
"Pagi sayang, sarapan udah aku buat." kecup Rico.
Hanum membuka matanya, ia masih saja malu, menutup wajahnya dengan selimut tebal. Rico meraih tangan Hanum, lalu berkali kali Hanum di buai dengan ketulusan.
"Aku malu, Rico. Aku pasti jelek bangun tidur, aku belum mandi." ujar Hanum.
"Baiklah! aku rasa kamu tetap cantik, terlihat natural. Bersiaplah, aku tunggu di meja makan ya. Aku buat sesuatu untukmu." menyapu poni Hanum yang tertutup.
Heuuumh! Hanum mengangguk, ini adalah perasaan Hanum yang tak pernah ia rasakan. Hanum terasa sangat perih dibagian inti. Meski ia bukanlah gadis, tapi menikah dengan Alfa adalah pertama dan terakhir baginya. Sejak saat itu, ia tak pernah lagi merasakan pertahanan dirinya yang di sentuh dengan lembut dan ganasnya setelah Rico berhasil, Hanum baru kembali merasakan bagai es campur dengan banyak rasa dan berwarna.
Hanum masih mengingat jelas aksi semalam, beberapa kali Rico meminta nambah bagai, membeli makanan yang ditambah porsinya. Hanum menjatuhkan kakinya ke lantai. Tubuh nya terasa remuk dan benar benar tidak nyaman.
"Ya Tuhan, apa sesakit ini rasanya. Lalu bagaimana rasa sakit melahirkan, apakah rasanya lebih perih." gumam Hanum merasa takut.
Hanum yang meminum susu, ia segera menghabiskan setengah. Lalu membersihkan diri seperti biasa. Air yang jatuh dari atas shower membuat Hanum segar, melekat wangi sabun yang sangat harum.
Rico yang masih menyiapkan makanan, ia menatap daging asap dengan penuh ceria. Lalu mematikan ponselnya, jujur Rico sengaja ke dapur chef hotel. Karena ia ingin membuat makanan hasil dari tangannya sendiri, sehingga setelah berhasil ia segera menyiapkan sebelum Hanum bangun dari lelapnya.
Hanum yang telah berhanduk piyama, dan kepala yang di untal handuk kecil. Ia senyum menyapa suaminya. Lalu berlari ke arah rak! hingga akhirnya Rico mendekat dan merangkul pinggang Hanum. Mendekat dengan memeluk.
"Sayang, apa kita berlibur hari ini juga?"
"Kemana, bukankah klien dari paris akan datang?" menoleh Hanum, ketika wajah Rico sangat dekat.
"Sepertinya aku yang mengunjunginya, aku ingin kamu ikut!"
"Heuumph! suamiku, lalu aku ngapain disana?"
"Bersantai, tunggu aku didalam hotel. Berbelanja atau sekedar menunggu suamimu ini di ruangannya. Kalau perlu kamu ikut ke dalam ruangan meeting, tetap di sampingku. Gimana?"
"Heeuh. Hahah, sumiku sayang. Aku tidak pantas membuntutimu yang sedang mencari nafkah. Apa kata klien nanti?" bisik Hanum.
"Aku akan bilang, jika istri manisku ini tidak bisa jauh jauh dariku." merangkul tangan Hanum, dan mengecup punggung tangan Hanum.
Gleeuk, alis Hanum mengreyit sebelah.
"Rico sayang, jangan berlebihan."
"Tidak apa, aku hanya ingin tau. Jika istriku ini selalu rindu dengan suaminya."
'Hah! rasanya aneh, seperti aku saja yang tergila gila padanya.' batin Hanum.
Beberapa saat, Rico menghubungi Erwin. Ia meminta di persiapkan segalanya untuk ke paris.
"Selesai, bagaimana setelah ini kita ke furniture?"
"Apa tidak terlalu capek suamiku sayang."
"Aku sih tidak, tapi jika istriku tidak ingin.." mode mikir tempat yang ingin di kunjungi.
Dan saat Hanum ingin membela dirinya, lagi lagi tali ikat di pinggang sudah terbuka. Hanum sudah duduk di atas meja rias. Entah dari mana Rico sudah membuat mata Hanum terpedaya, sehingga mereka kembali memadu kasih, membuat Hanum terkejut dan berakhir melayang, dan kembali mandi bersama.
TEPAT SIANG HARI.
Hanum sudah kembali membawa kopernya, begitu pun juga Rico. Mereka saling berpegang tangan, bak coklat dan permen yang manis dan selalu berdampingan. Bak coklat dan mede yang selalu berdempetan dan bersama, tak bisa di pisahkan.
"Sudah membaik kan? mau aku gendong?" goda Rico.
"Heuuhmh! ga perlu sayang, aku bisa. Kopernya gimana?"
Tanpa aba aba, seorang pelayan datang dan menyapa Rico.
"Selamat siang pak! semoga harinya menyenangkan. Kopernya saya bawa duluan ya pak!"
"Ok. Benar."
"Terimakasih!" ucap Rico sambil memberikan beberapa lembar uang untuk pelayan hotel.
Hanum memasang seat belt, begitu pun Rico kembali memakai dan memastikan Hanum terpasang dengan aman.
"Suamiku sayang, aku merasa malu tau gak?"
"Benarkah? ah! kalau gitu aku akan setiap saat menggendongmu seperti tadi." balas Rico yang menjalankan mobilnya.
"Rico, kalau aku panggil Hubby bagaimana?"
"Cukup menarik, aku merasa bahagia. Karena kamu mau merubah, dan membiasakan memanggil aku dengan lebih manis."
"Tapi perlahan ya, aku lebih terbiasa memanggilmu seperti tadi. Sayang, atau suamiku sayang. Merubah nama saat kita memanggil itu tidak mudah." jelas Hanum.
"Baiklah."
Hanum semakin malu saja, hingga beberapa saat mereka berhenti di market Marco.
"Suamiku, kenapa ke kantor. Ada meeting atau klien datang secara mendadak?"
"Tidak sayang, aku hanya ingin ambil berkas. Erwin sedang menghadiri rapat lain. Kamu tunggu di sini, aku tau kamu masih gemetar kan?"
"Sayang. Jangan terus goda aku deh." wajah Hanum ditutupi dengan kedua tangannya.
Hal itu membuat Rico semakin senang ingin menggoda Hanum. Namun saat Rico tak ada, Hanum merasa sedang di awasi. Tapi ia berburuk sangka jika itu adalah pikirannya saja.
Hanum tak memperdulikan mobil hitam, sekitar jarak sepuluh kilometer. Dan ia menyandarkan di kursi mobil. Setelah Rico kembali, Hanum tersenyum dan berlaga seperti biasanya saja.
Tanpa sadar mobil itu benar seperti mengikutinya. 'Enggak, pasti aku salah lihat.'
Hanum membeli popcorn dan minuman. Lalu dengan bahagia, mereka masuk ke dalam bioskop vvip.
"Sayang, kita nonton?"
"Heuumph!"
"Tapi kan kita punya, kasetnya di rumah untuk apa?" tanya Hanum.
"Jika kita nonton di rumah, akan ada jaguar yang menggoda iman. Kita bukan menonton tapi membuat film Hanum." bisik Rico gemas.
"Sayang." lirih Hanum. Mencubit Rico dengan gemas.
Rico dan Hanum bagai pasangan yang sedang di mabuk asmara. Mereka nikmati dari saling suap makanan ringan. Bersandar saling berhadapan dan Rico memeluk, benar saja di pertengahan film di mulai, Rico malah tertidur dengan merangkul pinggang Hanum.
"Dasar pria unik, Rico kamu itu tidak niat nonton sama aku ya?" bisik Hanum.
"Terlalu dingin, ah! ini pertama kalinya aku nonton bioskop. Aku merasa ingin nonton di rumah saja, lebih hangat di banding di sini." membuka sedikit mata Rico.
Hanum hanya menggeleng, menatap Rico dengan mencubit pipinya. Tapi balasan Rico adalah menerjang ranum Hanum yang merah jambu beberapa menit.
"Sayang, udah hangat kan?"
"Heuuumh! dekat kamu aku merasa ingin libur terus. Aku rasa aku perlu cuti bekerja."
Hahaha! tawa Hanum semakin pecah, ia menggeleng kepala dan menyadarkan Rico.
"Habis ini kita ke rumah mama atau papa dulu sayang?"
"Baiknya aja istriku. Kita mampir beli bingkisan!" Hanum mengangguk.
Tbc