
"Bagaimana bisa lo lakuin semua ini sama Hanum. Haah?" Rico menatap tajam, suara serak penuh emosi.
Rico saat ini memang berada di ruang interogasi, pihak berwajib memperbolehkan ia bertemu, dan bicara dalam waktu puluhan menit. Hal itu lantaran Alfa Jhonson akan dibebaskan, meski dalam waktu tiga hari ia mendekam.
Salah satu perawat dari pihak Rsj juga membenarkan jika pria bernama Alfa yang sudah divonis menjadi paseinnya terkena gangguan mental. Dan akan di proses pemindahan ke bangsalnya, dengan persetujuan pihak berwajib, karena pasein sedang terlibat pasal 170 dan pasal 333.
Namun dengan mental Alfa Jhonson saat ini, kemungkinan Alfa akan bebas, dan dikenakan denda sebagai ganti rugi.
"Lo pura pura gila kan? you bastard! aku pastikan kamu berada di bangsal rumah sakit jiwa selamanya!" kesal Rico mendorong Alfa yang masih saja diam bagai patung.
Rico sudah mengangkat kerah leher Alfa, tapi ia tidak ada respon meski di dorong sekalipun. Rico sangat kesal dengan seorang pria yang berlaku kasar pada seorang wanita. Terlebih wanita yang ia sayangi, yakni Hanum memar dan bahkan makan serta bicara pun kesulitan.
"Motif apa yang lo lakuin Alfa? why. Kenapa lo lakuin semua ini dan lampiasin semuanya sama Hanum?"
Mendengar kata Hanum, sosok Alfa beraksi dan menatap Rico dengan sinis tertawa. Ia tertawa bagai orang kesurupan, lalu menangis dan meminta maaf. Hal inilah yang membuat Rico frustasi, ia yakin jika Alfa sedang bersandiwara dan setelah bebas, ia kembali mencari Hanum dan menyakitinya.
Rico keluar dari ruangan itu, ia bertemu pihak berwajib dan meminta seluruh polisi benar benar memastikan, jika di dalam tersangka bernama Alfa memang kelainan mental. Tak lama Rico menatap paman Jhoni yang datang begitu saja.
"Rico, kamu disini?"
"Paman! tolong akhiri sandiwaramu. Katakan jika putramu wajib dihukum. Kekerasan pada seorang wanita dan membuat cidera, bahkan ia menyekapnya. Itu adalah hal yang tak bisa saya tinggal diam, jika tidak perusahaan paman akan lenyap tak tersisa. Bukankah paman lebih takut kehilangan itu? dibanding putra paman?" senyum menyeringai Rico lalu pergi.
Jhoni sedikit tegang, ia juga tidak tega jika benar putra semata wayangnya benar benar sakit jiwa. Reputasi perusahaan akan hancur jika itu benar kenyataan. Satu hal yang ingin Jhoni lakukan adalah membuat putranya sembuh, jika mentalnya benar benar terganggu.
"Bagaimana kabar putra saya pak? saya memiliki teman jendral bintang lima. Saya yakin itu bisa membuat putra saya bebas dari segala tuduhan. Saya akan mengawasinya dan membawa putra saya therapy, saya bersedia menjadi penanggung jawab jika terjadi sesuatu. Dan saya pastikan kejadian ini tidak terulang lagi." jelas Jhoni memohon pada polisi.
"Begini pak! semua harus saya data lebih kaji. Tim medis sebentar lagi datang untuk menjemput, dan mengecek ulang di rumah sakit, tapi mungkin sedikit terheran jika pasein menyebut nama Hanum ia akan menangis meminta maaf. Lalu meminta untuk bersamanya. Entah ini ilusi terakhir putra bapak, atau ada kejadian pilu yang mungkin medis bisa jelaskan secara rinci nanti."
"Tapi saya mohon pak! ijinkan putra saya pulang dan wajib lapor saja. Putra saya tidak mungkin kena pasal penculikan dan menganiaya. Terlebih wanita itu adalah mantan istrinya, yang kabur dengan Pil. Pria lain yang tadi itu, selingkuhannya. Sehingga putra saya seperti ini. Huhuuu." jelas Jhoni sedikit melas agar polisi percaya.
"Baik data bapak saya catat! tapi sesuai prosedur. Kami masih menunggu tim medis dari rumah sakit ternama. Mohon bapak menunggu!"
Tapi dengan kekuatan uang, pihak polisi mendapat telepon dari jendral bintang lima. Hal itu membuat Jhoni yakin, jika Alfa bisa pulang kerumah dengan baik baik saja. Ia akan meminta suster merawatnya di kediamannya. Sehingga Maria istrinya, tidak cemas dan menangis seharian.
\*\*\*
Beberapa hari kemudian, hampir sepekan Hanum kembali pulang. Tak lama Hanum sudah melihat mbok surti dan Lisa yang sedang memotong daun di pot yang layu. Agar bunga yang mekar semakin cantik. Sementara mama Rita sedang duduk, ia berdiri memanggil Hanum kala satu mobil berhenti di depan rumahnya.
"Hanum. Nak! kamu sudah pulang?"
"Mama, maafkan Hanum baru bisa pulang." berlari memeluk mama.
"Han, kamu harusnya bilang. Kalau Alfa memang sakitin kamu. Jangan bikin orang rumah khawatir, kamu pake acara keluar kota dines kerja. Bikin cemas aja." timpal Lisa.
"Maksud mama dan kakak?"
"Ayo masuk! Nak Rico, ayo masuk nak!" ucap mama.
Hanum masuk, sementara Rico paling akhir dengan membawa satu koper. Benar saja saat itu Lisa menceritakan jika Rico datang, meminta ijin jika kamu sedang di rawat oleh suster di kediamannya. Dan menceritakan segalanya kronologi tentang Alfa pada Hanum.
Lagi lagi Hanum dibuat tersipu, ia bicara membeli koper dan baju baru untuknya. Ternyata ia datang kerumah, sekaligus meminta ditemani Lisa membelikan baju ukurannya.
"Kaka ikut belanja keperluan aku sama Rico?" terkejut Hanum, ada rasa sakit mendengarnya.
"Iya. Sama mama dan mbok surti juga. Awalnya baik baik mereka belanjain kami, ada dua kurcaci juga yang bantuin barang barang kami. Eh udah baik baik. Baru Rico jelasin soal kamu." senyum Lisa merasa kagum sikap pria model Rico.
"Kakak pikir cowo perhatian, peka kaya Rico cuma ada di novel aja. Taunya real juga ada ya. Semoga terus selamanya ya." cetus Lisa.
Rico pun hanya tersipu, saat itu. 'Ya Tuhan, aku hampir suudzon sama Rico dan Lisa berduaan pergi. Maafkan aku kak.' batin Hanum.
Lama mereka berbincang, lebam Hanum memang sudah pulih. Hanya sedikit hitam memar di bawah bibir masih terlihat. Mereka makan siang bersama dan Lisa yang di dapur sedang memotong buah. Sementara mama sedang asik berbicara dengan Rico sangat intim. Membuat Hanum menghampiri Lisa yang serius tapi terlihat batinnya sakit.
"Kak. Maafin Hanum ya?"
"Maaf soal apa? kamu buat salah apa sama kakak Dek?" tanya balik Lisa sambil makan sepotong apel.
"Hanum terima soal Rico, tapi .. "
Hap! "makan buahnya Hanum. Kamu ga perlu banyak bicara. Apapun yang bikin kamu happy. Itu namanya takdir, dan kakak lagi ga berniat untuk bahas soal jodoh kakak. Jika kamu mau menikah segeralah! ga usah perduliin kakak!"
"Kaka udah tau?"
Lisa menjelaskan semuanya, awalnya ia sempat kecewa. Tapi rasa sayangnya pada Fawaz masih membekas akibat sikap Fawaz yang sedikit dingin. Lisa berusaha memendam dan tak mau lagi mengenal cinta.
"Kak." peluk Hanum pada Lisa.
Tak lama seseorang bertamu, membuat tatapan semua penghuni rumah menoleh, penasaran siapa yang datang.
**To Be Continue**!!