
Hanum yang di bantu oleh Nazim, ia merasa lega, terbantu oleh sahabat yang lebih tua darinya. Sama seperti Lisa seorang kakak. Hingga dimana Hanum bertanya setelah berterimakasih.
"Mbak Nazim kok ada di sini?"
"Udah, keringkan rambut kamu. Pakai bajunya!"
"Jawab dulu, kenapa mbak Nazim ada disini?"
"Aku lagi urus warisan dari suami bule ku, kebetulan Lisa kasih aku tiket sekalian, sekaligus ngasih alamat kamu disini. Lisa mau tau keadaan kamu sama suami yang hampir dijodohkannya!"
"Astaga! jangan sampai mbak Nazim bilang, kalau Alfa berlaku seperti kemarin padaku. Please mbak, bantu aku!"
"Sudahlah, tenangkan dirimu! aku yakin suamimu baik baik saja. Sudah ada keluarganya datang, jika aku tak tepat. Mungkin aku tidak akan tau kejadian sebetulnya." bisik Nazim.
HARI BERGANTI KE MINGGU.
Alfa kini sudah berada di rumah sakit ibu kota, ia sudah di pindahkan. Wajah Hanum sedikit berjerawat pasir, tapi ia terlihat kurus baginya beberapa kg saja. Mungkin efek herbal, juga ia tersenyum ke arah Alfa yang tersadar dengan luka perban kecil. Luka itu mungkin membuat Alfa sadar atau tidak, tapi bagi Hanum. Tekadnya untuk membalas dalam kondisi Alfa sakit adalah hal benturan kecil agar ia sadar, untuk berbicara tidak lancang padanya.
"Kau sadar atau tidak, aku tidak melupakan sikapmu padaku Alfa Jhonson!" lirih Hanum.
"Hanum, jangan dendam. Ingat jangan berlebihan, pria itu suamimu. Tapi bagaimanapun, kamu harus memaafkannya!" ungkap Nazim.
"Mbak. Untuk urusan ini, aku harap mbak Nazim tidak perlu ikut campur. Aku janji sama mbak Nazim ga akan keterlaluan padanya. Hanya ingin menyentil agar otak pria itu berjalan semestinya."
Ucapan Hanum, membuat Nazim meletakkan buah saat ikut menjenguk. Lalu pamit setelah jam besuk hampir habis. Bahkan kedua orangtua Alfa dan kedua orangtua Hanum silih berganti menjenguk dan menjaga Alfa bergantian.
Hingga minggu ke sepuluh, Alfa dinyatakan boleh pulang dan rawat jalan. Hal itu juga membuat Hanum tak sabar, pulang ke rumah dan memperlakukan Alfa dengan sebuah sentilan dendam yang menggebu di hatinya ingin untuk membalas.
"Apa dia amnesia padaku, Mah?" tanya Hanum pada mama Rita.
"Ya ampun. Hanum, ga boleh bicara gitu. Kenapa tanya gitu sih, ingat ucapan itu doa loh!"
"Heeumh. Aku cuma tanya mama, aku ga bermaksud." balasnya.
Hingga dimana Mama mertua Hanum, meminta Hanum maju kedepan. Mendorong kursi roda Alfa layaknya pengabdian dirinya pada suami.
"Mama serahin sama kamu ya!"
"Baik Mah." senyum palsu Hanum, yang sangat muak dan merasa ingin tertawa puas, karna Alfa telah mendapat teguran. Masih menatap wajah Alfa yang lebih banyak diam saat ini.
Sontag Hanum mendorong Alfa ke suatu tempat. Yang mungkin Alfa sukai, dan itu hasil dari kerja keras pikiran kedua orangtua dan mertua Hanum yang memaksa.
"Aku tidak menyangka kalau kita akan ke sini!" lirih Alfa dikursi roda.
Ia menatap Hanum sedikit berbeda dan kurus. Meski wajahnya belum terlihat mulus. Tapi perubahan dan tembakan meleset itu membuat Alfa sedikit berbeda saat menatap wanita yang kini jadi istrinya, setelah sadar dari koma.
Kalimat yang terurai lagi dari bibir Alfa disertai senyum cerah di wajahnya yang membuat Alfa tersenyum tipis ke arah Hanum.
'Cih! apa dia insaf? atau palsu lagi.' batin Hanum.
Karna masih terlihat jelas keluarga duduk tak jauh di sudut kanan sedang mengeteh istirahat. Tapi tekad Hanum tetap saja bulat, ia akan membuat prilaku apa yang Hanum rasakan saat itu. Dan Alfa juga harus merasakan sakit hatinya, sehingga ia berpura manis ketika ada keluarga mereka saat bersama.
"Papamu yang mengatakan padaku kalau kau sangat suka sekali tempat ini."
"Sudahlah! kau jangan berpura pura sakit lagi. Aku tau apa yang ada dalam otakmu. Lagi pula tempat ini bagus, bagus untuk kejiwaanmu yang sudah kembali siuman dari kritis akibat tembakan nyasar." ketus Hanum.
"Jahat sekali kau Hanum." jawab Alfa kembali menatap lurus, melihat pemandangan perkebunan teh. Tapi Hanum berusaha acuh, seolah pria yang ia pegangi gagang ujung roda, membuat ia sadar apa yang telah di lakukannya selama ini terhadapnya.
'Sebenarnya wanita seperti apa sih dia? Dia tidak menyukaiku tapi kenapa dia bertanya begitu kepada papaku? Apa supaya papaku melihatnya sebagai wanita baik baik?' sedikit banyak tentu saja perasaan seperti ini muncul di benak Alfa.
Hanum menunjukkan sisi negatifnya yang teramat buruk di hadapan Alfa ketika keluar dari rumah sakit, perkenalan pertamanya dengan Hanum juga sangat buruk. Justru aneh jika Alfa berpikir positif tentang Hanum saat ini.
"Kau masih marah padaku?" tanya Alfa.
Tapi Hanum tak menjawab, hanya senyum terlihat jelas ketika menoleh pada sudut kanan. Yang jelas kedua mertua dan orangtuanya melambai tangan. Seolah sikap manis dan kepura puraan.
"Bicaralah seperti awal Alfa! aku sudah muak dengan sikap baik baikmu." cetus Hanum berpindah posisi, kini ia duduk berjongkok memberi punggung pada keluarganya. Sehingga mata mereka saling menautkan bukan dengan pandangan romantis. Melainkan dendam dan kekesalan yang terpendam.
"Tentu saja!" anggukan kepala Alfa telah menyadarkan Hanum dari lamunannya.
"Menurutmu, setelah ini apalagi. Bukankah keinginan keluarga kita adalah bulan madu?"
Syok Hanum! Ciih!! Pria gila dan sinting ini, lagi lagi merubah otakku tersendat dengan kata kata rayuannya.
'Dia bilang apa? Kenapa dia bisa bicara begitu padaku? Kenapa dia bicara manis padaku? Bulan madu? Bukankah dia sudah menegaskan kalau dia tidak mencintaiku dan aku dengan dia hanya nikah pura pura?' Hanum gagal paham, tapi Alfa memang sudah mengatakan sesuatu yang menggetarkan jiwanya. Hampir saja Hanum tersenyum dan senang tapi tetap pendiriannya adalah membalas sakit hati, membuat permainan Alfa menyesal dan meminta maaf.
'Jangan sampai aku percaya padanya! Jangan terbujuk rayu olehnya! Kau tahu kan dia laki laki macam apa, Hanum?' deru batin Hanum.
Sontak Hanum mengingatkan dirinya sendiri apalagi Hanum masih bisa memutar dengan jelas di ingatannya apa yang dilakukan oleh Alfa dengan para pramugari itu kemarin. Lalu dirinya denga Irene kekasihnya, belum lagi bully fisiknya dan ia malah tertawa seolah bagai tontonan. Sakit bagi Hanum, mengingat saja sudah sesak.
"Terima kasih sekali untuk kejutannya! Tapi aku rasa kita bukan bulan madu! Aku juga tidak tahu pernikahan seperti apa yang kita lalui! Lagi pula dengan dirimu dengan kursi roda seperti ini?" bisik Hanum seolah membuat hati Alfa panas dan merasakan kata kata tajam bagai pisau, sama seperti dirinya saat itu.
Itulah jawaban dari Hanum tapi Alfa tidak meresponnya dia malah justru melihat ke arah Hanum dan tersenyum.
"Tolong ambilkan obatku Hanum!"
"Obat?"
Refleks Hanum bertanya hal itu pada Alfa. Pria itu pun menatap Hanum, "Aku ingin kau tidak membicarakan masalah kita yang lalu, kepada mamaku!" ucap Alfa sambil menunggu obatnya datang.
Di balik itu, Hanum pun mendengar lirih suara Alfa. Meski ia tidak yakin jika Alfa telah berubah. Niatnya masih menggumpal perilaku Alfa terhadap dirinya.
"Hai. Alfa.." seseorang memanggil, membuat tatapan Hanum dan Alfa menoleh.
Namun jelas saja wanita itu cukup terkejut, kala membawa bunga. Dan melihat wanita di belakang Alfa.
"Kenapa dia kurus sekali? apa dia orang berbeda?" tanya Irene.
"Kau datang untuk menjenguk siapa?" tanya Hanum.
"Tentu saja pria ku!" bisik Irene pada Hanum.
"Tunggu! siapa dia? aku tidak mengenalnya Hanum." jelas Alfa, membuat tatapan dua wanita saling bertautan.
To Be Continue!!