
"Lis, dia suami kamu. Bagaimanapun, Fawaz masih sah. Apa saat ini masih ga sadar, kalau tatapan dan sikap Fawaz berubah?" tanya Sinta.
"180º gue ga ngenalin mas Fawaz. Gue bingung."
Nestia kembali menatap wawancara yang di suport oleh Fawaz dari jauh. Sementara Lisa di sebrangnya merasakan sakit amat mendalam, tidak ada yang bisa ia lakukan di tempat ramai seperti acara ini. Lisa menatap jam, jika dirinya akan ada sesi wawancara tiga puluh menit lagi.
"Mbak Lisa, ini table yang diminta pak Ray! mbak Lisa benerin make upnya ya! sebentar lagi di panggil." ucap Sany, seorang Mc.
"Ok, makasih juga ya mbak Sun."
Lisa memang masih sembab kala itu. Sinta menghampiri dan memberikan perona pipi di bawah lingkar mata, berwarna orange dan pink soft. Lalu tampilan eiylener pada mata indah Lisa.
"Tu, tunggu Sin. Jangan seperti ini, aku kok ngerasa aneh ya. Udah menor kaya mau kondangan aja?"
"Trus. Kamu mau tampil ke acara klien penting dengan mata terlihat jelas menangis. Kamu perwakilan kantor loh?" tambah Sinta kesal.
"Bu bukan gitu Sin. Tapiii .. "
"Ya. Gue tau lo malu Lisa. Tapi ga ada cara lain, salah sendiri pria model Fawaz berserakan di pelataran got kantor. Masih aja mau bilang dia baik. Kalau ga percaya mistis, udah buang aja. Buka lembaran baru dari sekarang."
"Sin .. " teriak Lisa, menatap pada Sinta.
"Oke sory. Gue sadar gue berlebihan, habis kalau gue jadi lo Sin. Gue udah tinggal buang aja ke laut. Model kaya dia tuh udah jelas ga pantas di pertahanin. Terus .. rencana kamu apa sekarang?" masih mode membenarkan make up Lisa.
"Aku gak tau Sin. Aku terlalu cinta sama mas Fawaz, tapi aku mau coba untuk bilang. Aku mau minta kesempatan, supaya aku jadi istri baik. Gimana caranya dia harus sadar, apa yang dia lakuin itu salah."
"Astaga Lisa .. udah kaya pengemis cinta banget sih. Lo pantes dapetin yang lebih baik Lis, gue bingung sama cinta di hati lo. By the way .. oke nanti pas lo mau ketemu dia. Gue ikut .. okee! gue harap lo juga cuek, model Fawaz kalau dia bukan karena guna guna dia bakal kena karmanya, tinggal nunggu jatuhnya. Tapi kalau model Fawaz beneran kena jampean seleb narsis, ga akan abadi. Percaya deh sama gue." jelasnya.
Lisa mengangguk. Hingga ia bersiap berangkat bersama kala itu. Hal itu membuat Sinta menggeleng geleng kepala. Apa Cinta yang di maksud Lisa itu benar buta. Sampai jelas pria model Fawaz. Lisa berubah pikiran dan masih saja mau bertahan.
"Lisa sumpah, aku ikut miris lihat kamu yang cantik. Tapi dapat cowok model kaya dia." batin Sinta bergumam.
Lisa pergi ke arah garasi pelataran luar, ia mencari semak belukar tanaman yang tidak mudah terbakar merambat. Sinta masih saja mengikuti gerak Lisa yang aneh dan membuatnya bingung.
"Mau ngapain sih, Lis?"
"Tunggu bentar ya!"
Lisa menghampiri Fawaz, hal itu membuat mata Lisa miris, karena Lisa begitu tidak punya harga dirinya. Seolah dirinya mengemis dan tidak cantik, sudah dilukai masih mau mengejarnya.
"Lis, kalau bisa ke dalam lagi yok! bentar lagi nama lo di panggil! nanti dicariin pak Ray."
"Iy bentar aja kok."
Mas! teriak Lisa.
Fawaz yang sedang menelpon ia segera menatap wanita yang membuatnya bingung. Seolah menderu nafas kesal kala ia melihat seorang wanita lancang, memanggil di saat ia sedang sibuk.
"Ka .."
"Tidak perlu bicara, aku hanya mengucapkan selamat bahagia untuk kamu. Semoga harimu tidak menyesal kelak mas Fawaz. Masih ingat
Lisa menjatuhkan kotak merah, lalu ia segera senyum membalik pada tatapan Nestia, yang tiba saja datang dengan lari ingin menghampiri.
Saat itu juga Lisa memejamkan mata berdoa dan membuka kotak persegi itu terbuka. Lisa siram minyak tanah, dan kali ini ia berteriak membuat Nestia terkejut menatapnya.
'Suatu malam saya ingin sekali bercermin, aku bercermin dan mengarahkan padanya. Kembalilah kamu pada tuannya!'
Lisa membaca ayat suci dalam hati, ia menatap seluruh kotak itu terbakar. Kala nama Lisa di panggil, ia segera masuk dan mengikuti acara di dalam gedung.
"Lis, kamu ngapain sih tadi?"
"Bi inah, nyuruh aku bakar kotak yang aku temuin waktu itu, di depan mas Fawaz. Semoga jika itu benar ga wajar, sedikit ada perubahan. Setidaknya dia ingat aku, jika tidak juga. Fix udah jelas memang alibi aja pura pura tidak ingat pernikahannya dengan aku." jelas Lisa antara sedih yang bercampur kecewa.
***
BEBERAPA JAM KEMUDIAN.
Nestia diantar oleh Fawaz pulang. Tapi Fawaz segera mampir ke ruangan dinasnya untuk mengambil berkas. Detik ini, Fawaz terdiam bingung kenapa dirinya bisa bersama wanita bernama Nestia di sampingnya. Sehingga ia mulai mengorek apa yang terjadi.
"Honey, kamu kok kaku sih dari tadi. Aku tunggu disini ya!" senyumnya.
"Heuumh." Fawaz keluar dari mobil, lalu berjalan menyusuri dengan banyak pertanyaan.
Fawaz yang masih frustasi akan kerjasama yang gagal di beberapa cabang usaha miliknya. Ia merasa kesal karena semua akibat teriakan Nestia di gedung atap. Sehingga image perusahaan dan masa dipimpin olehnya menurun karena desus itu, Nestia bicara di depan wawancara jika ia sudah mempunyai kekasih dan akan segera resmi dengan sah, bahkan hubungannya jauh lebih serius.
'Nestia, wanita ini datang darimana sih sebenarnya?' batin Fawaz.
Beberapa jam setelah Lisa pergi membakar sebuah kotak aneh, ia merasa kebingungan kala memeriksa pasien. Operasi terkadang ia hentikan, meminta bantuan pada dokter lain. Fawaz duduk di ruangannya dan menatap satu laci yang terpaku. Masih mode memikirkan soal Lisa.
"Siapa yang memaku laci ini, apa sih isinya?" gerutu Fawaz.
Sementara Nestia merasa aneh tak beres dari sikap Fawaz. Ia segera mencari tau dan menyusul ke ruangan kerja Fawaz. Melirik kiri dan kanan kala terlihat sepi, dan tak ada suster asisten Fawaz.
Krek! pintu terbuka.
"Honey. Kenapa kamu tidak memanfaatkan Lisa?" pinta Nestia. Sementara Fawaz menoleh padanya.
"Maksud kamu .. apa yang kamu katakan?"
Nestia berbisik sesuatu pada Fawaz. Sementara Fawaz yang mendengarkan dengan amat serius membulat sempurna.
"Tidak bisa. Aku tidak mau menemui Lisa, atau berpura pura. Hoooh .. apa jadinya. Ludah ku telan kembali. Pokoknya tidak!" alibi Fawaz.
Fawaz yang akan pergi begitu saja. Sementara Nestia yang tersenyum menang ia jelas tau, jika Fawaz tak sedikit pun menyukai Lisa, ia segera menahan Fawaz kala tangannya lebih dulu memegang gagang pintu, agar tidak terbuka. Nestia mendekat bagai ulat di depan pria.
"Good Honey. Tapi kamu tidak perlu mengotori tanganmu saat ini. Aku akan membuat Lisa di benci banyak orang. Bagaimana jika aku saja yang memulainya?" tanya Nestia.
"Lepasin tanganmu dari tanganku! pergi dari sini, ini ruangan dokter. Tidak ada yang boleh ada disini! Satu, selain dokter, Dua yaitu suster, dan satu lagi nomor Tiga, yakni pasien kritis? apa kamu ingin menjadi nomor tiga?" cetus Fawaz, membuat Nestia terdiam membeku.
Tbc.