
"Bagaimana jika papa tidak selamat? Kak. Papa pasti baik baik sajakan?"
"Sabarlah Hanum. Kita akan segera tau, tenangkan dirimu. Sekarang tolong belikan inhaler untuk mama ya! kaka takut mama kambuh karna panik."
"Baik aku segera kembali, ada kabar apa apa kabarin Hanum ya kak!"
Hanum berjalan beberapa puluh meter, ia harus menyebrang rumah sakit karna apotek dalam medical al zeera sedang kosong. Begitu banyak inhaler tapi dosis untuk mama adalah yang langka. Dari itu Hanum tetap mencari obat yang mama pakai dan tak bisa berganti nama meski satu jenis.
"Alfa, kau disini juga. Sedang apa di apotek ini?"
"Obatlah! biar ku pesan, rekanku pasti akan menyiapkan. Duduklah!" pinta Alfa yang bermulut manis.
Antrian sangat panjang, sehingga kali ini Hanum menurut dan memberikan tulisan obat dosis untuk sang mama. Dengan cepat juga Alfa segera meminta pada rekannya agar di siapkan bersamaan obatnya.
"Kau menebus obat apa?" tanya Hanum tapi Alfa mengalihkan pembicaraan.
"Lihatlah!"
Hanum pun menengok pada foto di handphone itu.
"Apakah pria gendut itu adalah kau?"
Pertanyaan yang dijawab oleh Alfa dengan anggukan kepalanya.
"Saat usiaku sudah tujuh tahun, aku sudah masuk sekolah asrama. Aku berpisah dari orang tuaku. Dan makanan di sana itu tidak seperti makanan yang biasanya aku makan. Makanan di sana lezat lezat. Burger, pizza, apapun aku bisa beli kalau di kantin asrama. Tidak ada makanan seperti yang biasa aku makan di rumah. Aku bisa makan, apapun yang aku suka tanpa ada larangan. Dan aku kebablasan. Saat usiaku lima belas tahun, berat badanku seperti itu!"
Benar saja, Hanum jadi mengingat kala dirinya di tinggal Fawaz. Dia adalah pria yang paling mengerti dan selalu ada di saat dirinya terluka dan suka duka, meski saat itu ia mengagumi Fawaz tapi tak berani mengungkapkan karna rasa persahabatan yang telah terjalin. Sejak saat itulah Hanum tak bisa mengontrol makanan apapun.
Hanum menoleh ke arah Alfa yang masih menunjukkan handphone nya dan Hanum pun memegangnya melihat beberapa foto Alfa.
"Kau gendut sepertiku?"
Hanum menatap Alfa dan pria itu pun mengangguk.
"Dan teman temanku banyak menghinaku karena aku terlalu gendut," jelas Alfa lagi tentu saja Hanum mengerti apa yang terjadi pada Alfa.
"Aku juga sering diperlakukan seperti itu. Lalu apa yang kau lakukan? Apakah menghindar sama sepertiku?" tanya lagi Hanum.
"Mereka mengganggumu dan menghinamu tapi kau malah menghindar?" kembali bertanya karna Alfa mengalihkan.
Hanum mengangguk setelah Alfa bicara.
"Ya aku menghindar karena aku tidak mau ribut dengan mereka."
"Apa papamu diam saja melihatmu dihina?" suara Alfa sudah meninggi dan Hanum menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau masalahku dibicarakan di depan papaku! Aku lebih baik menghindar dan tidak berantem."
Hanum lalu menyunggingkan senyumnya. "Apa kau mengadukan masalahmu pada papamu?" tanya balik Hanum pada Alfa.
"Aku bisa mengatasinya sendiri!" Alfa menggelengkan kepalanya. Dan mereka bicara ini di sepanjang menunggu resep obat.
"Ah, bagaimana caramu melawan mereka?" Hanum penasaran sehingga dia terbawa dengan obrolan itu.
"Aku memukul mereka satu persatu. Dan saat itu aku berkasus! Aku membunuh salah satu orang temanku karena aku tidak suka mereka menghinaku!"
Astaga! pekik Hanum menelan saliva. Apakah ini alasan Alfa meminum obat anti depresi dan mengontrol emosinya. Kadang sikapnya berubah manis dan buruk padaku. 'Apa aku harus memaklumi atau meninggalkannya?' batin Hanum terdiam.
"Permisi ini pesanan obat anda tuan!"
"Terimakasih," balas Alfa dengan senyum menyeringai. Lalu memberikan satu kantong plastik bening inhaler pesanan Hanum.
Hanum juga berdiri, tak lupa mengucap terimakasih. Tapi satu hal yang Hanum sedikit lihat sebelum Alfa mengantongi obatnya.
'Amitriptyline. Doxepin. Dan satu lagi itu obat apa ya warna hijau botol?' tak sempat Hanum lihat dan ingin cari tau.
Cepatlah! kita jenguk papamu sekarang Hanum! anggukan Hanum mengekor tepat di belakang langkah Alfa.
Tlith!
Tlith!
Monitor terlihat dalam ruang kaca bening, terlihat dokter memberikan sebuah alat yang terpasang kiri dan kanan di tempelkan ke dada Armand.
"Mah, ini obat mama. Papa pasti baik baik saja kok!" panik Hanum tetep menenangkan.
Tak lama dokter saling menatap, hingga dimana mereka melepas tudung biru dan sarung tangan.
Tidaak! itu gak mungkin kan? Lirih Hanum gontai melemas yang masih melihat dari kaca dengan seragam khusus medis.
To Be Continue!!
Crazy up selesai ya. Happy Reading All.