
Hanum sudah sampai dirumahnya. Ia meminta selembar uang pada Lisa, untuk membayar ojek tadi. Hanum segera masuk setelah membayar, tanpa memperdulikan Lisa yang sedikit heran menatapnya.
"Kenapa lagi kamu Han? kamu sakit, tas kamu mana kok ga ada?"
"Kecopetan kak! Hanum masuk dulu ya!"
"Kamu nangis? Han, tunggu!"
Lisa yang segera mengejar Hanum, terhenti kala Hanum sudah lebih cepat ke anak tangga. Lisa meletakkan pot bunga, lalu kembali ke meja teras. Karna Lisa memang saat ini lebih banyak bekerja dari rumah, dengan laptop pintarnya juga ia bisa menemani sang mama.
"Terlalu banyak sikap orang yang aneh, aku hampir lupa kirim report." lirih Lisa dengan separuh tangan satu lagi, mengambil teh hangat.
Sementara Rico, benar saja ia mencoba menghubungi Hanum. Dan tepat sekali, itu adalah ponsel Hanum di dalam lift. Layar tampilan foto Hanum dengan gayanya yang berada di tebing pantai. Rico mengambilnya, juga memeriksa tas yang benar itu juga semua milik Hanum.
Rico segera kebagian gudang, memeriksa apakah Hanum masih bekerja. Tapi jawaban center adalah, Hanum sudah pulang dari jam siang. Rico semakin takut, jika Hanum melihat hal yang mungkin Rico takutkan, karna Rico belum sempat menceritakan kisah asmaranya semua pada Hanum.
Hanum yang saat ini berada di kamarnya, ia segera merapihkan beberapa baju kedalam koper. Hanum juga memeriksa celah ruangan, ia berharap Alfa tidak bisa menguntit kediaman rumahnya. Hanum memastikan jika saat ia tak ada dirumah, Alfa tidak akan berlaku semena mena ketika tau keseharian di rumahnya.
"Kamu ngapain sih Han?"
"Kak, aku lagi liat. Gimana kalau rumah kita ini di buat kanopi tinggi. Terus gerbang di depan di ganti ke yang lebih tinggi dan private?"
"Aneh aneh aja. Uangnya gede kali Han, kaka mana punya uang sebesar itu buat renov. Terus kita mau pindah kemana?"
"Kakak sama mama pindah lah ke villa Feli, lebih aman loh. Sambil nunggu rumah ini di renov rapih. Kakak temani mama sementara waktu." jelas Hanum.
"Han, kamu lagi ga nyembunyiin sesuatu kan? ingat loh. Sesuatu yang kamu pikir bisa atasi, bakal berantakan kalau kamu ga jujur."
"Woooah! ya enggaklah kak. Lagian kan mama ga bisa tahan debu, kalau aku jelas karna tempat kerja aku lebih deket. Kalau ka Lisa, bukannya lebih deket dari kerjaan kakak dan rs al zeera?" goda Hanum, agar Lisa tak curiga.
Perkataan Hanum memang ada benarnya, Lisa juga menanyakan perihal biaya uang renov. Tapi dengan santai, Hanum bicara dapat dari Rico dan separuh uang pinjaman kantor.
Meski Lisa tak percaya, tapi Lisa yakin jika Rico memang sangat royal. Lisa juga segera memanggil mama guna mendiskusikan.
'Maafkan Hanum kak. Lagi lagi Hanum hanya ingin kalian tetap baik baik saja. Kalau perlu Hanum akan pertaruhkan dengan nyawa Hanum. Hanum akan buat Alfa berhenti merusak dan membuat ketentraman keluarga kita kembali damai selamanya.' batin Hanum.
Hanum segera menutup rapat pintu, ia menyelipkan clip on tepat di pot bunga balkon kamarnya. Lalu ia sambungkan dan kali ini Hanum bingung, ponselnya tertinggal.
Namun lagi lagi berteriak nama Hanum.
"Haaaan, kata mbok. Ada tamu cari kamu dibawah!" teriak Lisa.
Hanum segera kebawah, ia menemui Lisa yang katanya mbok Surti, ada seseorang yang mau kirim paket. Tapi harus Hanum sendiri. Hanum juga berterimakasih, lalu dengan santainya ia berjalan ke gerbang depan rumah.
Tapi Hanum tak melihat seseorang, yang ia lihat adalah seorang pria pertamakali di dalam lift.
"Alfa, untuk apa kamu kesini?" cetus Hanum.
"Cepat masuk kedalam mobil, jika ga mau. Maka kamu tau konsekuensinya kan?"
"Oke!"
Hanum segera masuk, ia lantas mengikuti kemana Alfa membawanya. Hingga sampai di tepi jalan tol, Hanum diminta Alfa untuk menaruh sebuah video kedalam laptop khusus Rico.
"Maksud kamu apa ini Alfa?"
"Ambil data yang aku minta, besok jam satu siang mereka akan bertemu klien. Tukar flashdisknya!"
"Kamu mau buat apa Alfa?"
"Turuti saja perintahku Hanum! itu tugasmu, jika tidak."
Oke! Hanum menutup wajahnya, kala Alfa ingin melayangkan tamparan. Wajah Alfa tertawa puas, ia pun membuka kunci pintu. Pertanda Hanum harus turun dan berjalan kaki di tengah tengah jalan tol.
"Turun! semoga jalan pulangmu kamu nikmati Hanum. Hahaahaa." gelak tawa Alfa, kala Hanum sudah turun. Lalu ia menancapkan pedal gas.
Hanum terpaksa jalan kaki, selama puluhan menit. Tapi di pertengahan tiba satu mobil berhenti dan menurunkan kaca mobil depan dan memanggilnya.
~ **Bersambung** ~
Happy Reading ---- Yuks jejak Hanum!!