BAD WIFE

BAD WIFE
UTAMAKAN BAHAGIA



Byur!


Suara air kolam renang terpecah saat Adelia tercebur ke sana.


"Arrgghh!"


Adelia yang tidak siap benar benar tidak sempat mengatur napasnya, sampai ia bergerak panik bahkan menelan air cukup banyak.


"Uhuk... uhuk..." Adelia terus terbatuk saat akhirnya ia berhasil mengeluarkan kepalanya dari dalam air, dan ia pun langsung menyeka wajahnya.


"Alfa! Beraninya kau melakukan ini padaku?" pekik Adelia begitu kesal.


Tapi Alfa hanya menyeringai sambil tetap berdiri di posisinya. "Ini baru permulaan, Adelia! Kalau kau membuat keributan lagi, aku bisa bertindak lebih jauh daripada ini!" ancam Alfa sambil menatap Adelia berapi api.


Adelia sendiri pun menatap Alfa dengan tatapan penuh amarah, sementara Erik tersenyum penuh kemenangan melihatnya. Betapa kesalnya ia juga melihat wanita bernama Adelia, wanita si pengacau di dalam keluarga, ia selalu jadi benalu dan jadi biang masalah.


Dengan penuh percaya diri, Erik mendekati Alfa dan langsung berkata dengan pria itu.


"Terima kasih sudah membelaku, Alfa..."


Alfa yang mendengarnya pun langsung melirik Erik, dan menghentakkan lengannya terlepas dari tatapan mereka yang salah paham, alhasil Alfa melakukan itu karena tahu jika Adelia ingin menguras harta milik sang mama yang telah tiada.


"Siapa yang membelamu, Erik? Aku melakukannya untuk diriku sendiri dan jangan bersikap seolah kita saling membela, posisimu bawahanku! aku tidak peduli masalahmu dengan dia."


Erik yang mendengarnya hanya mengerjapkan matanya dan mendesah kesal, sebelum ia ikut masuk ke dalam rumah, meninggalkan Adelia yang tidak berhenti mengumpat kesal.


"Aakkhh, sialan, Alfa!" geram Adelia kesal.


Adelia pun tetap terus mengumpat, saat ia terpaksa harus mandi lagi sebelum berangkat ke kantor.


Sementara Alfa sendiri juga sedang bersiap di kamarnya, dan memakai setelan formalnya.


Setelah tiga bulan tinggal di rumah ini dan melihat bagaimana keributan yang terjadi, rasanya Alfa sudah tidak bisa tinggal diam lagi. Terlebih sang papa yakni ayah Jhoni membuat ia gila, menikah lagi tanpa putra semata wayangnya tahu. Dan bodohnya lagi sudah sejak lama Jhoni menduakan sang mama yang sering sakit sakitan. Hal itu membuat Alfa stres berat kala di tinggal mama.


'Mah, aku akan akan rampas milik mama. Akan aku jadikan jariyah untuk mama, atas nama mama. Tak seorang pun yang bisa mengambilnya sepeserpun, meski itu Jhoni. Aku akan melawannya.' batin Alfa, yang memakai dasi lewat cermin


Apalagi mendengar percakapan tadi pagi tentang gaji direksi yang dipotong. Alfa masih tidak bisa memikirkan banyak hal disaat ia setengah tidak waras, ia kembali dilayangkan dengan banyak masalah. Bersyukurnya ia bisa kembali dan menormalkan hidup lebih baik, Alfa juga menyesal perbuatan masa lalunya membuat ia banyak pelajaran hidup. Hanum dan Rico sudah bahagia, dan hal itu juga membuat Alfa ingin hidup normal dan memulai kebahagiaan yang ia utamakan.


"****! Aku tidak percaya wanita itu sudah melangkah sejauh ini sampai memotong gaji direksi! Untuk apa lagi dia melakukannya kalau bukan untuk dimasukkan ke kantongnya sendiri! Dasar wanita bre-ngs-ek!"


"Aku tidak akan puas hanya dengan memberimu pelajaran seperti tadi, Adelia! Lihat saja, aku akan mengambil hakku dan menyingkirkanmu dari perusahaan!" ucap Alfa lagi dengan penuh rencana.


Hari sudah mulai siang saat Adelia tiba di Jhonson Group, sebuah perusahaan raksasa yang bergerak di bidang kesehatan dan kecantikan, perusahaan yang sudah delapan bulan ini "terpaksa" menjadi tempatnya bekerja.


Beberapa karyawan yang melihatnya langsung menunduk memberi salam, dan Adelia membalasnya dengan tersenyum ramah sebelum ia melangkah ke ruang kerjanya sendiri, ruangan direktur utama yang dulunya ditempati oleh Jhoni. Apalagi seperginya Alfa gila, Adelia sangat bahagia ketika terlempar dari keluarga Mark. Tapi ia harus kembali menyingkirkan Alfa demi kebahagiaannya tidak musnah begitu saja.


Saat itu Alfa sudah melajukan mobilnya, hingga dimana ia berhenti kala sebuah lampu merah tiba, membuat ia berhenti sebentar. Alfa yang penat, ia menoleh ke arah kanan. Tanpa sadar ia menatap wajah yang membuatnya malu menampakan diri.


Alfa melihat Hanum yang terlihat manis tertawa dengan bayinya, terlihat juga mama Rita di dalam mobil ikut menggendong disamping Hanum. Tapi saat ia ingin menatap jelas, lampu sudah berubah dan mobil yang Hanum tumpangi sudah melaju lebih dulu.


Tiiin! Tiiin!


"Andai saja aku tidak menyianyiakan kesempatan emas. Mungkin saat ini bukan Rico yang bahagia bersamamu Hanum. Mungkin karena pertemuan, perjodohan kita yang tidak sama sama di ridhoi dan terpaksa. Sehingga kamu mendapat kebahagiaan di tangan pria yang tepat. Aku turut bahagia melihatmu bahagia Hanum."


***


Sore Harinya, Hanum menyempatkan ke market marco bersama baby Ghani tanpa pengasuh, karena saat itu mama dan pengasuh lain dan anak anak lainnya langsung pulang setelah imunisasi. Tapi Hanum menyempatkan diri menemui Rico.


"Dah! mama hati hati ya, sama anak anak! Hanum menyusul pulang."


"Kamu juga baik baik Han! memang kamu yakin ga mama suruh pengasuh Ghani ikut kamu?" tanya mama dalam mobil alphard.


"Ga mama, pengasuh Ghani kan mau persiapan pulang kampung, mamanya sakit. Insyallah Hanum bisa kok. Mama hati hati ya! mbak semua titip anak anak. Pak supir titip semua, jangan ngebut ya pak!"


"Enggeh bu! baik bu Hanum." serentah semua.


Dan sampailah beberapa puluh menit Hanum bertanya pada karyawan yang menyapanya, menghormatinya dengan senyuman gemas pada baby Ghani.


"Bu! pak Rico sedang meeting. Sudah dari tadi sih, ibu Hanum tunggu di ruangannya pak bos aja. Tadi pak bos udah titip pesan." ucap Sasa.


"Ok! terimakasih ya Sha." balas Hanum.


Hingga tepat saat Hanum sudah sampai di ruangan Rico, dengan gendongan bayi dan duduk di depan Hanum. Hal itu sontag membuat seorang pria keluar tepat bersama Rico. Hal itu membuat tatapan Hanum terdiam, sekian lamanya ia tidak seharusnya mendengar, ketika pintu ruangan kerja Rico terbuka sedikit. Dan mau tidak mau Hanum harus menguping perbincangan dua pria di dalam ruangan meeting, sebelum menuju ruangan kebesaran Rico.


"Baiklah, pak Rico. Saya datang kemari hanya ingin memintamu untuk memperingati Adelia. Jika tidak, aku akan berlaku buruk dan meminta Leo sebagai ancaman." ucap Alfa.


"Sudah aku bilang, Adelia bukan adikku. Leo jangan berani kamu ancam, dia anak umur tujuh tahun, dia anakku saat ini. Jangan macam macam, jika kau ingin memperingati Adelia secara keinginanmu. Kelurga Mark, tidak ikut campur. Market Marco tidak ada hubungannya lagi!" ujar Rico.


"Haah! baiklah, demi tidak berurusan denganmu. Aku sudah memberitahumu, setidaknya seorang Rico tidak akan ikut campur dengan urusanku untuk menghabisi Adelia yang berusaha mengambil harta mamaku."


"Pintu keluar dibelakangmu Alfa! jangan lagi tampilkan muka di depanku, keluargaku dan injak market Marco!" ketus Rico dengan tajam, hal itu membuat Alfa pergi dan berlalu.


Sementara saat Alfa membuka pintu, ia menoleh bayi lucu dan seorang wanita yang membuatnya sakit dan iri jika ia ingat. Dulu ia pernah hampir mempunyai seorang anak darinya, tapi kosong karena ulahnya.


"Sayang, sejak kapan disini?" ujar Rico meraih lebih dulu, seolah tatapan Hanum dihalangi oleh Rico, agar tidak melihat Alfa.


"Mas, maaf aku mengejutkanmu. Gimana, mas udah selesai. Kita pulang sekarang?" senyum Hanum.


Mmmuach! tentu sayang! mas udah siapin semuanya, kita pulang sekarang!! mengecup kening Hanum dan menggapai tangan Hanum dengan lembut.


Seolah mereka berlalu lebih dulu, setelah menutup pintu ruangan kerjanya. Rico melupakan Alfa yang ada dibelakangnya, membawaa Hanum dan bayinya pergi.


"Titip market Marco! kalian semua sudah bekerja keras. Terimakasih, jaga kesehatan kalian ya!" sapa Rico pada seluruh karyawan yang mengormatinya.


"Baik pak." serempak senyum bahagia.


Dan Alfa berjalan pelan, sangat iri melihat kebahagiaan Hanum dan Rico saat ini.


Tbc.