BAD WIFE

BAD WIFE
ALFA MEMAKSA



Lisa telah sampai dirumah, hal seperti biasa saat ini Lisa meminta Hanum untuk beristirahat. Ia akan kembali mungkin malam bersama sang mama.


"Han, kamu jangan kemana mana. Kakak mau jemput Mama di rumah eyang!"


"Ya kak! Hanum juga lesu sekali, ga berdaya untuk berjalan."


"Bedrest! jangan buka pintu atau keluar rumah meski duduk di teras."


"Heuuuh, iya kak!"


Beberapa jam kemudian, Alfa membeli seuntai bunga untuk Hanum. Ia akan berjanji pada mamanya untuk membahagiakan Hanum, hal itu juga ia sadari ketika ia telah menuduh Hanum yang bukan bukan.


Maria sang mama, sempat siuman dan berkata jika ia tau dari intel suruhan yakni Elmo. Dan Elmo berkata jika ia juga berhubungan dengan Irene. Hal menyakitkan bagi Alfa adalah dikhianati, berusaha mengejar Hanum untuk meminta maaf dan memperbaiki keadaan hubungannya.


Menjelang sore, Hanum yang sedang makan buah. Ia pikir itu adalah suara ojek online makanan yang ia pesan, karna sedari tadi ia memesan tanpa memasak karna tubuhnya ga bisa di ajak berkompromi.


Took! Took!


"Tunggu sebentar ya bang!" pikir Hanum kala itu adalah ojek online. Dan membuka pintu.


Tak lama Hanum terkejut kala itu adalah Fawaz. Hanum sebenarnya tak mau menerima tamu, ia sudah berjanji pada Lisa. Tapi karna ini adalah pria yang baik. Hanum mempersilahkan.


"Kamu kesini?"


"Ga suruh aku duduk dulu nih?" goda Fawaz.


"Akh! iya silahkan, aku ga sempat kabarin. Aku tau diri kalau dokter itu pasti sibuk."


"Mangkanya aku kesini, karna kata mamaku, kamu di jemput sama Lisa. Ga ada tempat lain selain kesini kan?" ungkap Fawaz.


"Apa ini? Kamu bawa aku buah manggis. Makasih ya. Euuum, tau aja aku lagi pengin."


"Berarti dia ikatan batin sama aku, aku udah pinter belum jadi ayah sambungnya?"


Hal itu membuat Hanum tersipu, tapi aksi senyumannya dihentikan seseorang.


"Hentikan senyuman kalian!" Fawaz dan Hanum menoleh.


Alfa!! kamu kesini untuk apa? lirih Hanum sedikit gemetar.


"Menjemput istiriku lah! Fawaz, apa model sepupu baik itu seperti ini. Istri orang kau dekati?"


"Alfa! hentikan ocehanmu. Aku dan Fawaz sudah mengenal baik. Lagi pula aku udah putusin untuk menggugat kamu Alfa. Aku ga peduli apapun nantinya, mau kamu seret aku, sebagai pembunuh sekalipun. Aku siap, di banding aku harus terus sakit bersamamu!"


"Ga bisa, kamu akan aku pertahankan! jadi bilang dengan sepupu durjana ini untuk tidak bertemu kamu lagi! perintah dari suami sahmu Hanum!"


"Apa? kita hanya diatas kertas Alfa. Perjanjian itu kita udah sepakat?"


"Soal ini, aku sudah merobeknya. Aku batalkan perjanjian itu!" menaburkan surat perjanjian itu di depan Hanum dan Fawaz yang telah terpotong Halus.


Hanum mengambil beberapa potongan dan benar saja itu asli. Lalu ia menatap Fawaz dan menangis begitu saja. Kenapa semakin rumit, saat ia mencoba mengejar Alfa, agar bisa merubah Alfa. Dirinya seolah bagai wanita sampah. Tapi setelah ingin melepas, kenapa bagai jurang yang meluncur bak bukit menghampirinya.


Bagai disebuah wahana permainan, Hanum saat ini berada di puncak roller coaster yang menjulang turun dan naik.


"Gak! aku akan bercerai, aku sudah bulat Alfa!"


"Cukup! aku ingin bicara dengan Fawaz sebentar. Aku mohon Alfa!" sentag Hanum.


Hanum menghapus air matanya, ia menatap Alfa yang menjauh duduk di dalam rumah. Sementara Hanum dan Fawaz berhadapan bagai sebuah asmara yang tengahnya ada bambu runcing untuk memanah. Menghentikan siapa yang kuat bertahan, atau melepas dengan paksa.


"Haah, dia memang egoiskan? Aku harus bagaimana. Aku akan menyelesaikannya Fawaz. Maafkan aku, dan jangan tunggu aku Fawaz!" sedih Hanum terisak.


"Hanum. Jika Ar- rahmanku tak mengikatmu, biar yasinku yang menyapamu. Semoga bertemu dipertarungan doa yang di langitkan, kita bertemu dan bersama!"


"Apa ..,? Fawaz. Jika Ar- rahmanmu tak bisa mengikatku, kan ku ikat engkau dengan sepertiga malamku. Sampai bertemu di titik yang di pertemukan. Aku merasa pencipta tidak berpihak pada kita, kita salah Fawaz."


"Aku akan menunggumu Hanum! berjuanglah, tapi apapun itu, aku terima keputusanmu."


Alfa berdecak kesal dengan nafas tidak teratur, di samping pintu. Lalu ia berdiri di tengah tengah Hanum dan Fawaz yang kembali menatapnya. Tapi Alfa menatap tajam pada Fawaz.


"Hentikan! Cukup Fawaz. Jika jodohmu bukan Hanum. Sia sialah kamu meminta dan berdoa!"


Alfa memisahkan tatapan Hanum dan Fawaz. Memotong hati seorang pria yang sangat ia benci dan baru ia sadari. Sementara Hanum duduk lemas, saat Fawaz menunduk pamit pergi.


***


Berbeda dengan Lisa.


"Mas, sebenarnya, Eyang sakit apa?" tanya Lisa pada Heru sepupunya.


Mama Rita di bilik kamar, memeluk sang bunda. Menanyakan penderitaan ibunya yang telah lama di rumah sakit. Meski begitu berat, Rita memberitaukan, dan Lisa cucunya menyaksikan.


"Mas tak begitu tau detailnya, Eyang terlalu sayang hingga menyembunyikan. Tapi yang jelas ia menyembunyikan penyakitnya telah lama, hingga aku aja kini amat syok dan tak mau jika dokter berbicara jika beliau telah kronis." jelas Heru.


"Aku sedikit prihatin pada Eyang, mas, tapi...? Aku berharap mas dan semua tetap sabar. Percaya dan ikhlas, aku melihat wajah dan tubuh Eyang ..." terdiam Lisa.


"Ya Lisa, mas tau. Meski begitu, Mamamu juga tidak akan mau dan mengerti."


Heru pun menceritakan awal mula Eyang, dari sang papa Armand sakit. Ia begitu mengkhawatirkan kondisinya. Meski begitu, Heru saat itu tidak tau apa yang harus di lakukan.


Sehingga Lisa mendengarkan ketika mas Heru menceritakan kisah Eyang. Masih dalam mode menimang goyangkan ranjang kasur bayi Mahes dan Daren. Yakni anak dari mas Heru yang istrinya saat ini sedang sibuk bekerja, sementara mas Heru bekerja di rumah, masih bisa sambil menjaga kedua anaknya dan Eyang.


"Kamu tau Lisa, saat itu mas pikir Eyang sedang tertidur. Hingga sampai rumah sakit kala melihat papamu juga dirumah sakit tiba datang dan kami membawanya itu pun, aku di ceritakan oleh tante Rita. Maka dari itu, kami menyembunyikan dari kalian cucunya." jelas Heru.


Heru semakin sedih menatap sendu wajah Eyang. Ia menyangga peluk tubuh kedua anaknya, karna ia yang hampir hilang kendali, lemas tak berdaya duduk di kursi luar kamar.


Lisa baru menyadari, pantas saja mamanya selalu sibuk menjenguk Eyang. Hingga ia lupa bagaimana kondisi Hanum saat ini di rumah.


"Aduh! aku lupa, Hanum sendirian." panik Lisa.


"Emang ga dirumah suaminya?" tanya mas Heru menatap Lisa yang gugup.


To Be Continue!!


Author kejar bab nih, udah full crazy buat kalian. Lebih awal, karna Author ada kerjaan dunia real tiap kamis dan jumat. Tapi tidak melupakan kisah Hanum untuk kalian.


~ Happy Reading All ~


Semoga kalian menyukainya ya! Makasih atas dukungan untuk Hanum. See you episode lanjutannya ya.