BAD WIFE

BAD WIFE
BERSAING



"Selamat siang, kamu tau. Bagaimana rasanya berada dalam lingkungan yang membosankan?" sinis Alfa.


"Apa maksudmu?" cecar Rico.


"Bukankah kondisi ekonomi kau sedang tak stabil, aku prediksi penthouse, kediaman papamu! juga apartemen dan sebuah sewa rumahmu yang delapan gerbang itu, akan segera dijual. Uuups! bagusnya di sita, tapi Rico Abraham akan kehilangan segalanya."


"AJ market baru, itu milikmu. Bagaimana bisa kamu lepas dalam tuntutan, Hanum harusnya tetap menjebloskanmu. Bisa bisanya kamu seperti ini, tidak tau diri kau Alfa."


"Hahaha, biar saja. Terserah pak Rico, dan satu lagi, bagaimana jika paman Mark tau, anak sulungnyu tidak becus mengelola market Marco yang telah berdiri puluhan tahun?" tawa gelak Alfa menatap Rico.


Rico menghela nafas, ia berusaha tetap tenang. Masih memperhatikan Alfa berbicara panjang lebar kali empat, puluhan meter dan pengkolan yang mungkin Rico hanya balas dengan senyuman.


"Lanjutkan, jika itu bisa. Aku menunggu kamu menghancurkan market Marco." berdiri Rico.


"Hanya ada satu."


Rico terdiam, kala Alfa mendekat. Menepuk bahu Rico dan berbisik, membuat Rico mendorong Alfa dengan lantang.


"Lebih baik aku kehilangan semuanya, tidak akan aku lepaskan briliant yang telah kau buang!" teriak Rico berlalu pergi.


Sementara Alfa, ia hanya tertawa dan menantikan kehancuran keluarga Mark.


"Bukan hanya briliant yang aku inginkan darimu Rico, tapi masa lalu keluarga kita. Kita lihat apakah Marco dan dirimu akan baik baik saja setelah ini."


Erwin dan Elmo berada di luar, semua staff dan karyawan Rico telah keluar. Hanya menyisakan Alfa dan Rico berdua yang sedang bersitegang, yakni ujung sudut mereka duduk saling menatap dan bicara serius.


"Kau kembali bekerja lagi, bukankah kau mengurus adik kecil wanita kesayangan, bekas bos mu itu?" cetus Erwin.


"Tidak usah bahas topik lain, aku hanya bekerja. Anak itu sudah aku kembalikan, dia rindu bertemu kakaknya. Meski aku ingin membawanya, tapi aaah!" deru nafas Elmo.


Erwin tertawa melirik Elmo, layaknya mereka adalah asisten. Tapi entah kenapa mereka berada dalam jurang yang sulit untuk saling bersiteru. Tugas mereka hanya bekerja, soal bersaing hanya para bos mereka.


"Kau bisa dipercaya Erwin?" ucap Elmo.


"Tergantung, apa kau ingin menusuk dan menggulingkan market Marco juga?"


"Para bos hanya sedang konflik pribadi, kita tidak perlu mengurusnya bukan. Lebih baik bantu satukan mereka. Kau tau, apa masalah biangnya kan?" ketus Elmo dan Erwin senyum miring, karena mereka sudah tau jawabannya.


Saat mereka sedang serius merencanakan sesuatu, Rico keluar. Sehingga Erwin membenarkan posisi berdirinya dan mengekor kemana langkah Rico, yang memakai rompi dan pergi begitu saja.


***


Hanum yang sedang merapihkan segala berkas pekerjaan suaminya, ia sedikit terkejut akan sebuah foto keluarga. Yang tersimpan rapat dalam sebuah kotak serapih mungkin.


"Mas, andai papaku ada. Andai mama kamu juga ada, kita pasti bisa berfoto seperti dalam bingkai ini. Menjadi keluarga lengkap dan bertambah bahagia." lirih Hanum.


Dan saat Hanum berdiri, terdengar bel. Hanum berdiri dan segera senyum menatap suaminya sudah pulang.


"Mas, sudah pulang. Aku belum masak, kamu pasti laper kan?"


"Tidak usah sayang, mas sudah bawa makanan. Mas ga mau kamu capek, mas mandi dulu ya!" kecup Rico, setelah Hanum mengecup punggung tangan, dan bahu suaminya.


Hanum juga ikut melepaskan sepatu Rico, dan membawanya ke rak sepatu. Tak lupa kaos kaki ia taruh di keranjang. Hanum segera ke dapur dan mencuci tangan, setelah itu mengambil satu gelas dan menuangkan air putih.


"Mas, minum dulu!"


"Terimakasih sayang." merapatkan tubuhnya sejajar, dan merengkuh pinggang Hanum.


"Mas rindu, apakah bayi kita rewel?"


"Mas, bayi kita masih sangat kecil, sebiji buah apel. Belum terasa untuk rewel atau sekalipun main bola di dalam sana."


Mendengar ucapan Hanum, Rico sangat bahagia dan tertawa renyah. Jika memikirkan perkataan Alfa, ia yakin tidak akan sanggup melihat Hanum kelak tinggal bersamanya menderita.


'Mas akan selalu membuat kamu bahagia sayang. Hanum apapun akan mas lakukan. Mas akan segera melawan Alfa, agar dia tidak menyakitimu dan keluarga kecil kita kelak.'


"Mas, kok bengong?" tanya Hanum.


"Baiklah sayang, mas mandi dulu."


Hanum senyum dalam diam, jelas terlihat guratan wajah beban dalam kening Rico.


"Mas, masalah apa sebenarnya. Apa sulit kamu tak ingin berbagi masalah padaku?" gumam Hanum. Yang melihat Rico telah masuk ke kamar kecil untuk mandi.


Tingnong!


Suara bel, membuat Hanum ingin membukanya. Ia segera mengambil baju panjang dan selendang untuk menutupi kepalanya.


Tbc.