BAD WIFE

BAD WIFE
SAHABAT TERASA ASING



Hanum tak percaya, baginya ia berada dalam lingkaran hati yang usang. Setelah Hanum menghubungi Fawaz dan mengirim pesan, jika ia telah akan kembali pulang. Tak lupa Fawaz berterimakasih melalui sambungan telepon.


Namun sadar keingintauan dengan buku biru tujuh tahun silam. Hanum kembali membuka laci kedua yang tertumpuk paling bawah dan terlihat fotonya saat itu bersama Fawaz dan gengs lainnya.


Hanum membaca lembaran demi lembaran hobi Fawaz, adalah impian menjadi dokter juga harus memilih cintanya yang terpendam dengan seseorang.


'Jika aku memilih impianku dan tidak membalas mencintaimu, bukan berarti aku melupakan dan membuang cinta ini untukmu Hanum. Semoga kamu mengerti setelah membaca surat terakhirku. Aku ingin mengejar impian untuk bisa membeli istana kita nanti.'


Lembaran demi lembaran Hanum baca, andai saja ia lebih tau dari awal. Mungkin menyusul dan selalu dekat dengan Fawaz adalah impian terbesar dirinya saat ini. Tapi sudah jadi bubur, ia sudah bekas orang lain. Sulit bagi Hanum menerima dirinya yang telah menjadi milik orang lain dan itu akan tidak adil bagi Fawaz.


'Sekalipun aku bercerai, aku tidak mungkin kembali padamu Fawaz. Melanjutkan kisah romansa kita yang tertunda? Mustahil! Kamu pantas mendapatkan gadis dan wanita terbaik dariku. Ini hanya masa lalu usang yang belum kelar, kita ditakdirkan hanya untuk saling mengagumi."


Batin Hanum yang masih saja menetes air mata, membaca lembaran ungkapan kasih sayangnya Fawaz yang menjaganya, lebih dari seorang sahabat. Sayangnya Hanum terlambat menyadari, yang ia pikir saat itu Fawaz menyukai seseorang dan tetap menganggap dirinya sahabat saja.


Tak sadar ia cukup terkejut karna membaca momen buku Fawaz lebih dari tiga jam. Hal itu terasa ketika Hanum lapar, perutnya seketika keroncongan. Padahal dalam perjalanan ia telah makan, tapi ia lupa dengan rujak. Hanum senyum mengganjalnya dengan buah petis yang ia buat beberapa saat. Juga mengabaikan panggilan dari Alfa yang terus saja mengganggu.


Hanum kembali ingin keluar, namun saat pintu terbuka menuju pulang. Hanum tertegun dan mendiamkan suapan terakhir rujaknya. Menatap seseorang yang baru saja tiba.


"Kamu sudah kembali, katanya masih di..?"


"Hanum, kamu masih disini kebetulan. Masuklah, aku juga bawa hadiah buat kamu! Aku lebih awal pulang ternyata. Berkas itu sudah ketemu, ada dibalik jas aku. Ponsel khusus kerjaan aku pikir tertinggal. Memang Mawar ga bilang?"


Hanum kembali masuk, lalu Fawaz mengambil petis rujaknya dan melahapnya. "Cukup pintar membawa cemilan, sulit sekali aku mencari rujak hasil tanganmu Hanum." senyumnya.


"Kamu bisa ambil di tuperware ini Fawaz. Itu bekas gigitanku!"


"Aku tidak jijik, aah ya! kamu mau tunggu disini, atau di cafe bawah?"


"Aku tunggu dibawah aja. Ga baik kita di sini kan? selagi statusku. Aku rasa kita ga pantas berduaan."


"Ok! good. Janji jangan dulu pulang ya!" senyum Fawaz menepuk pipi Hanum dengan lembut. Hal itu juga membuat Hanum membalikan tubuhnya, ia turun keluar dari apartemen Fawaz. Senyum menyentuh pipinya yang tadi tersentuh tangan Fawaz.


'Ya ampun! sadar Hanum, itu hanya masa lalu usang. Ingat statusmu, huuuuuuft!' batin Hanum menyadarkan diri.


BERBEDA HAL DENGAN ALFA.


"Darling! kamu dimana sih?" irene menghubungi lewat ponselnya.


"Sayang! aku ada urusan, tunggu aku di apartemenmu ya! papaku meminta aku mencari Hanum karna ada sesuatu. Bersabarlah!" Alfa menutup panggilan telepon dari Irene.


Siaal! alamat cafe ini. *B*ukannya milik dia. Syok Alfa kala sadar Fawaz adalah anak dari seorang Ardan Jhonson. Yakni anak dari kaka sang papa yang telah tiada.


***


Hanum kembali berhadapan dengan Fawaz. Ia kini berada di rumah makan padang. Ini adalah kebiasaan favorite makanan Hanum. Sehingga kali ini ia tersenyum menatap Fawaz yang tak berkedip melihatnya.


"Faw, udahlah. Wanita yang kamu tatap ini istri orang loh. Hentikan!"


"Aku tau, aku tidak pantas. Dan aku tau aku telah mengajakmu makanan yang kamu hindari saat ini. Tapi jika dia pria baik, dia pasti akan menerimamu apapun itu!"


Hanum terdiam, ia mengelap tisue pada bibirnya. Karna mereka saat ini makan siang bersama. Lalu Fawaz memberikan liontin lencana bros mutiara kecil dengan motif buruk merak.


"Apa ini, bagus banget. Buruk merak, kamu masih ingat Faw?"


"Heuuumph! sebuah keindahan yang tersembunyi tak banyak orang tau. Termasuk wanita di depanku ini."


Hanum lagi lagi menggeleng, tak tahan selalu mendapat pujian. Hingga tak tahan, Hanum mematikan ponselnya. Sebal karna Alfa terus saja meneleponnya. Jujur saja Hanum tak angkat karna masih sebal pada Alfa saat ini.


"Ga diangkat?" tanya Fawaz, dan Hanum menggeleng.


"Aah! kita sahabat, tapi karna statusku. Aku bingung Faw," ungkap Hanum menarik nafas yang berat.


"Han, selama tujuh tahun aku berdoa. Setiap shalat aku berdoa agar kamu jadi jodohku. Sekarang aku mati matian berdoa, agar bisa melepaskanmu dengan ikhlas. Tapi aku tak mau menyerah! akhirilah dirimu dengan pria yang terus menyakitimu!"


"Fawaz. Cintamu terlalu besar, apa aku pantas untukmu. Aku bukanlah wanita terbaik yang diciptakan pencipta. Sangat tidak adil dengan diriku jauh dari kata sempurna.


"Han, tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan. Dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing masing akan berada pada garis edarnya! tapi aku yakin kamu di ciptakan untukku."


Kata kata Fawaz membuat Hanum bersedih, rasa haru mutiara indah yang tuhan ciptakan. Kenapa harus ia terlambat dan berjarak bagai orang asing saat ini.


"Katakan padaku, maukah kamu berjuang. Aku tetap akan menunggumu Hanum!" lirih Fawaz.


"Tidak! itu tidak akan terjadi. Bukan siapa yang datang lebih awal. Tapi siapa yang sanggup bertahan hingga akhir!" lirih seorang pria dari punggung Hanum.


Hanum menoleh, dan itu adalah Alfa yang datang membuat tatapan pada Fawaz, dan dua pria itu saling bertautan mata dengan tajam.


"Hanum, jaga sikapmu. Kamu saat ini menjadi istriku. Kita harus pergi, banyak keluarga ingin bertemu!"


Heey!!


"Alfa ..! tunggu jangan kasar, aku bisa jalan tanpa di papah!" kesal Hanum lalu melirik Fawaz ikut berdiri. Hanum meminta Fawaz tidak menghalanginya hanya dengan kode mata dan hati mereka.


'Walau beribu batu menghalang, jika kita berjodoh pasti akan bersatu Fawaz.' batin Hanum menutup matanya.


Sementara Fawaz kesal, karna saat ini ia tidak menghentikan Hanum yang ikut pergi dengan Alfa.


To Be Continue!!