
"Sedang apa kau disini Alfa?" tanya Rico, sebelum ia menuju mobilnya.
"Harusnya aku yang bertanya, ah! masih peduli dengan adik yang kamu coret Ric?" sinis Alfa.
"Jangan mengalihkan, urusanku berbeda dengan logika otakmu." kesal Rico.
Aku ke sini untuk memberitahukan, ibi tiri mudaku dan papaku, untuk segera pindah ke apartemen yang telah ku, sewakan untuk sembilan bulan ke depan. Bos besar bilang ini untuk kebaikan bayi yang dikandung Adelia, karena jika terus menaiki tangga menuju lantai lima di rusun ini hanya untuk pulang ke rumah, Dia bisa terlalu lelah dan membahayakan kandungannya. Tapi tidak untuk Alfa, aku tidak akan membiarkan dan mempunyai adik lahir dari rahim wanita licik. Maka kau tahu apa yang akan aku lakukan kan?" sinis Alfa, menatap Rico.
Dunianya terasa berhenti, Alfa tidak membiarkannya menjelaskan dengan kalimat yang lebih baik pada Rico, dan seenaknya saja menyampaikan itu seolah semuanya adalah hal yang wajar dan bisa diterima dengan akal sehat.
Alfa berbalik menghadap Rico, dengan raut wajah sedemikian rupa. Cemas, khawatir, merasa bersalah, putus asa, semuanya bercampur menjadi satu. “Ingat, Rico. Aku bisa—”
“Jangan bodoh,.apalagi membunuh Alfa!"
"Kenapa, itu hak ku bukan. Bahkan jika aku membunuh, cctv disini akan bergerak. Wajahmu akan diliput nanti. Hahaha." tawa Alfa pecah.
"Ingat, dendam tidak akan menyelesaikan masalah Alfa!" teriak Rico.
"Lalu apa bedanya kau yang memusuhi Adelia? hah, bodoh."
"Aku hanya memberi hukuman, bagaimanapun aku ingin Adelia sadar dan berubah. Jangan gunakan kesempatan nafas, untuk kau sia siakan dan berakhir di penjara selamanya Alfa." ujar Rico, yang teriak meninggi, berusaha pergi dengan aman.
Rico tahu trik Alfa, sehingga ia tak lupa merekam di ponselnya. Dan sewaktu waktu cctv dicari, setidaknya kata kata Rico berteriak terdengar kala itu.
Alfa yang kesal, ia begitu membenci Rico. Karena ia jauh lebih cerdik, dan hal itu juga membuat Alfa mengurungkan niatnya menembak Adelia dan papa Jhony.
Saat melihat hal itu barulah Rico menyadari, bahwa langkahnya kali ini baru saja melewati batas. Dia benar-benar tidak tahu kalau Adelia belum memberitahu tentang hal ini, dan agaknya Alfa juga menyadari bahwa dirinya kurang peka dengan isyarat yang sudah berusaha Rico berikan tadi, karena pria itu justru baru bisa menyadari setelah semuanya sudah terlanjur terucap dari bibirnya.
“Apa maksudnya Alfa? Apa maksudnya itu? Adelia hamil?” Rico menekan nada bicaranya, tidak lantas berteriak-teriak seperti apa yang biasa Rico lihat di drama, tapi tetap saja reaksi macam itu pun menakutkan untuk Rico sendiri.
“Leo, bagaimana paman jelaskan kelak kamu dewasa, bisakah kamu tidak terluka. Jika kelak melihat ibumu menyayangi adikmu, yang tidak sedarah. Bisakah kamu tetap menyayangiku sebagai ayah, bukan paman." lirih Rico, saat menyetir.
***
Di Rumah.
Rico, menatap sang istri dikamar, terlihat bayi Ghina diranjang bayi. Sementara kedua bayi lainnya bersama pengasuh di kamar bayi satunya. Hal itu karena bayi Ghina sedang rewel, batuk dan sedikit demam. Sehingga tidak menyampur pada bayi lainnya.
Eeaaeaa..
"Sayang, mama disini. Cepat sembuh ya!" ucap Hanum lembut, ia menimang nimang dengan menyanyikan lagu religi, agar bayinya tenang.
"Sayang, kamu shalawatan. Mas rasa, Ghina menyukainya dan tenang."
"Mas, udah pulang. Maaf Hanum ga menjemput ke bawah."
"Ga apa sayang, mas ngerti. Mas juga udah ganti piyama, mas tahu rasanya lelah sebagai ibu. Mas minta maaf, tidak bisa menemani kamu seharian ini menjaga bayi kita, mas pulang larut."
Ssssst! sayang, tidur nyenyak ya! cepet sembuh, Ghina rewel mungkin karena obat yang di berikan dokter kemarin sih mas. Jelas Hanum, kala menutup tirai ranjang bayi.
“Sayang, lihat mas!” senyum Rico, semakin terlihat gemas ketika melihat mata Hanum mengabaikan dirinya.
Rico kembali menempelkan dagunya, setelah menarik tangan Hanum yang akan pergi mengambil sesuatu, pada dagu Hanum dan membawa menatap wajahnya. Tatapan matanya kembali seru dan mupeng.
"Mas pengen ya?"
"Kamu ga capek sayang? bagaimana kalau kita .." lirih Rico, yang menutup ranum Hanum, membawanya ke ranjang tidur dengan perlahan.
Hanum merasa harus mencari cara lain untuk bisa lepas dari kuncian lengan suaminya, tapi apa? Entahlah, saat ini kepalanya tidak bisa diajak berpikir cepat. Seluruh saraf yang digunakan untuk menghantar pesan sangat lambat merespon. Pikiran Hanum buntu. Jalan satu-satunya hanya mengikuti kemauan mas Rico, padahal tadi ia ingin menanyakan suatu hal, tapi ia sudah lupa. Karena mas Rico sudah membawanya ke surga dunia.
Rico tersenyum melihat Hanum terdiam tanpa memberinya perlawanan. Kembali Rico mendekatkan wajah mereka, akan tetapi gerakan itu terhenti ketika melihat mata Hanum terpejam.
Aaaach! meringis ketika sebuah penyatuan, hal itu membuat Rico semakin garang dalam beraksi meski penuh berhati hati. Tapi aksi itu terhenti kala sebuah tangisan bayi.
“Kenapa, Sayang?"
Eeeaaa ..
"Mas, Ghina menangis."
Rico yang sudaah on! terpaksa lemas, dan mencabutnya. Hal itu membuat Hanum merasa bersalah, hingga akhirnya Hanum menimangkan baby Ghina, sementara Rico yang tetap on, ia memeluk Hanum dari bagian punggung saat berada di satu kasur yang sama. Karena baby Ghina di dekatkan, tidur dengan pembaringan Hanum, ia turut memberikan asinya di sebuah botol.
"Aah! mas, pelan pelan." bisik Hanum.
Hanum hanya bisa memejamkan mata, berusaha tak bersuara dan tanpa ekpresi. Kala baby Ghina telah kembali tidur. Rico menarik pelan Hanum, dan membawanya ke sofa ruang telivisi, sehingga baby Ghina hanya dibatasi sebuah guling di ranjang king size.
Dan Rico kembali melanjutkan adegan yang tertunda, tanpa aba aba Hanum telah melepas dan membuat Rico juga tenang setelah seharian penatnya aktifitas. Dan berada dalam penyatuan, membuat mereka lelah menghilang seketika.
Menjelang malam, Hanum telah membersihkan diri. Kepalanya saat ini berada di bagian tubuh sang suami, Hanum yang lemas. Ia berkata pada suaminya dengan pertanyaan kepanikan.
"Mas, jika Hanum lebih banyak meluangkan waktu untuk anak anak. Apa mas akan mencari wanita lain, ketika mas sering keluar kota nantinya? atau bisa saja mas Rico nikah siri diam diam gitu?"
"Sayang, jangan berfikir hal buruk. Mas tidak akan pernah dan ingin menduakan kamu. Hidup itu bukan hanya ranjang sayang, tapi komunikasi, kebahagiaan yang sudah mas punya. Mas akan jaga dan mas pupuk, agar kita selalu seperti pengantin. Meski nanti anak anak kita sudah remaja." ucap Rico, mengecup kening Hanum.
Mendengar hal itu, Hanum lega dan kembali tidur mode memeluk, di sofa yang sama.
Tbc.
Mampir Genre Horor :
JUDUL : PEKA