
Toook ... Tooook.
"Non. Tolong buka Non! Ada telepon,"
Lisa yang baru saja ingin memejamkan mata. Terpaksa bangun dan membuka pintu kamar dengan segera.
"Bibi. Ada apa, semalam ini?"
"Maaf ya. Nyah, eeekh .. Non. Aduuh apa yah .. jadi bingung." menatap lesu.
"Udah bi Inah mau bicara apa. Aku gak apa apa. Berita buruk atau baik, aku pasti legowo!"
Bi Inah tersenyum, andai saja di rumah ada Nyonya besar. Mungkin suasana rumah tak semenakutkan seperti saat ini yang terasa hampa dan tak bersahabat selalu serba salah. Biasa bi inah selalu bertukar cerita pada bu Rita.
"Begini.. tadi. Tuan Fawaz meminta nona, Euuuh ... besok siang menemuinya di tempat biasa! Ini bibi udah tulis di kertas,"
"Oowh. Makasih ya bi, ini berita baik. Udah lama juga kan. Terus terang sebulan lebih ini, besok ketiga kalinya kan Aku ketemu Mas Fawaz."
Bi Inah sangat sedih. Menatap senyuman tulus Lisa membuat ia teringat sang anak di kampung yang telah berkeluarga juga. Hanya saja karna kondisi, di mana ia harus tetap bertahan bekerja pada keluarga Felicia.
"Kalau gitu berita buruknya apa Bi?"
Lisa menatap wajah bi Inah terlihat kaku dan sedih. Di mana ia jelas tau apa yang ingin di ucapkan sang bibi. Tapi ia tak mau banyak berprasangka buruk dan memikirkan hal aneh.
"Bi .. Ayo cerita!" mengusap punggung bi Inah.
"Anu .. Nyonya besar. Harus melakukan operasi, kata dokter ada hal serius ingin bertemu Tuan atau walinya. Tadi bibi udah kabarin tuan Fawaz, tapi ..,"
"Apaah ... Ya udah bi jangan panik ya! Besok Lisa mampir sebelum berangkat kerja. Dokter Felicia pasti akan melakukan yang terbaik. Mama Riris pasti akan sembuh kok bi. Aku berharap Mama cepat sembuh!"
Anehnya Lisa baru tahu, jika Fawaz mempunyai ibu asuh bernama Riris.
"Amiiin .. mata, ucapan, tulus non Lisa. Sungguh di sayangakan tuan Fawaz menyianyiakan istri briliant seperti non." benak bi Inah.
"Kok bengong bi?" tanya Lisa.
"Gak apa apa! bibi duluan ya."
Di sudut senyuman tipis. Lisa sadar, ia telah berkeluarga dan berubah status. Tapi benar benar ia merasa masih saja kesepian. Meski keadaan berubah jauh dari kata serat akan langkah hidupnya yang tak berarah.
Pagi harinya Lisa ke rumah sakit. Ruangan nomor tujuh kosong satu. Tempat di mana ibu mertua asuh Lisa masih dalam keadaan kritis. Kecelakaan membuat ibu mertua yang baik mengenaskan, papa mertua terkena serangan jantung ketika mengetahui kabar melalui sambungan ponsel.
Hal itu masih penuh tanya, mengapa suaminya Fawaz dulu tak cerita, ia juga masih tak menemukan apa penyebabnya. Jika saja Lisa mempunyai wewenang, mungkin ia ingin mencari tau.
Tapi dengan IQ rendah tak mempunyai skill di bidang detektif, ia hanya menyerahkan pada pihak yang berwajib untuk menyelesaikan misteri itu.
Hanya saja, ia masih bingung kejelasan tak berujung. Lisa hanya berharap ibu asuh mertuanya bisa kembali sembuh seperti semula dan masalah semuanya cepat selesai.
"Mah. Mama cepat sembuh ya, setelah Fawaz pulang. Lisa akan meminta persetujuannya. Mama harus berobat ke rumah sakit rujukan terbaik. Lisa sedih lihat kondisi mama, tetap bertahan dan semangat ya Mah. Lisa janji bakal nemenin Mama sampai kapanpun. Apapun keadaannya, Lisa selalu anggap Mama seperti ibu sendiri!"
Lisa bercerita pada Bu Riris bunda asuh Fawaz. Ia tak pernah mendapat kasih sayang begitu baik sebelumnya, sesaat ia yang berjualan majalah dan merangkap pegawai minimarket.
Dulu, ia berusaha mengejar jambret. Yang notabane di kenal kala itu sering berhilir di tempat mencari korban di gang tak jauh ia pulang bekerja. Belum lagi sakit hatinya dahulu pada kekasihnya dahulu, dan mobilnya tertabrak oleh Fawaz.
Bermodal keberanian, Lisa berlari dan kilat keberuntungan memihak. Ia berteriak segerombol warga datang. Untungnya lagi ia bisa mengenal bu Riris dan mendiang suaminya.
Hal itu pun membuat Lisa jatuh cinta pada Fawaz sekian lama mereka sering bertemu. Fawaz yang dingin, ia bisa sepatah dua kata tersenyum dan bicara padanya. Bisa manis saat sedang berdua.
Ciiiiieh .. hal begitu saja aku bisa hanyut dan berkata Fawaz tipe suami idaman dan setia. Meski aku sadar dia selalu sibuk dan gila kerja.
"Eeekh .. tunggu. Kenapa senyum kaya gitu kamu Lisa?" tanya Sinta.
Lisa terkejut kedatangan Sinta tak jauh. Ia duduk di samping meja kerjanya. Lalu kembali dengan gaya kepo ketika dirinya menggeleng.
"Sin, kamu nih ya. Aku cuma lagi inget masa awal pertemuan aku aja sama suami aku. Tapi ... "
"Eeekh kok tapi.. kenapa Lis?" serius Sinta.
"Mas Fawaz minta aku datang tadi pagi. Tapi pas aku datang, aku terlambat dia diemin aku dan ga natap aku langsung pergi ninggalin. Padahal aku mau ijin buat mindahin bu Riris Sin. Aku harus apa Sinta. Huuuuuhuuuu .. ?"
Sinta menatap dan memeluk Lisa yang tiba saja mellow. Ia meminta Lisa untuk tegar, untuk rileks. Ia tau jika Lisa menyayangi bu Riris yang kini menjadi mamah mertuanya juga.
Karna Sinta pernah mengenal beberapa kali bertemu, saat perjamuan akhir tahun. Hanya saja ia tak mengenal sosok Fawaz.
"Cccccuuup ... Ya. Kamu ga boleh nangis lah lisa. Aku tau, tapi kamu coba buat ketemu lagi nanti jam makan siang. Bertemu Mas kamu, bawain makanan dan ... Mmmm apa ya? Kartu ucapan maaf gitu!"
"Heuuuumph ... ide kamu Sin. Good banget, Mmmmuaaaach .. lope .. lope deh. Makasih Ya Sin."
Sinta melirik senyum dan menutup mata, kembali membuka mata dengan wajah sok dan sombong. Mirip wanita yang cerdas mempunyai ide briliant yang tak di miliki sahabatnya itu.
DI RUMAH SAKIT.
"Fawaz. Kamu yakin ga mau aku temani?"
"Nestia Udah kamu kembali pulang, nanti malam aku pulang sebentar. Aku bakal pulang kerumah istriku tersayang ini kok. Jadi jangan cereweet ya!" titah Fawaz.
"Oke. See you Honey ... Mmmmmuaaach. Good Luck, semangat ya!" Kecup Nestia.
"Pasti. Hati hati ya. Kabari aku kalau udah sampai rumah!" pinta Fawaz. Entah kenapa pertemuan dirinya dengan Nestia membuat ia lupa pada sosok Lisa istrinya.
Lisa yang baru tiba di lantai Ground. Ia memencet tombol lift dan menunggu tombol merah berubah hijau. Pertanda ia cepat segera masuk dan tak sabar keruangan di mana ia harus bertemu janji pada suaminya.
Tliiiing .. Suara pintu Lift.
Lisa masuk, membalikan tubuhnya dan menatap seseorang yang berjalan lurus melirik menatapnya dengan alis menyamping. Lisa yang berdiri di tengah lift hanya bisa kembali menatap dengan senyum, hingga pintu Lift tertutup. Tapi wanita itu masih menatap seperti tak suka padanya.
"Haaaah .. kenapa wanita glamour itu menatap aku kaya tadi ya?" berpikir lola Lisa kala itu.
Dengan sebuah rantang spesial. Lisa menunggu di ruangan lantai tujuh belas. Ia meminta bagian dapur umum membuka ruangan private yang biasa digunakan Fawaz jika ingin menemuinya.
"Silahkan duduk Bu! Pak Fawaz akan segera datang, ia sedang bertemu klien .. Tapi,"
"Terimakasih .. tidak apa apa. Saya bisa menunggu kok." balas Lisa yang sudah tau jawaban apa, entah kenapa Fawaz makin hari makin aneh.
Fawaz bergegas mengambil jasnya. Ia ingin sekali tiba di rumah menemui Nestia. Tapi dengan pakaian yang tak fresh. Ia harus bergegas pulang kerumah orangtuanya. Untuk mengambilnya dan membawa sebagian bajunya untuk tinggal bersama Nestia kekasih hatinya itu tentunya.
"Pak. Maaf saya lancang, tapi Bu Lisa telah menunggu!"
"Apa Lisa. Ooowh .. hampir saja lupa. Oke, terimakasih Retna."
Fawaz segera menemui ruangan berpintu kaca hitam. Dengan kode jari dirinya dan Lisa, ia bisa masuk dan saling bertemu untuk mengungkap pertemuan secara rahasia. Jika Lisa adalah istrinya.
"Mas. Kamu sudah datang, maaf aku menganggu waktu di jam siangmu. Aku juga tadi ijin sebentar, aku hanya mau antar ini." memberikan sesuatu.
Senyum Lisa. Tatapan Fawaz terkejut saat Lisa mencium tangannya. Ia memang istri sahnya, tapi Fawaz entah kenapa sedikit beku menatap Lisa.
"Ya sudah. Kembalilah pulang, aku ada hal pertemuan penting. Jaga diri kamu baik baik!"
"Mas, aku baru sampai loh. Eh, baiklah aku akan pulang. Selamat bertugas ya mas." senyum Lisa, menyembunyikan rasa kecewa pada Fawaz yang kini semakin menghindar.
Tbc.
Nih, aku kasih rekomend lagi novel temen litersi Author! tunggu spill Lisa ya. Jangan bosen nanti juga bakal ada Hanum yang lagi bahagia.