BAD WIFE

BAD WIFE
BERPAPASAN DENGANNYA



"Sayang, benarkah ini semua. Tapi tanda tato milik seperti itu, bisa saja orang lain. Hanya mirip."


"Mas, ga ada salahnya kita terbang ke singapore. Bagaimanapun Adelia keluarga mas juga. Hanum kasian dengan Leo."


"Leo, sudah menjadi anak kita, bukan Adelia lagi. Huuuft! baiklah, mas akan bersiap. Bicara sama mama, dan usahakan papa Mark jangan dulu tahu. Mas ga mau jantungnya kumat!"


"Iya, mas."


Hanum mengepak dan memberi kabar pada mama Rita, bagusnya stok asi sangat full telah disiapkan. Belum lagi ketiga balitanya itu sudah mulai makan dan dibantu sufor. Setelah di rasa Hanum selesai, ia berangkat sore itu juga, jadwal penerbangan malam.


"Mah, Hanum pamit ya! Hanum mungkin besok malam Hanum sudah kembali."


"Iy Han! kamu baik baik ya. Mama ga mau kamu terlalu capek, apalagi."


"Tentu, Hanum akan baik baik saja."


Hanum telah mendarat dari awak pesawat, ia mengekor langkah Rico. Hingga dimana, ia merasa terkejut akan sikap pria yang lebih dulu turun. Ramah pada seluruh pramugari, tapi tidak dengannya. Hal yang membuat jengkel Hanum adalah menahan lapar. Bagaimana tidak, ia sudah bersusah payah untuk tidak makan adalah hal tersulit bagi Hanum.


'Jika bobotku turun satu kilo saja, aku pasti akan mati.'


'Berjalan lemah sekali, seperti orang mau mati saja. Kehilangan satu atau dua kilogram tidak akan membuat mati bukan?' senyum batin. Dan itu adalah perasaan batin Hanum saat ini.


"Sayang, ada Erik di pesawat ini juga. Tapi jika ada kaki tangannya, berarti di pesawat ini Alfa juga?"


"Mas, apakah kita satu tujuan. Hanum tak ingin bertemu karena.."


"Ada mas sayang. Jangan khawatir." Rico mengecup Hanum.


Hanum merebahkan kepalanya pada bahu Alfa. Sementara dari ujung sudut kanan, Alfa tahu jika ia satu penerbangan dengan Hanum. Logika Alfa memang sangat menyesal, telah membuat Hanum menderita bersamanya. Hingga di pesawat yang sama. Alfa menatap Hanum terlihat bahagia dan erat dengan Rico.


Alfa ingat perlakuannya dahulu pada Hanum saat itu. Sehingga ia memakai kacamata hitam dan penutup jaket yang amat tinggi, membuat tatapan sebagian tak dikenali.


Ingatan Alfa, mengenang Hanum.


'Dari seluruh wanita di dunia ini, kau adalah wanita yang paling tidak aku sukai! Sudah jelek, gendut, berisik pula! Kau pikir dirimu menarik gitu sampai aku harus menikah denganmu?'


'Justru karena aku tahu kamu tak menyukai aku, aku tidak mengerti kenapa kamu mau menikah denganku?'


'Bodoh! harusnya kau bertanya pada dirimu sendiri kenapa kau mau menikah denganku!' Alfa tersenyum getir lalu dia menyondongkan tubuhnya ke arah Hanum.


"Kemarin di acara itu kenapa kau tidak menolakku kalau kau tidak menyukaiku?"


Alfa kembali bertanya dengan suaranya yang terdengar serak dan menekan pada Hanum. Tentu saja kata kata itu sangat berpengaruh pada Hanum dan membuat otaknya yang malas berpikir itu mencoba mencari jawaban.


"Tapi kau yang sudah berkata lebih dulu padaku kalau kau ingin menikah denganku, jadi aku yakin isi pikiranmu denganku sama!" Hanum berdalih.


"Haah bulsyiet." kesal Alfa yang tau bukan itu jawaban Hanum.


"Terus kau ngarep gitu jadi istriku karena aku tidak menolakmu? Kau pikir kau cantik gitu sehingga aku mau menikah denganmu dan rela tinggal seumur hidup dengan wanita gendut macam dirimu?" tambah Alfa.


"Kau ..!" Alfa tahu saat itu, Hanum menggelengkan kepalanya mungkin sangat lelah dengan ucapannya.


"Atau jangan jangan memang kau tidak ingin menolakku? Kau memang ingin bersamaku? Ingin coba melakukan seperti yang kemarin lagi denganku, hmmm?" Alfa bicara sambil mendekat pada Hanum, mencondongkan badannya dan matanya menatap lurus pada Hanum, hingga cepat cepat ia menggelengkan kepalanya dan menahan napasnya.


Alfa memutar balikkan pembicaraan dan kembali menyalahkan Hanum. Tapi gadis itu tetap tidak mau kalah.


"Aku tidak ada niat seperti itu! Tapi harusnya kau bisa bilang pada orang tuamu. Kenapa kau tidak bilang pada mereka kalau kau tidak mencintaiku? Kenapa harus menerima perjodohan yang mereka tawarkan kepadamu? Dan kau tau alasanku adalah, karena kau menyentuhku aku takut, itu sama saja menutup aibku."


"Hoooh! good, kau juga harus tutup mata dan telinga. Tidak boleh menjelekan keburukan atau kebiasaanku seperti tadi! Mengerti gendut!" sentag Alfa.


Hingga Hanum menyerang lagi yang membuat Alfa menatapnya dan tersenyum kecil, sambil menggelengkan kepalanya. Hanya itu yang dilakukan Alfa tanpa bicara apapun, hanya membuang wajahnya ke arah jendela.


"Hei, kenapa kau diam? Kenapa tidak bicara padaku?"


"Aku pun menikah denganmu karena aku tidak berani menolak! Sepertinya papa dan mama aku juga menginginkan itu."


Dan itu adalah ucapan pertama kali Alfa yang membuat Alfa berfikir, ia telah membuang istri briliantnya. Penjelasan Hanum saat itu juga murni kesalahannya.


Membuat Alfa menyesal saat ini. Sehingga Hanum kembali bicara seperti ini setelah dia beberapa saat diam dan memikirkan alasannya juga kenapa terus menolak bertemu dengannya.


TAP! Alfa berdecak dan menatap Hanum dan Rico yang pulas tertidur, bergandengan. Sangat iri saat Alfa melewatinya berusaha ke toilet.


Alfa, kini berdiri tepat memandang Hanum. Belum lagi ia masih ingat kata pertikaian dirinya dengan Hanum beberapa tahun lalu.


'Kau tahu tidak sih kalau kau berisik sekali? Aku baru mau tidur kau sudah memanggilku lagi! Bisa gila aku lama lama terganggu terus seperti ini!' ucap Alfa menatap Hanum kesal.


'Ah, maaf lah kalau aku mengganggumu, habis kita kan lagi bicara dan belum sampai ujungnya!'


Hingga beberapa saat Hanum telah sampai. Ia bingung kota mana yang Alfa tunjukan. Tapi saat Alfa masih mendengkur lelah dalam tidurnya, Hanum menelan saliva takut untuk membangunkan.


"Al- fa, ba- ngun!" menyentuh mantel Alfa.


Beberapa kali Hanum membangunkan, tetap saja tidak bangun. Sehingga ia menepuk bagian punggung tangan membuat Alfa terkejut sakit.


Hey! Bangun Alfa!!


'Auuw, sakit bodoh! kau mengagetkan ku saja. Ada apa?' ingatan kesal Alfa menatap tajam, terlihat matanya merah masih mengantuk.


'Kita sudah sampai sepertinya! aku tidak tau jalan, kau yang ajak kita ke sini kan?' bela Hanum agar Alfa tidak marah.


'Dasar gendut! kau bisa bangunkan aku pelan. Jika tanganku merah, kau harus bertanggung jawab!' ocehan Alfa meninggalkan Hanum.


"Ya ampun, apa aku kekencangan ya. Perasaan tadi aku ga keras deh." lirihnya.


Tak sadar lamunan Alfa, membuat ia reflek memegang pipinya. Ia tahu saat ini Hanum sangat bahagia dengan Rico, begitu setianya wanita itu pada suaminya. Terlebih Hanum yang saat ini sangat cantik dan ingin sekali Alfa merebut Hanum dari Rico, saat itu juga. Tapi ia sangat malu dan tak punya muka.


'Mencintaimu tidak harus memiliki kan? aku pastikan aku akan melihat kamu bahagia dengan Rico, aku senang jika mengekor kemana langkahmu terus Hanum.' deru Alfa, mode menatap Hanum dan Rico.


Tbc.