BAD WIFE

BAD WIFE
GEDUNG PARALAND



"Lisa dan Fawaz mau datang, mereka menunggu kita di bukit paraland. Kamu bersiap ya!"


"Ya, mas. Aku bersiap dulu, tumben kak Lisa ga bilang kalau mau datang. Tapi kalau dia ke desa Arga, udah pasti bakal heboh dan bilang ke mama."


"Mas, minta maaf sayang. Sepertinya kita akan pindah tempat lagi, gimanapun Alfa masih di sekitar kita. Mas ingin dia ga menemukan kita. Mas minta bantuan Fawaz, karena kamu harus ada yang mengawasi."


"Mas aku baik baik aja kok." jelas Hanum.


"Sayang, kandungan kamu rentan. Mas akan menuntut Alfa, dan mas pasti akan jarang di rumah. Kalau mas biarkan kamu sendiri di sini, berapa banyak lagi masalah kecil hingga besar yang harus kamu hadapi sendiri di saat ga ada mas."


Hanum memeluk Rico, ia sangat bersyukur kala mas Rico mengerti ketakutan apa yang terjadi kelak.


"Kamu benar mas, kita sudah seharusnya tidak diam saja."


Kini Hanum sudah duduk diam di dalam mobil, bersama dengan Rico tentunya. Hanum itu sosok yang bersuka riang, tidak menyangka kehidupan di saat sakit, Hanum masih mau menerima dan mendampinginya.


Rico menanyakan lokasi cafe yang ingin didatangi oleh Fawaz saat itu dan membawa istrinya yang terlihat riang bagai anak kecil itu ke sana, dia adalah Lisa.


"Ini kan, cafe yang mau kamu datangi?" tanya Rico saat mereka telah sampai di sana. Hanum mengangguk antusias.


"Benar mas, aku pernah ingin datangi tempat ini." terkesan karena bangunan yang indah dan membuat nyaman pengunjung.


Cepat cepat ia masuk dan duduk di salah satu meja dekat jendela. Pandangan matanya sarat dengan aura nostalgia. Hanya saja, Rico menangkap setitik gurat kesedihan di sana.


Rico menepis rasa ibanya. Dia sama sekali tidak berniat untuk mengorek informasi tentang masa lalu Hanum yang sudah jelas tak bahagia itu. Rico juga tak punya rencana lain.


"Ini menunya, silahkan pilih mana yang kamu mau," ucap Rico seraya mengulurkan selembar menu yang diambilnya dari meja pelayanan saat mereka masuk tadi.


Kedua mata Hanum tampak berbinar binar. Rico harus setengah mati menepis rasa bahwa aura bahagia Hanum ini membuatnya semakin mempesona.


"Aku mau makan ini! tapi mas, gimana kita membayarnya? aku pesan teh manis aja." seru Hanum seraya menunjuk ke arah menu super combo kue red velvet dan cheese cake yang berukuran jumbo. Tapi ingat jika Rico kritis keuangan. Ga jadi deh mas." sendu.


"Ga apa sayang, Kamu yakin ga mau makan, mas yang pilih aja ya, yang tadi kamu mau ya?" tanya Rico tak percaya.


"Iya, udah aku pesan ini!" jawab Hanum pasti.


Rico melengos menuju ke counter dan memesan pesanan Hanum yang menurutnya absurd itu. Baru kali ini ada perempuan yang memesan menu berkalori tinggi. Seingat Rico, semua teman kencannya dulu selalu memesan menu dengan porsi paling kecil jika mendatangi Cafe yang menjual Dessert seperti ini.


Ternyata Hanum memang tidak main main. Saat pesanannya datang, wanita itu memakan menu ukuran jumbonya itu dengan lahap. Seperti ada dendam kesumat antara Hanum dan seporsi kue jumbo itu. Atau ini keinginan bayi mereka di dalam perut.


"Pelan pelan makannya, mulutmu cemong semua. Malu kalau dilihat orang," ujar Rico yang tanpa sadar secara refleks membersihkan pinggiran mulut Hanum dengan tisu.


"Cobain deh, ini lezat sekali," ujar Hanum seraya memejamkan matanya dengan gemas.


Rico hanya bertopang dagu dengan sebelah tangannya sembari mengawasi tingkah istrinya yang seperti balita raksasa ini.


"Kamu tau nggak, Mas ...."


"Nggak tau," Rico memotong ucapan Hanum.


"Ikh, dengerin dulu. Main potong aja." Hanum menukas kesal.


"Dulu, kalau Lisa ulang tahun, Ayah pasti mengajaknya ke Cafe ini. Aku juga diajak, tapi aku nggak pernah dibolehin pesan menu yang aku mau." Hanum mulai bercerita.


"Loh, aku pikir ini tempat kamu sama Alfa."


"Oh, ya udah maaf. Lalu gimana ..?"


"Biasanya, aku cuma boleh makan menu yang nggak habis dimakan Lisa," sambung Hanum pelan.


"Huaaahm ...." Rico menguap bosan, menunggu Fawaz lama.


Hanum yang melihat sikap suaminya yang sepertinya tak mau mendengarkan ceritanya itu akhirnya mengganti topik pembicaraan.


"Mas, tadi katamu kamu akan menemaniku jalan jalan, maksudmu, kita bisa bepergian ke banyak tempat, di desa ini kan? Nggak cuma Cafe ini aja kan?" tanya Hanum mengkonfirmasi.


"Ya, memangnya kamu mau pergi ke mana lagi selain ke sini?" tanya Rico sambil mencicipi es krim jumbo milik Hanum itu.


"Aku mau ke Ancol, aku mau ke mall, dan ke ...." Langsung saja Rico memutus ucapan Hanum


"Cukup, nanti katakan saja tujuanmu satu persatu, aku akan mengantarmu ke sana. Setelah kedatangan Lisa dan Fawaz."


"Benarkah?" Mata Hanum mengerjap lucu.


"Iya, kau boleh pergi ke mana pun asal bersama denganku."


"Baiklah, aku tidak peduli meskipun harus pergi bersama genderuwo ganteng sepertimu, yang penting aku bisa jalan jalan," pekik Hanum gembira.


Rico tersedak mendengar ucapan Hanum. Seenaknya saja istrinya itu menyamakan dirinya yang begitu tampan dengan makhluk halus buruk rupa seperti itu.


 


"Aku bercanda mas." senyum Hanum.


Karena saat ini Hanum, sudah lama sekali tidak humor, kepelikan dirinya soal ekonomi. Membuat mas Rico sering menjadi pencuci piring diam diam, bahkan berkerumun dengan petani tanpa malu.


"Mas, lihat itu ..!"


Tbc.


Maaf ya!


Author lagi ada pesanan keripik ratusan pcs. Jadi agak delay nulis Hanum, tapi pasti Up tiap hari. Tunggu reveiw lanjutannya ya setelah ini.


Mampir karya new :


# Dady Si Kembar


# Behind The Queen


TAP LOVE!


TIAP AWAL BULAN AUTHOR MAU PILIH RANDOM, ADAIN GIVE AWAY PULSA, 50K UNTUK 6 ORANG, YANG MENANG BAKAL DI INBOX, FOLLOW YA!


ISENG ISENG AJA, KARNA UDAH DUKUNG HANUM.


Caranya Like, terus dan kasih hadiah atau vote setiap senin ya! 😘 ke karya New juga boleh.