar.


“Hanum sayang, Aku tahu kamu khawatir, tapi berburuk sangka juga nggak baik, dan keputusan aku menghukum Adelia itu tepat, orang itu hanya lihat luarnya saja. Jangan perdulikan lagi ok!"


Hanum menunduk. “Iya Rico,” balas Hanum.


Hanum terdiam. Ia seperti sudah mengalah dengan persidangan itu, karena apapun yang dia usahakan pasti akan gagal, membujuk Rico untuk mencabut tuntutan pada adiknya.


Rico sudah lelah, karena sikap Adelia secara langsung sengaja, agar papanya terkena serangan jantung karena video itu juga, agar adiknya tidak malu padanya. Jika video itu tersebar. Belum lagi dengan dirinya sendiri.


“Kenapa kamu diam? Katakan sesuatu Han,” ucap Rico.


“Aku rasa aku berubah pikiran, Ric. Kita batalkan persidangan,” ucap Hanum. Ia pun menatap wajah Rico ketika memutuskan hal tersebut.


“Maafkan aku sayang. Kamu sudah terlalu baik,” ucap Rico.


“Apa maksud kamu Rico?” tanya Hanum.


Tapi saat itu Rico tak ambil pusing, ia tetap menenangkan Hanum. Jika keputusannya adalah terbaik.


“Aku nggak mau memperpanjang masalah lagi Rico, aku silau melihat Adelia yang begitu cemburu, lagi pula semua sudah tahu bagaimana kejahatan Adelia, aku rasa itu sudah cukup, mungkin dia akan lebih baik, sadar.” lanjut Hanum.


“Oke. Oke, aku tahu kamu orang yang sangat baik Hanum, hati dan jiwamu begitu mahal, tapi apa kamu yakin Han? Dia sudah membuat kekacauan kepercayaan kita, sekalipun dia adikku aku akan menghukumnya agar jera." jelas Rico.


“Rico sayang. Please!” potong Hanum.


Rico terdiam.


“Tidak akan membuat ayahku kembali tenang? dan hukumannya sudah cukup, orang orang juga sudah tahu kan kalau dia salah?” lanjut Rico, karena jujur ia tau Mark bagaimana dalam mendidik dan kerasnya kisahnya. Orang hanya bisa melihat luarnya tanpa tahu di dalamnya.


Rico menarik napas panjang. Ia mengenal Hanum dengan baik. Wanita yang dia cintai itu memang sangat mudah memaafkan, walau awalnya Hanum sangat putus asa, saat ayahnya meninggal. Dan ketika di jahati, selalu saja memaafkan meski belum tentu orang itu insaf.


"Udah ya! Hanum sayang, ga usah dengerin omongan orang lain. Tutup telinga kamu, kamu bahagia sama aku. Aku pun begitu, ingat pesan mama kamu!"


"Benar yank, maafkan aku ya sayang. Entah kenapa aku mudah sensitif kalau setiap orang melihat dan melewatiku dengan sindiran. Mungkin karena dulu aku jelek dan gendut."


"Its Ok! Tak apa sayang, jika orang bicara seperti itu. Bagi aku, kamu tetaplah Hanum belahan jiwa aku. Jangan ingat masa lalu lagi, kita menikah untuk bahagia di masa depan selamanya."


Hanum memeluk Rico, dan benar yang Rico jelaskan padanya, sangat masuk akal. Hanya saja dirinya merasa tidak pede, tak berani menegur orang yang telah mengungkit masa lalunya yang silam dan jauh dari kata sempurna.


Bagi Hanum, benar jika Rico bisa mendapatkan wanita tercantik darinya, tapi tercantik belum tentu terbaik. Itulah yang Rico ucap selalu padanya.


Rico memencet ponselnya, lalu ia menghubungi seseorang, satu tombol saja sudah tersambung membuat perasaan Hanum berdebar dan bergetar tak karuan.


"Cepat! kumpulkan semuanya. Besok pagi, ya benar bagi dua pertanyaan. Salah satunya, ia di depak dari market Marco!" menutup panggilan.


"Sayang, kamu tidak mencari tau dan memberi pelajaran juga kan?" cetus Hanum panik.


Tbc.