BAD WIFE

BAD WIFE
KABAR BERITA



Hanum menutup tirai, setelah seluruh penghuni di rumah telah terlelap! Hanum turun kebawah, karena air minumnya habis. Ia membawa botol air berukuran dua liter, terlihat kamar anak anak terlelap dan aman.


Namun saat Hanum duduk di dapur, ia terkejut suara langkah kaki. Hanum menoleh dan Rico tersenyum, ia melebarkan tangannya dan benar saja Hanum merasa bahagia.


"Mas."


"Assalamualaikum, istri mas sayang." senyum indah.


"Walaikumsalam, mas jahat deh. Katanya empat hari lagi?" peluk Hanum, saat ini ia memakai piyama.


"Maaf ya! tadinya mas mas surprise saat kamu masih tidur, tiba tiba di samping kamu, eh gagal. Sudah pukul sebelas malam, kamu belum tidur?"


"Terbangun mas, air nya habis."


Hanum membawa jas Rico, terlihat mereka bersamaan naik ke arah tangga menuju kamar. Hanum mempersiapkan sebuah teh hangat, di saat Rico membersihkan diri.


Selepas ini, bukan hal lain yang mereka lakukan di saat saling menatap, Rico sudah memeluk Hanum, melepaskan handuk dan manarik Hanum ke dalam surga indahnya pasutri.


"Mas, ga bisa jauh dari kamu dan anak anak sayang." lirih Rico, kala berada diatas body Hanum.


"Mas, Hanum juga rindu. Baru sore tadi saat di kampus, Hanum mikiriin mas terus." tangan Hanum masih bergerilya pada tutup botol milik Rico.


"Benarkah ini namanya sehati, lagi pula ada Erwin. Mas minta dia yang handle sisanya."


"Mas, ada yang bukan rindu dari Hanum, tapi Hanum rasa, Jaguar mas yang lebih berat kan?" gelak Hanum.


"Hahaha, true! dia dan mas yang sangat membutuhkan kamu sayang, Hah! andai anak anak bisa ditinggal, tapi mas ga tega kalau kita meninggalkannya."


"Ide bagus, gimana satu hari kita honeymoon?"


Rico mengangguk, guna memikirkan ide sang istri. Sehingga kali ini, tatapan Rico semakin turun dan membawa Hanum ke dalam ketenangan surga nikmatnya dunia.


Hingga beberapa saat, mereka sudah saling bercerita. Di mulai Rico yang menanyakan kabar Hanum dan anak anak, Hanum juga memperlihatkan sebuah pesan, nomor panggilan dari Alfa, tapi tak ia gubris. Rico menelan saliva, ia mengecup kening Hanum untuk tidak memikirkannya.


"Mas kamu tahu, aku begitu kesal ketika melihat Alfa. Mas kenapa belum sampai dan dapat untuk membuktikan Alfa bersalah?"


"Hanum sayang, kita tak bisa membuat dendam dengan dendam. Lagi pula, mas tidak lupa semua perbuatan mereka. Hanya saja, mas tidak kehilanganmu saja sudah sangat berarti. Urusan ini, biar mas handle ya!"


Perkataan Rico membuat Hanum terdiam, kali ini ia tidak salah. Mencintai seorang pria yang sangat lapang seperti mas Rico adalah anugerah. Meski kesal ia terhadap masa lalu, tapi mas Rico melupakan dan meminta Hanum untuk move on dari kesedihan. Hal itu membuat Hanum semakin memeluk erat sang suami.


Hanum ingat saat mereka masuk kedalam kamar, terlihat mas Rico membersihkan diri dan masuk kedalam kamar, ada hal yang membuat Rico kembali membuncah pikirannya, ia memeluk Hanum dari belakang.


Dengan sadar, ia segera membalik tubuh Hanum dan saling menatap. Ada hal kerinduan, meski hanya beberapa jam ia tak melihat Hanum. Bagi Rico adalah rasa tak karuan dan tak konsen.


"Sayang, kelak jika bayi kita besar. Dampingi mas di kantor, kamu cukup melihat mas saja!'


"Mas, tapi apa pendapat orang dan bawahan mas nanti?" senyum Hanum.


"Jangan pikirkan orang lain, terutama ini!"


Hanum tersipu, kala suaminya menggesek indah dan meraba tangannya mulai bergrilya keseluruh pemilik Hanum. Dengan tarikan dan hentakan tangan Rico, piyama itu telah membuka lagi dan membulat sempurna. Hingga kala mereka mulai melakukan pemanasanan syahdu kedua. Tangisan dari kamar sebelah membuat pikiran dan suasana buyar.


"Mas, aku harus melihatnya. Aku tidak bisa tenang!"


Rico hanya menghela nafas, ia mengambil sarung untuk menutupi bagian bawah. Hingga memakai atasan singlet putih tanpa lengan. Menatap Hanum yang kembali memunguti piyamanya. Lalu dengan kala membersihkan, mereka berlalu ke kamar sebelah.


Hanum kini tepat berada di kamar baby Ghani, meski ia rindu akan bayinya di rumah. Tapi papa Mark tidur dengan Leo, dan Mama Rita tidur bersama baby Ghina dan Azri yang selalu standbay di sana menjaga bergantian.


Hingga di mana Hanum menatap sendu kala Ghani telah berhenti menangis. Ada sesuatu yang masuk ke dalam pemiliknya kala ia menoleh.


"Mas, ini kamar bayi?"


"Mas sudah kunci, agar kamu tenang. Kita bermain di bathroom saja, lagi pula tidak jauh dengan ranjang Ghani sayang!"


Hanum hanya menutup wajahnya, entah mengapa keperkasaan Rico semakin saja meminta terus tanpa waktu. Atau ia sengaja agar aku tidak mengontrol bisnis busanaku karena ajakan dan permintaannya tanpa waktu. Hanum sulit berbicara kala mas Rico telah meraup seluruh body dan bibirnya yang telah basah.


Dan tanpa sadar, setelah mereka lelah. Hanum membawa bayi Ghani ke kamarnya, dan tidur satu ranjang dengan penutup tirai bayi.


***


PESAN KEMBALI HADIR.


Hanum yang telah bangun lebih awal, hari ahad sangatlah membuat Hanum santai. Terlihat mas Rico tertidur lelap, kala ia telah bangun shubuh tadi untuk beribadah dan membawa Ghani ke kamar bayi, serta pengasuhnya kembali menjaga.


"Sus, ajak anak anak ya! Ghani udah mandi, tinggal kasih susu aja!"


"Baik bu."


Tak lama Hanum melihat satu koran surat kabar, ia selalu melihat dapatkan di depan teras. Dengan perlahan ia membuka halaman ketiga, yang isinya adalah berita tragis wanita di dalam villa.


'Berita terkini, satu wanita dengan wajah hancur dan bagian intinya retak, terlihat memar dan pukulan kiri membengkak, tanpa identitas. Hanya saja korban memiliki sebuah tato di tangan kirinya bertulisan 4del14. Masih dalam penanganan polisi, identitas akan segera di temukan dan pelaku akan dijerat pasal berlapis adanya tindakan pembunuhan berencana.'


"Astagfirullah aladzim. Kenapa tas dan tatonya mirip seperti Adelia, mas Rico harus tahu. Jangan bilang, soal ancaman Alfa yang dibilang beberapa waktu lalu, dia memang benar melakukannya." syok Hanum.


Hanum segera naik ke atas tangga menuju kamar, sehingga melupakan tatapan papa Mark, Mama Rita yang terlihat bermain dengan cucu mereka.


"Mas, ada berita .." terdiam Hanum, kala di kamar. Leo dan mas Rico sedang bermain jari kelingking dan sebuah permainan ular tangga.


"Bunda. Kenapa teriak teriak?" tanya Leo.


"Sayang, mau ikutan. Kenapa kamu lari lari, ada apa sayang. Kamu bawa koran lagi?" tanya Rico.


Hanum tak ingin mengatakan di depan Leo, ia takut jika itu benar benar Adelia. Hanum senyum menepis, jika ia hanya kagum melihat anak dan ayah sedang kompak bermain.


"Bunda boleh ikutan?"


"Boleh dong. Bunda jadi saksi siapa yang menang dan kalah."


"Wwwuah! hebatnya anak bunda dan papa." lirih Hanum dan Rico bersamaan.


Tbc.