
Meninggalkan saat ini Hanum dan Rico yang sedang berjalan menuju Desa Arga, yang menuju kediaman rumah baru. Meski rumah sewa, tapi cukup untuk mereka tinggali dengan nyaman dan pertumbuhan janin Hanum yang saat ini menginjak tiga bulan.
Di satu sisi Adelia yang telah dalam perjalanan menuju bandara, di hentikan oleh Alfa yang mengejutkan secara tiba tiba.
"Alfa, kenapa kamu disini?"
"Aku berubah pikiran, ikutlah denganku!"
Adelia tidak bisa berkata kata, ia mau tidak mau menyusuri tarikan tangan Alfa, yang menuju hotel terdekat bandara. Ingin berteriak, tapi ia takut dan hanya pasrah sambil memohon untuk di lepaskan.
"Kenapa kesini, aku harus pulang Alfa."
"Untuk apa, apa kamu yakin hanya dua hari. Bagaimana kamu kabur, aku tidak percaya dengan wanita sepertimu. Jadi lakukanlah yang aku perintah!" senyum Alfa yang telah melepas bajunya.
“Jangan bertindak bodoh, Alfa!” ucap Adelia.
“Kenapa, kamu tidak mau?”
Suara Adelia serasa berderak di telinga. Ia mundur dan merenggut di dipan sofa, lalu dengan gagahnya Alfa menarik Adelia dan memasukan sesuatu dari tangan kokohnya.
Adelia berteriak histeris, ketika silikon gerigi itu tertancap dan kedua tangan Adelia telah terkunci rapat. Kini dirinya sudah berada dalam kungkungan, sempat ia mendorong dan ingin berlari.
Jangan lakukan itu, aku mohon! Kau pikir apa, siapa dirimu?! Kau memperlakukanku seperti seorang pe la curr! Ibuku melahirkanku tidak untuk dihina oleh seorang laki laki. Aku memang tidak seperti Hanum yang dibesarkan oleh kedua orang tua yang utuh dan berkecukupan. Aku hanya seorang anak petani yang di pungut oleh paman Mark. Tapi ibuku merawatku seorang diri dengan uang halal hingga ke sana kemari dihina oleh semua orang.
"Meskipun aku seorang anak petani, bukan berarti kamu bisa seenaknya menghina dan menuduhku seperti ini, menyakiti batinku dan kau menjajahi seenak dirimu, itu melukai diriku Alfa!" Sambil isak tangis dan menyeka setiap buliran air mata yang jatuh dari tempatnya, Adelia memohon agar Alfa berhenti.
"Aku sungguh menyesal karena menghabiskan waktu untuk mengagumi orang seperti dirimu, bekerja sama denganmu itu salah! Seangkuh angkuhnya Paman Jhony tapi dia itu jauh lebih baik daripada dirimu! Minggirlah!” Adelia berusaha menerobos tubuh Alfa.
Namun, Alfa sama sekali tidak menghalangi Adelia yang langkahnya nyaris mendekat ke arah pintu.
Lutut Adelia seketika melemas. Ia pun kemudian memutuskan untuk tetap berada di dalam kamar dan tidak menceritakan perlakuan buruk Alfa terhadap dirinya kepada orang lain, termasuk kepada papa Mark. Meskipun ini menyakitkan, tetapi lebih baik Adelia merasakan penderitaan ini sendiri karena ia tidak ingin mengecewakan dan menyusahkan keluarga Mark.
'Apa ini balasanku, aku bisa gila jika terus berada di bawah tekanan Alfa. Bukan hanya kehormatan saja, melainkan mental ku akan semakin gila.' batin Adelia.
Jika Alfa sangat mencintai Hanum, kenapa dia tidak mempertahankan atau membujuk Hanum supaya meninggalkan Rico, dan kenapa dia pasrah.
Pertanyaan pertanyaan ini sejak dari tadi mengisi pikiran Adelia. Ingin sekali ia mencari alamat baru papa Mark, dan bertemu kak Rico serta Hanum. Ingin sekali ia meminta maaf, dan memohon untuk bisa melepaskan dirinya dari jeratan Alfa saat ini.
“Seharusnya kau mengungkapkkan perasaanmu. Bagaimana kalau ada wanita yang mendahuluimu dan memilikinya?”
"Kau lupa, kau yang ingin bekerjasama denganku. Kau lupa, perjanjiannya adalah kau harus menurutiku!"
"Kau ingin apa, menjauhlah dariku Alfa!" teriak Adelia.
"Aku, aku akan melakukan sentuhan manis dan baik, asalkan kau mau bekerjasama. Kita cari rumah di daerah Rico saat ini tinggal. Bersikap baik, dan seperti suami istri pada umumnya bahagia. Terlebih di depan Hanum dan Rico. Apa kau mengerti?" cetus Alfa.
"Jika kamu ingin Hanum kembali, kenapa tidak kejar saja. Aku lelah, aku ingin akhiri perjanjian kita. Aku sadar, segimanapun aku ingin melihat kak Rico berpisah dari Hanum. Itu mustahil, aku ingin hidup kembali tentram. Aku bersalah, aku mohon lepasin aku Alfa!"
"Bodoh! tidak bisa, aku tidak akan melepasmu. Aku akan membuat kamu jadi ratu, asalkan kamu bisa membuat hidup Hanum sangat menderita. Bahkan sepiring nasi pun tidak punya, kamu harus melihat mereka sangat tertekan dan boom. Bercerai, meminta talak! maka, tugas perjanjian kita berakhir." tawa Alfa.
"Kamu gila, kita harusnya berakhir di tanda tangan berkas market saja. Kenapa seperti ini, kenapa kamu tega lakukan seperti ini. Aku ga akan lakukan itu, aku ga mau!"
"Kalau kamu tidak mau, maka kamu akan melihat Lion. Putramu mengenaskan."
Dengan erat Alfa menarik Adelia, membalikan seluruh posisi hingga seperti doggy, melucuti dan dengan ganas membuat Adelia pasrah tak berkutik. Hanya sebuah air mata penyesalan, membuat Adelia menahan dan meremas jemarinya pada sprei berwarna putih.
Ekspresi wajah Adelia seketika nampak berubah menjadi sendu, kemudian ia tersenyum getir. Ia duduk dan merengkut bagai wanita gila, yang menatap Alfa duduk diam dengan sebuah laptopnya.
“Tidak apa apa. Kau harus terbiasa, dengan kebiasaan aku yang meminta jatah. Kamu resmi menjadi istriku. Kau tau, aku hanya suka dengan satu wanita, jika harus berganti ganti aku lelah dan aku menjaga harga diriku agar tidak tercoreng.” jelas Alfa menatap Adelia.
'Jangan pasrah seperti ini. Aku harus berjuang mendapatkan hatinya. Memangnya apa saja yang ku ketahui tentang Alfa, mungkin dengan lembut, aku bisa membuat Alfa percaya padaku. Kak Rico, aku yakin kekecewaan kakak padaku sangat dalam, tapi demi apapun aku akan membantu ka Rico, demi keluarga Mark bersatu seperti dulu.' gumam Adelia dalam hati, ia kembali memakai pakaian dan memungut satu persatu berjalan ke arah kamar mandi.
Sementara Alfa, ia kesal ketika berkali kali rencananya gagal. Orang suruhannya terus saja gagal membuat Rico kecelakaan, tanpa mengenai Hanum. Hingga ide cemerlangnya adalah hidup berdampingan dengan kediaman Rico saat ini, dengan adanya Adelia yang kini sudah menjadi istri sirinya.
"Rico, dan Hanum. Tidak bisa dengan jalur kekerasan, maka aku harus memberi perhitungan dirimu dengan jalan halus. Aku hanya ingin melihat, apakah kondisi mereka yang saat ini sulit. Apa masih bisa tersenyum lebar, dan bicara aku sangat bahagia." gelak tawa Alfa bagai orang gila.
Sementara Adelia di berbeda ruangan, ia membuatkan sebuah teh. Lalu menaruh sebuah serbuk untuk Alfa. Perlahan ia merasa tidak tahan, sekaligus menyesal perbuatannya selama ini.
"Cinta memang tidak bisa di paksakan, melihat orang yang kita cintai bahagia. Itu sudah cukup bahagia bukan, bukankah cinta tidak harus memiliki. Aku bodoh, terlambat menyadarinya."
Adelia pun, segera menaruh teh hangat di samping laptop, lalu meminta Alfa untuk meminumnya.
"Aku buatkan kamu teh, apa kamu lapar?"
"Hey! bodoh. Taruh saja semua disitu! pesan makanan hangat, aku ingin itu. Pergilah, aku malas melihat wajahmu saat ini!" teriak Alfa dengan wajah kejam.
Tbc.