BAD WIFE

BAD WIFE
DEJAVU HANUM



Pagi ini Hanum dan Rico berada di swalayan, tak lama Rico mendapat telepon dari seseorang, entah kenapa meski berat dan ragu meninggalkan Hanum. Hanum meyakini ia tidak apa di tinggal.


"Mas, ini kasir. Hanum nyusul, mas angkat aja teleponnya!"


"Sayang tunggu sebentar ya! mas akan kembali membawa barang barang ini! jangan bawa barang ini sendirian." senyum Rico.


"Iya mas."


Hanum berbelanja, memang saat ini Rico menemaninya sesaat ia belum pergi meeting, sarapan bersama di luar demi meluangkan time berduaan meski sebentar. Semakin banyak rutinitas anak anak, hingga Hanum dan Rico menyempatkan meski sebentar setiap hari.


Hanum yang menunggu sudah tiga puluh menit, ia terpaksa membawa trolly menuju parkir, karena ia pikir mas Rico sudah ada di sana, maksud Hanum ya agar tidak terlambat juga mas Rico jika harus menghampiri Hanum ke kasir.


SREET!


Mata Hanum terbelalak ketika kemejanya dirobek paksa. Dia tercengang saat melihat pria yang sedang menahannya mulai melepaskan ikat pinggang. Tanpa basa-basi, pria itu akan membuka ritsleting celana dan meletakkan tubuhnya di antara kaki Hanum. Pria itu merogoh rok hitam Hanum lalu menarik kain segitiga yang menutupi kewanitaannya.


“Apa yang akan kamu lakukan?!” pekik Hanum. Ia terus meronta, tapi pria di depannya itu pun semakin mengeluarkan seluruh kekuatannya, karena Hanum mengenakan span full sehingga sulit dibuka.


“Aku ingin mencicipi tubuhmu, Cantik,” ujar pria itu penuh kegilaan.


“Jangan! Lepaskan saya!” jerit Hanum dari kursi belakang mobil mewah tipe minibus berwarna hitam yang terparkir.


Kedua kaki Hanum tidak bisa bergerak bebas bahkan untuk menendang sekalipun. Kedua tangan Hanum yang bebas berusaha melawan sambil mempertahankan pakaiannya tetap melekat di tubuhnya. Manik mata almond milik Hanum menatap ngeri pada wajah pria yang dia lihat saat ini, seolah ia adalah pria mirip seperti Alfa dahulu di kamar 501, jelas pria itu adalah pria yang Hanum tolong sebelum berbelanja. Kalau balasan untuk sikap murah hatinya tadi adalah perlakuan menjijikkan seperti ini, Hanum akan berpikir dua kali untuk melakukannya.


Dalam benak Hanum sama sekali tidak menyangka kalau dirinya akan berakhir di dalam sebuah mobil mewah setelah membantu seorang pria yang sedang kesusahan. Hanum bahkan tidak mengenalnya sama sekali karena mereka belum sempat bertukar nama tadi. Hanya rasa kemanusiaan yang mendorong Hanum untuk membantu ketika melihat seseorang terjatuh di pinggir jalan dan Hanum berniat tulus untuk membantunya.


Apa salahnya membantu sesama manusia? Hanum bukannya mau hitung hitungan ketika dirinya menolong orang lain. Setiap orang yang pernah ditolong Hanum, baik dengan sedikit uang atau tenaga, tidak pernah memperlakukannya dengan buruk seperti yang pria ini lakukan saat ini. Hanum tidak pernah menerima perlakuan yang kurang ajar selama hidupnya.


Kedua tangan Hanum terus memukul mukul bagian tubuh pria itu berharap bisa melumpuhkannya lewat pukulan pukulan tangannya. Pria kekar itu tidak terganggu sama sekali dengan pukulan dari tangan Hanum. Telapak tangan Hanum yang terus memukul wajah pria itu terasa seperti belaian baginya.


“Menurutlah!” titah pria itu seraya menarik kedua tangan Hanum lalu menahannya diatas kepalanya.


Rico yang mencari keberadaan istrinya, terkejut setelah berkeliling loby parkiran. Melihat banyak plastik tercecer isinya adalah perlengkapan bayi yang ia beli tadi bersama Hanum.


Terlihat jelas, ia melihat kepala wanita muncul, Rico berlari dan terkejut melihat istrinya tarik menarik.


"Hanum." syok Rico, ia segera meraih kemeja punggung pria itu dan memukulnya habis hanisan babak belur.


Hanum yang panik menangis, ia bersyukur kala mas Rico tepat waktu. Hanum segera melepas ikatan tangannya salah satu, sehingga Rico yang terjadi memukul pria itu dengan aksi bekelahi mengundang satpam yang berkeliling di lantai paling atas.


Toloong!! teriakan Hanum.


Dalam beberapa menit pria gila itu digondol ke polisi terdekat, Rico memeluk Hanum dengan erat sangat syok setelah menjelaskan kejadian.


"Mas, Hanum takut." lirihnya.


"Untung mas tepat waktu, sekarang kita pulang! mas tidak akan membiarkan seorang pun menyentuhmu sayang! mas pastikan dia akan dipancung! jika bebas dari jeratan, dia tidak tahu berhadapan dengan siapa?" ucap Rico, membuat Hanum menurut meminta maaf karena tidak mendengar perkataan Rico yang diminta menunggunya tadi di kasir.


"Maafin Hanum mas." lirihnya.


"Sehelaipun mas akan selalu melindungimu, maafkan mas karena mas tak membawa pengawal lain, hanya kita berdua saja. Mas lalai menjagamu sayang." peluk Rico di dalam mobil, segera melaju pergi.


"Hanum juga andil bersalah mas, maaf."


"Minumlah sayang! kita pulang, ini pelajaran bagi mas untuk tetap menaruh pengawal kemanapun kita pergi."


"Mas, lihat itu?" ucap Hanum dengan tegang.


Tbc.