BAD WIFE

BAD WIFE
CINTA SENDIRI



Sinta merasa emosi, bercampur dengan banyak perasaan ketika ingat sikap Fawaz tadi bersama wanita lain. Termasuk Hanum geram tak sangka teman baiknya satu sekolah, akan menghianati sang kakak.


Hanum kembali berjalan bagai orang yang sedang kebingungan, tatapan kosong membuat Sinta terdiam sebentar sebentar.


Silau cahaya, membuat langkah Lisa terhenti. Hingga semakin dekat, tubuhnya di tarik oleh Ray yang menyelamatkannya.


Tiiin!! truk paket.


"Aaah." tertahan, Lisa tau pria itu terbentur demi menolongnya.


"Lisa, kamu ga apa apa? apa yang kamu lakuin disini?"


"Ray. A-aku." terdiam Lisa.


"Jangan pergi. Aku takuut!" pinta Lisa.


Ray, merasa menyesal membuat Lisa tertekan kala insiden dengan konfliknya. Untung saja ia cepat tiba, jika tidak ia akan merasa bersalah. Jika Lisa celaka, ia akan menjadi pria yang bodoh, membuntutinya tapi membiarkan Lisa terjadi sesuatu.


"Tunggu, tangan kamu biru Ray?"


"Tidak apa apa, ini tidak sebanding. Dengan luka kakimu yang merah."


Tubuh Lisa sedikit memar di pergelangan kaki, pria itu memukul dengan ranting besar. Sehingga ia tak bisa lari, ia mengingat saat Lisa berteriak.


"Ray, kali ini aku minta maaf. Temani aku, aku rapuh Ray. Bagaimana jika aku terima tawaranmu, pergi dari kota ini. Dan melanjutkan kepopuleranku lagi di bidang vloger. Aku terima para klien yang meminta kita untuk mengiklankan prodaknya."


"Baiklah, soal itu kita pikirkan nanti. Ikuti aku ya, aku akan berusaha bantu kamu Lisa. Semampuku, aku berusaha agar kamu tetap enjoy. Kasihanilah dirimu dan bayimu!"


"Baiklah. Ray, janji jangan pergi. Aku butuh seseorang menemani, andai ada Sinta." lirihnya.


"Tenanglah. Aku tidak akan pergi Lisa!"


Beberapa puluh menit Lisa dibawa ke rumah sakit. Sesampainya ia berbicara pada dokter. Ketika tak ada luka apapun pada reaksi tubuh lainnya. Hanya saja kaki pergelangan sedikit retak, sehingga Lisa harus di rawat beberapa hari di rumah sakit.


"Erik. Handle kantor beberapa hari ke depan!"


"Baik bos!"


Jangan pergi .. jangan pergi!!


Tolooong aku .. tolong aku!! Lisa tertidur tapi mengigau. Semalaman Ray menjaga Lisa, sampai Sinta datang untuk, menggantikan menemaninya, tapi saat ini Lisa membutuhkannya.


Lisa membuka matanya, lalu ia berteriak. Hingga ia terkejut akan Ray, yang memeluk erat tangannya. Lisa sedikit menarik tangannya, lalu ia menatap Ray, yang ikut terbangun kala ia hampir tertidur.


"Kamu sudah bangun Lis, mau sarapan bubur?"


Lisa menggeleng, masih memegang tangannya dengan mengusap ngusap.


"Maaf, aku lancang memegang tanganmu. Tapi tadi malam kamu yang menahanku, mulai saat ini aku buatkan sesuatu. Setidaknya kandunganmu Lisa, bayi itu memerlukan asupan gizi dari apa yang kamu makan. Jika kamu tidak makan, kamu tega melukai bayi yang tidak bersalah karena konflik orangtuanya?" tajam Ray.


"Baiklah, aku ingin bubur madura. Di dekat smp sekolah kita dulu, apa kamu bisa mewujudkannya?"


"Baiklah." senyum Ray.


"Tapi harus kamu yang beli, aku mohon!"


"Baiklah, tetaplah disini. Jangan pergi, aku khawatir padamu Lis juga dengan anak dalam kandunganmu!"


"Terimakasih Ray."


"Aku tidak ingin di rumah sakit Ray. Aku mohon, aku janji padamu. Aku tidak akan keluar tanpa ijin!" teriak Lisa, saat Ray keluar beberapa langkah.


Ray kembali melirik, ia tak tega juga. Tapi mengingat ia bisa bekerja di rumah adalah suasana paling nyaman. Ia langsung meminta dokter Frans mengurus rawat jalan.


"Tunggulah, aku akan urus. Setelah ini kita sama sama sarapan bubur. Aku akan membantumu Lisa, sama seperti sahabat. Jangan sungkan! aku janji tidak akan memaksamu menerima rasa sayangku, tapi setidaknya sebagai sahabat aku melindungimu Lis."


"Terimakasih Ray. Aku pegang kata kata, dan kebaikanmu tidak akan pernah aku lupakan."


Ray beberapa saat tiba di ruangan dokter. Mereka berdebat bukan layaknya pasein dan dokter. Tapi teman yang berprofesi sebagai pengusaha dan teman yang berprofesi sebagai dokter ahli tulang.


"Tapi Ray. Kamu urus rawat jalan. Itu akan .. ?" ucap Dokter.


"Kau harus jadi dokter dua puluh empat jam! kirim suster ke rumahku!" titah Ray.


Frans yang notabane hanya seorang dokter, ia tak bisa menahan sahabatnya itu. Hanya menghela nafas sebagai dokter turun temurun dari keluarga Rayanzha.


"Dasar Ray gila. Jika sudah kemauan, membahayakan pasein. Ia pasti mengancam akan mutasi ijin ku sebagai dokter ke tempat terpencil." gerutu dokter Frans.


BEBERAPA SAAT TIBA DI KEDIAMAN RAY.


lisa menatap apartment lux. Jauh dari kota terpencil villa yang ia ingat. Hingga di mana, letak lokasi tempat tinggal saat ini. Lebih dekat dengan kantornya bekerja.


Namun meski begitu, ia tak akan pergi begitu saja tanpa ijin. Lisa sangat berterimakasih untuk saat ini, karena ia sengaja tidak ingin pulang dan bertemu mama Felicia. Lisa tidak sanggup menatap mama mertuanya yang sangat baik, bagaimanapun itu adalah rumah kado pernikahan. Selama dua tahun, banyak kenangan yang tersimpan di rumah itu yang membuat hati Lisa berguguran, akan ingatnya mas Fawaz.


Lisa menutupi wajahnya di kamar. Ia merasa malu menatap Ray yang membawakan segelas susu dan semangkok bubur.


Perjalanan dari rumah sakit sangat memakan waktu yang lama. Ia juga melihat Ray yang sedikit lelah.


"Ray. Terimakasih, aku janji akan menurut. Tapi boleh aku minta permintaan?"


"Apa. Aku akan menjawab!" sambil mengaduk susu buatannya.


Aaaaak! Ray meniup sup dan menyuapi Lisa. Tanpa sadar Lisa membuka mulutnya dengan sayup kebingungan.


"Aku tidak tinggal disini! hanya malam ini, besok aku minta Sinta datang temani kamu tinggal. Jangan anggap aku Ray, pria kriminal lagi Lisa. Besok aku pastikan ada orang yang membantu membersihkan tempat ini."


Perlahan Lisa membuka mulut, mengunyah dan suapan itu terasa enak. Hingga ia lupa akan menanyakan sesuatu.


"Harusnya aku yang menyiapkan. Maaf aku menyusahkanmu!"


"Sudah seharusnya bukan. Ayo buka mulutmu, habiskan bubur ayam kampung ini. Semua agar kakimu cepat sembuh dan kuat!"


"Kenapa kamu begitu baik Ray, padahal aku sudah membuat kamu sakit dengan kata kata ancamanku. Aku memintamu untuk menjauh dan jaga jarak, tapi aku malah menahan dan menyusahkanmu. Maaf."


"Lis, aku tidak masalah. Jika kamu masih berjodoh dengan Fawaz aku ikhlas. Tapi aku hanya tidak mau kamu selalu bersedih, melihatmu bahagia saja sudah cukup. Lagi pula apa aku tega melihat kamu celaka dan menangis. Aku mau kamu kuat Lisa, tersenyum dan bahagia seperti Lisa yang yang aku kenal."


"Benar, aku hanya sedikit gila akhir akhir ini. Aku banyak merepotkan banyak orang. Tapi aku tidak tahu harus lakukan seperti apa. Yang jelas aku ga mau hidup keluargaku, mama mertuaku yang baik jatuh sakit karena benar mendapat informasi, jika aku telah dibuang oleh suamiku sendiri." jelas Lisa.


Ray, sangat kesal dan mengepal tangan. Bisa bisanya wanita seperti Lisa disakiti dengan kejam. Padahal nasib dan fisiknya sangat banyak di idamkan para pria.


"Kamu istirahat ya Lis, selamat tidur!"


"Selamat istirahat juga, Ray." balas Lisa, masih mode menunduk.


Sehingga dibali selimut Lisa menyalakan ponselnya. Ia membaca satu persatu pesan dari Hanum, juga mama Lisa.


Tbc.